Depok – Tim Pengabdian Masyarakat (Pengmas) Program Pendidikan Vokasi Universitas Indonesia (UI) yang terdiri dari 4 orang Dosen dan 30 mahasiswa Vokasi UI menggelar Pelatihan skill Fisioterapi dan Okupasi Terapi bagi para guru pendidik anak-anak berkebutuhan khusus di SLB Nusantara Kota Depok Jawa Barat pada Sabtu – Minggu (14-15/9). Para tim Pengmas ini memberikan pelatihan kemampuan dalam mendidik anak-anak berkebutuhan khusus berbasis fisioterapi dan okupasi terapi terkait kemandirian seperti skill memindahkan dari tempat tidur ke kursi roda, skill dalam beraktifitas sehari-hari seperti toileting, mandi, makan memakai baju. Kegiatan ini sendiri melibatkan 70 murid, 15 orang guru dan pengasuh dengan pendamping dokter.

Dalam pelaksanaannya, tim Pengmas Vokasi UI juga menggandeng Psikolog dari Fakultas Psikologi UI yang memberikan pemahaman tentang aspek psikologis yang perlu diperhatikan dari sisi orang tua, guru, masyarakat dan anak-anak disabilitas dan dokter THT. Selain itu, tim Pengmas juga menggandeng Akademi Terapi Wicara Jakarta dan Surakarta untuk memberikan screening dan terapi wicara bagi anak-anak disabilitas yang mengalami gangguan makan, menelan dan wicara lainnya.

Ketua Tim Pengabdi yang juga Dosen Program Studi Fisioterapi Aditya Denny menuturkan, “kemampuan ajar dalam bidang Fisioterapi dan Okupasi terapi sangat penting untuk dimiliki guru SLB mengingat anak-anak disabilitas memerlukan perhatian khusus baik dalam permasalahan kesehatan, kemandirian beraktifitas dan masalah psikososial. Banyak aspek yang harus diperhatikan dalam mendidik anak berkebutuhan khusus, maka kami melibatkan dokter, terapi wicara, psikolog serta kelompok mahasiswa dengan melakukan pemeriksaan gangguan fisik, tumbuh kembang dan keluhan kesehatan anak.”

SLB Nusantara yang menjadi penerima manfaat program ini telah berdiri sejak 1989 dengan 120 orang murid dari jenjang sekolah dasar sampai sekolah menengah atas ini memiliki jenis disabilitas antara lain tuna rungu, tuna grahita, tuna wicara, tuna netra, down syndrome, autism, cerebral palsy dan keterbelakangan mental.

Denny menjelaskan pada acara yang berlangsung selama dua hari tersebut cukup memberikan kesan mendalam dan menyenangkan bagi warga sekolah karena anak-anak didampingi bermain oleh para mahasiswa dan diberi kesempatan untuk unjuk kebolehan seperti senam, marawis, bermain band, menyanyi dan aktifitas hiburan lainnya. “Kesempatan ini sangat penting untuk membangun rasapercaya diri mereka. Untuk kita, penampilan seperti ini seperti hal biasa, namun bagi mereka ini adalah bagian dari terapi yang baik untuk tumbuh kembangnya” tambah Denny.

Kepala Sekolah Bapak Sujono menuturkan bahwa acara semacam ini dapat memberi kesan positif yang mendalam bagi anak-anak. “Acara ini akan sangat diingat oleh anak-anak, akan tertanam kesan positif mendalam yang akan meningkatkan semangat dalam belajar dan aktifitas lainnya di sekolah”, imbuhnya.

Setelah pelatihan selesai, program akan dilanjutkan dengan beberapa aksi lainnya yaitu rekomendasi pemeriksaan kesehatan ke puskesmas dan rumah sakit, pemberian alat bantu kemandirian dan pelatihan intensif terstruktur bagi para guru dengan pendampingan teknis selama satu bulan melalui program rehabilitasi bersumberdaya masyarakat (RBM) oleh mahasiswa. Anak-anak itu adalah aset bangsa dan akan tumbuh menjadi orang dewasa sehingga harus mampu mandiri, sebisa mungkin kita persiapkan mereka sejak dini dalam batas kemampuan maksimal untuk berkembang sehingga mampu mandiri dan produktif” terang Denny.