Depok-Kuliah umum Vocast Talks yang diselenggarakan oleh Sinephoria, salah satu kelompok mahasiswa program studi (prodi) Penyiaran Multimedia, Program Pendidikan Vokasi, Universitas Indonesia (UI), menghadirkan sesi inspiratif bagi mahasiswa. Kuliah umum kali ini menghadirkan editor film profesional, Cesa David Luckmansyah, pada Selasa (11/11/2025) di Auditorium Vokasi UI. Beberapa karya film yang digarapnya, antara lain Keramat 2: Caruban Larang (2022), Losmen Bu Broto (2021), Ayat-Ayat Cinta 2 (2017), Catatan Akhir Sekolah (2005), dan lainnya.
Kuliah umum ini menghadirkan pembahasan mendalam mengenai proses penyuntingan yang meliputi teknis memotong gambar sekaligus seni membangun cerita, emosi, dan ritme visual yang hidup. Cesa mengawali pemaparannya dengan menekankan pentingnya cerita sebagai fondasi sebuah karya audio visual. “Kunci dari pembuatan karya apa pun adalah cerita. Tanpa cerita, film tidak akan hidup dan tidak dapat berkomunikasi,” ujarnya. Menurunya, editor harus mampu membaca emosi, memahami peristiwa, dan memilih momen terbaik dari setiap frame.
(Foto: Cesa menjelaskan bahwa cerita berperan sebagai fondasi dalam sebuah karya audio visual)
Cesa juga menegaskan bahwa proses pemilih, menata, dan mengolah potongan gambar serupa dengan memasak atau mendesain busana, yakni mengolah bahan menjadi rasa dan ritme yang menyentuh penonton. Tiga fondasi utama penyuntingan, menurutnya, berupa emosi untuk membentuk rasa yang sesuai kebutuhan cerita; cerita untuk memastikan alur yang logis dan informasi tersampaikan dengan baik; serta ritme yang menentukan aliran film dan bagaimana penonton ikut larut dalam narasi.
Tak hanya itu, Cesa juga menekankan pentingnya continuity dan kedekatan hubungan antara editor dengan sutradara. Cesa mengatakan, “Kita harus saling berbagi ide, pengalaman, referensi, bahkan suasana hati. Dari sana muncul rasa yang membentuk gaya film. Ketika editor salah memotong adegan, cerita dan rasa yang telah dibangun bisa hilang. Sehingga, perlu adanya ketelitian dan ketepatan dalam menyerap pesan dari film tersebut.”
Beberapa hal yang perlu dilakukan oleh editor sebelum menyunting adalah memahami cerita dan pesan yang ingin disampaikan melalui riset, observasi, dan mencari referensi. Tak kalah penting, editor juga harus paham situasi sosial dan tren yang sedang berkembang. Misalnya, menonton film-film terbaru serta aktif mengeksplorasi media sosial.
(Foto: Foto bersama usai kegiatan Vocast Talks berakhir)
Cesa menjelaskan bahwa film merupakan recreation of life, yaitu setiap elemen seperti musik, pencahayaan, cutting, dan lainnya berfungsi untuk membangun memori dan rasa penonton secara halus. “Film adalah kehidupan yang dibatasi dan dibuat lebih dramatis, dalam, dan emosional,” tutup Cesa.
Teresia, salah satu mahasiswa yang mengikuti kuliah umum tersebut, mengungkapkan kesannya setelah mendapatkan pemahaman mengenai dunia film. Teresia mengatakan, “Pemaparan Mas Cesa menunjukkan bahwa editing merupakan proses merasakan sebuah pesan dari film, bukan sekadar memotong gambar. Semoga ilmu yang telah diberikan kepada kami dapat diimplementasikan ke dalam karya-karya yang kami miliki.”
Ketua Program Studi Penyiaran Multimedia, Peny Meliaty Hutabarat, S.Sos., M.S.M., mengatakan bahwa kuliah umum kali mengajak para mahasiswa memahami bahwa editing merupakan sebuah seni bercerita yang menyatukan logika dan emosi. “Kami menghadirkan praktisi industri agar mahasiswa dapat belajar langsung dari mereka. Penyuntingan merupakan proses kreatif yang melatih kepekaan, ketelitian, dan kemampuan bercerita. Semoga melalui Vocast Talks ini dapat menjadi ruang penting bagi mahasiswa untuk memahami dunia industri perfilman dan menumbuhkan keberanian bereksperimen dalam karya mereka,” tutup Peny.




