Depok-Menjadi pengrajin anyaman bambu merupakan profesi turun temurun yang masih lestari hingga kini pada masyarakat Desa Sidetapa, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, Bali. Hasil kerajinan anyaman bambu ini kenal rapi, kokoh, dan menjadi sumber pendapatan utama warga setempat dengan produk yang beragam, mulai dari tempat pensil, tempat lampu, kursi, hingga interior rumah lainnya.

Sebagai salah satu komoditas ekspor internasional, terdapat beberapa kota lainnya di Indonesia yang terkenal dengan produk anyaman bambu, seperti Sukabumi, Tasikmalaya, Tangerang, Padang, Desa Sembaturagung (Kudus), dan Desa Gintangan (Banyuwangi). Untuk itu, diperlukan pemahaman mengenai branding dan digital marketing guna mendiferensiasi produk anyaman bambu satu daerah dengan daerah lainnya. Selain itu, pemahaman konsep ini juga akan berperan penting dalam memperluas cakupan penjualan.

(Foto: Hasil anyaman bambu warga Desa Sidetapa)

Melihat pentingnya hal tersebut, Program Pendidikan Vokasi Universitas Indonesia (UI) melaksanakan kegiatan pengabdian masyarakat (pengmas) bertajuk “Lokakarya Pemasaran Digital bagi UMKM Anyaman untuk Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat pada Masa Pandemi di Desa Sidatapa-Buleleng”, pada Selasa (23/08). Pada kegiatan tersebut, seluruh tim pengabdi berdiskusi dengan warga setempat terkait pengembangan branding untuk memasarkan produk anyaman bambu lebih luas lagi.

Salah satu tim pengabdi yang juga merupakan dosen program studi (prodi) Penyiaran Multimedia, Peny Meliaty Hutabarat, M.S.M., memberikan edukasi melalui pemaparannya yang berjudul “Digital Marketing untuk UMKM.” Dalam paparannya, ia menyampaikan, pentingnya memahami target pasar, mengenal jenis-jenis digital marketing, hingga perlunya menyelami tren media sosial agar konten pemasaran yang dihasilkan tetap up to date dan sesuai dengan target audiensnya.

(Foto: Peny ikut menganyam bambu untuk dijadikan produk kebutuhan rumah tangga)

Kepala Desa Sidetapa, Ketut Budiasa, S.Pd.SD, menyambut baik kegiatan pengmas tersebut. “Kami memang sangat membutuhkan pelatihan-pelatihan seperti ini untuk memaksimalkan komoditas anyaman bambu yang kami miliki agar semakin dikenal dan penjualannya meningkat. Semoga para warga dapat menyerap dan menerapkan ilmu yang disampaikan,” ujar Ketut.

Dalam meningkatkan angka penjualan, para pelaku usaha dituntut harus dapat beradaptasi dengan cepat pada setiap perubahan dan perkembangan komunikasi yang ada. Pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi pada ragam platform komunikasi digital, seperti website, e-commerce, hingga media sosial, sangat penting untuk mengenalkan dan memasarkan produk.

“Kemajuan teknologi ini juga idealnya diiringi dengan kecakapan dalam menggunakan platform tersebut, seperti memproduksi konten, membuat narasi, hingga mengedit. Semakin besar cakupan pemasarannya, semakin dikenal brand-nya, semakin luas pula jangkauan penjualannya, dan secara tidak langsung akan meningkatkan kesejahteraan warga setempat,” kata Melisa Bunga Altamira, M.Si, selaku Ketua Tim Pengmas Vokasi UI.

Pada pelaksanaanya, pengmas ini didukung oleh program hibah pengabdian masyarakat (pengmas) dari Direktorat Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat UI. Tim pengmas Vokasi UI terdiri dari beberapa anggota lainnya, yaitu Dr. Rahmi Setiawati, M.Si.; Arius Krypton Onarelly, M.Si.; serta dua mahasiswa, yaitu Ayda Prasasti Paraningratu dan Gilang Satria Kemara.

(Foto: Produk anyaman bambu yang dapat dijadikan berbagai kebutuhan rumah tangga)

Direktur Program Pendidikan Vokasi UI, Padang Wicaksono, S.E, Ph.D, turut memberikan apresiasinya pada kegiatan pengmas yang telah dilakukan. “Kita semua tahu bahwa Indonesia, khususnya Bali, memiliki ragam seni dan budaya yang perlu untuk dikenalkan ke mancanegara. Membanggakan sekali, keindahan anyaman bambu dari Desa Sidetapa dapat diakui hingga ranah internasional. Semoga wawasan yang diberikan oleh tim pengabdi dapat menjadi bukti nyata kontribusi Vokasi UI pada pengembangan komoditas lokal,” ujar Padang.