Depok-Bali selalu memiliki pesonanya, mulai dari daya tarik pariwisata, budaya, hingga kesenian. Salah satu desa yang memiliki daya tarik di bidang pariwisata adalah Desa Kenderan. Desa tersebut merupakan desa tua yang terletak di Kabupaten Gianyar, Bali dengan potensi wisata yang memikat dan dapat dikembangkan. Oleh karena potensi tersebut, pada 2021, Desa Kenderan mendapatkan Anugerah Desa Wisata Indonesia dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia.

Untuk lebih mengangkat potensi wisata Desa Kenderan, para dosen Program Pendidikan Vokasi, Universitas Indonesia (UI), yaitu Hadining Kusumastuti, S.Sos., M.Ak.; Dr. Diaz Pranita, M.M.; dan Mila Viendyasari, S.Sos., M.Si., ikut menginisiasi diselenggarakannya Kenderan Living Culture Festival di Desa Kenderan, Gianyar, Bali, pada 9–11 Desember 2022 lalu. Festival perdana Desa Kenderan ini bertujuan mengangkat tradisi adiluhung, seperti Mekukung, Ngaturang Tirta Ening, dan Mepeed, serta mengenalkan kepada dunia keunikan Desa Kenderan berupa situs arkelogi Batu Pencetak Nekara dan Sarkofagus, sebelas beji, serta tiga puri.

(Foto: Pembukaan acara Kenderan Living Culture Festival di Desa Kenderan)

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI, Sandiaga Salahuddin Uno, mengapresiasi upaya yang dilakukan Desa Kenderan. Ia mengatakan bahwa Indonesia boleh berbangga karena memiliki sebuah desa yang tidak hanya indah, tetapi juga memiliki masyarakat yang berkomitmen untuk menjaga kelestarian lingkungan dengan menerapkan ekonomi sirkular berbasis ekonomi hijau. “Semoga program seperti ini dapat diadopsi oleh desa lainnya di seluruh Indonesia, sehingga green circular economy di Indonesia semakin cepat berkembang,” kata Sandi.

Kenderan Living Culture Festival dibuka secara resmi oleh Bupati Gianyar, I Made Mahayastra, di Jaba Pura Griya Sakti Manuaba, Desa Kenderan. Dalam sambutan pembukanya, Mahayastra menyebutkan bahwa dampak pandemi Covid-19 dirasakan sektor pariwisata, pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM), dan ekonomi kreatif.

(Foto: Penampilan tarian saat pembukaan acara Kenderan Living Culture Festival)

“Kegiatan Kenderan Living Culture Festival diharapkan dapat menjadi momen bagi pelaku UMKM dan pariwisata untuk bangkit dan menciptakan dampak yang signifikan. Bersyukur kita bisa hidup dengan normal dan menjalankan aktivitas yang mesti dilakukan sebagai daerah pariwisata. Apalagi Desa Kenderan merupakan 1 dari 10 desa wisata terbaik di Indonesia,” kata Mahayastra.

Tim peneliti Vokasi UI memilih tema promosi pariwisata “The Village of Holly Water–Wellness Tourism Destination and Circular Green Economy Oriented”. Menurut Hadining, dengan diselenggarakannya festival ini diharapkan menjadi langkah awal mewujudkan cita-cita Desa Kenderan menjadi desa yang berorientasi pada sirkular ekonomi yang ramah lingkungan. Ia yakin dengan kemauan dan tekad yang kuat dari seluruh stakeholders, Desa Wisata Berkelanjutan berbasis Ekonomi Sirkular dapat terwujud.

(Foto: Suasana Kenderan Living Culture Festival di Desa Kenderan)

Selain itu, Desa Kenderan sebagai desa wisata yang memanfaatkan ekonomi sirkular berpotensi untuk menjadi desa wisata pintar berkelanjutan berbasis digital. Konsep ini berfokus pada cara entitas bisnis menerapkan prinsip produksi berkelanjutan dalam rantai nilai pariwisata guna menciptakan pengalaman wisata bersama wisatawan dan terintegrasi dalam sistem pariwisata yang mendukung kelestarian lingkungan.

Menurut tim peneliti Vokasi UI, konsep ekonomi sirkular diharapkan menjadi keunikan Desa Kenderan sekaligus menyelesaikan berbagai permasalahan sampah dari rumah tangga, pertanian, hasil industri kerajinan kayu, serta sampah dari sisa kegiatan upacara agama atau adat. Dengan komitmen berbagai pihak, energi hijau dapat diterapkan di desa tersebut melalui pemberdayaan sumber energi lokal yang ramah lingkungan.