Depok-Di Indonesia, 1 dari 3 anak mengalami stunting pada 2021, dan khusus di Kepulauan Seribu sebanyak 27,1% anak dideteksi stunting. Berdasarkan pemeriksaan z score yang dilakukan oleh Tim Pengabdian Masyarakat (pengmas) dari Program Pendidikan Vokasi Universitas Indonesia (UI) terdapat 3 dari 13 anak di Tanjong Timur, Pulau Panggang, Kepulauan Seribu, menderita stunting, dan umumnya ditemukan pada anak yang belum melakukan kebiasaan cuci tangan dengan sabun secara rutin dan pernah terkena diare.

Pengmas ini memberikan penyuluhan dan pelatihan bagi petugas kesehatan dan warga setempat tentang pengetahuan dasar deteksi dini kejadian stunting pada anak-anak balita di Pulau Panggang. Jika seorang anak mengalami stunting, maka hal ini juga akan memengaruhi prestasi akademiknya karena terjadi gangguan pada perkembangan otak, motorik, dan organ-organ vital lainnya. Menurut World Health Organization (WHO), stunting bisa ditandai dari ciri-ciri fisik, seperti tinggi anak di bawah standar pertumbuhan anak normal disertai adanya gangguan dan terhambatnya perkembangan pada organ-organ lain.

(Foto: Triana mengedukasi warga Pulau Panggang mengenai stunting)

Stunting merupakan masalah kekurangan gizi kronis yang disebabkan oleh kebiasaan makan dan sanitasi yang buruk. Salah satu cara mencegah dan menanggulanginya adalah deteksi dini pada 1.000 hari awal kehidupan, memperbaiki asupan gizi anak, serta mengajarkan kebiasaan hidup bersih dan sehat pada anak, khususnya mencuci tangan dengan sabun,” ujar Triana Karnadipa, S.Ft., Physio., M.Sc., ketua Tim Pengabdian Masyarakat (pengmas) program studi Fisioterapi, Program Pendidikan Vokasi, Universitas Indonesia (UI) yang melakukan penyuluhan di Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) Tanjong Timur, Pulau Panggang, Kepulauan Seribu, pada Jumat (19/08).

Tim pengmas ini memberikan pemeriksaan status gizi gratis pada anak usia di bawah lima tahun, serta edukasi kepada orang tua mengenai tindakan pencegahan stunting. Pemeriksaan tersebut terdiri dari pengukuran berat badan, tinggi badan, IMT, dan penghitungan z score. Tindak lanjut yang diberikan berupa edukasi 6 langkah cuci tangan dengan sabun selama 60 detik dan waktu yang tepat untuk mencuci tangan pada orang tua dan anak.

Lebih lanjut ia menjelaskan, para petugas kesehatan dan orang tua juga dilatih menghitung z score untuk mengetahui status gizi anak dan tren pertumbuhan buah hati mereka. Sehingga, mereka dapat mendeteksi kejadian stunting pada anak secara mandiri dan dapat mengambil tindakan penanganan perbaikan gizi dan kesehatan anak sedini mungkin.

(Foto: Praktik cuci tangan yang dilakukan anak-anak Pulau Panggang untuk mencegah stunting)

Kegiatan lainnya dalam pengmas ini adalah gerakan mencuci tangan memakai sabun secara efektif yang merupakan salah satu perilaku hidup bersih dan sehat. Tim pengabdi juga memberikan pelatihan tersebut kepada petugas kesehatan dan para ibu di Pulau Panggang agar dapat mengajarkan anak-anak mereka untuk selalu bergaya hidup bersih dan sehat, sehingga stunting dapat dicegah dan tumbuh kembang anak menjadi optimal.

“Kegiatan seperti ini sangat membantu para ibu rumah tangga yang minim pengetahuan mengenai kesehatan dan sanitasi. Informasi yang diberikan dapat membimbing masyarakat agar lebih awas dan paham cara mencegah stunting pada anak,” kata Sakinah, salah satu peserta penyuluhan dan petugas kesehatan di Pulau Panggang.