Depok-Dunia industri di Indonesia dihadapkan pada tujuan keberlanjutan di masa datang untuk memenuhi tujuan Sustainable Development Goals (SDGs) ke-12, yaitu Responsible Consumption and Production. Untuk mencapai target tersebut, pemerintah mulai menggalakkan konsep circular economy di berbagai industri sejak beberapa tahun terakhir. Data akurat terkait laporan, tantangan, dan peluang terhadap dampak circular economy sangat diperlukan untuk mencapai pemenuhan target yang efisien.

Program Pendidikan Vokasi Universitas Indonesia (UI) melalui program studi (prodi) Akuntansi turut mengambil peran dalam mendukung pemerintah melakukan transformasi ekonomi ke arah yang lebih “hijau” atau sering disebut dengan ekonomi sirkular. Prodi Akuntansi Vokasi UI menyelenggarakan inbound lecture berjudul “Accounting in Circular Economy” yang dilaksanakan secara daring pada Jumat (10/06) lalu.

Hadir sebagai narasumber Prof. Benny Tjahjanto, Ph.D, yang merupakan Professor of Sustainability and Supply Chain Management sekaligus co-leader of the Sustainable Production and Consumption cluster at the Center for Business in Society (CBiS) di Coventry University, Inggris, dan dosen prodi Akuntansi Vokasi UI, Sandra Aulia Z., SE, Ak., M.S.Ak., CA, CPA, CICS, CRMP, CACP.

Benny mengatakan bahwa peningkatan carbon footprint atau jejak karbon di Indonesia memiliki dampak besar bagi lingkungan. “Peningkatan jejak karbon tersebut dipicu oleh residu dari berbagai produk industri yang tidak diolah kembali sehingga berdampak pada lingkungan sekitar. Penerapan circular economy menjadi salah satu strategi yang dapat digunakan oleh perusahaan untuk mengurangi angka jejak karbon di Indonesia,” kata Benny menjelaskan.

Circular economy merupakan suatu konsep alternatif dari linear economy (buat, gunakan, buang) menjadi produk yang dapat digunakan terus menerus. Sumber daya yang digunakan dapat dipakai selama mungkin dengan menggali nilai maksimum penggunaannya, kemudian dipulihkan dan diregenerasikan menjadi produk lainnya. Sehingga, keberadaan limbah sebisa mungkin dihilangkan karena konsep tersebut berupaya untuk menggunakan energi terbarukan.

(Foto: Diskusi antara narasumber dengan audiens terkait circular economy)

Beberapa model bisnis circular economy juga dapat dilakukan oleh perusahaan untuk pemenuhan target zero waste di masa mendatang. Model bisnis tersebut terdiri dari empat hal, yaitu 1) dematerialisasi; 2) produk/jasa sesuai permintaan; 3) pemulihan bahan sekunder/produk sampingan; 4) repair, refurbish, remanufacture, and recondition; serta 4) performance based (Pay per use) – Product Service Systems (PSS).

Benny menambahkan, “Circular economy bukan hanya konsep yang mengedepankan daur ulang, proses pengolahan limbah, pengurangan polusi dan jejak karbon, melainkan juga upaya dalam pencegahan limbah, efisiensi sumber daya, proses sirkular penggunaan dan penggunaan kembali, serta pemetaan aliran material dan proses pendukungnya.”

Untuk mengetahui jumlah data, proses, dan peluang dalam penerapan circular economy tersebut, perlu adanya peran akuntansi di dalamnya. Sandra menjelaskan bahwa asosiasi profesi akuntan di Indonesia memberikan dukungan penuh terhadap pencapaian target zero waste tersebut melalui strategi circular economy. “Pembuatan kebijakan mengenai pelaporan data berupa jumlah peluang, hambatan, dan keuntungan dari circular economy telah dilakukan pemerintah terhadap setiap perusahaan yang melakukan pengolahan produk,” ujar Sandra menjelaskan.

(Foto: Pemaparan oleh Sandra mengenai peran akuntan dalam membantu penerapan circular economy)

Peran akuntansi dalam circular economy ditunjukkan dengan riset dan analisis mengenai nilai hasil olahan produk hingga menjadi residu, serta pengolahannya kembali agar menjadi produk daur ulang dan tetap bernilai.

Direktur Program Pendidikan Vokasi UI, Padang Wicaksono, S.E., Ph.D, mengatakan bahwa edukasi mengenai konsep circular economy bagi masyarakat umum, khususnya mahasiswa, menjadi suatu hal penting yang perlu diketahui dan dipahami. “Konsep circular economy tersebut juga dapat diterapkan bagi mahasiswa yang saat ini sedang merintis usaha dengan cara menjaga sumber daya yang dapat digunakan selama mungkin, serta memulihkan dan meregenerasi produk secara terus menerus,” ungkap Padang.