Depok-Proses rehabilitasi anak dengan cerebral palsy (CP) tidak hanya berlangsung di fasilitas kesehatan. Berbagai aktivitas sederhana yang dilakukan sehari-hari di rumah juga dapat menjadi bagian penting dalam mendukung proses rehabilitasi anak. Karena itu, orang tua maupun caregiver perlu memiliki pengetahuan dan keterampilan yang tepat agar dapat memberikan pendampingan secara aman dan berkelanjutan. Sebagai upaya memperkuat peran keluarga dalam proses rehabilitasi, mahasiswa program studi (prodi) Fisioterapi, Sekolah Vokasi, Universitas Indonesia (UI), melaksanakan Program Kepedulian kepada Masyarakat (Kepmas) bertajuk “Peningkatan Kemampuan Pengasuhan Orang Tua melalui Pemanfaatan Fasilitas Rehabilitasi Berbasis Masyarakat pada Anak Berkebutuhan Khusus”.
Program yang bekerja sama dengan Rumah Cerebral Palsy (RCP) Jakarta Selatan tersebut didukung melalui pendanaan Hibah Program Kepedulian kepada Masyarakat dan Inovasi Sosial UI Tahun 2026 dari Direktorat Pengabdian dan Inovasi Sosial (DPIS) Universitas Indonesia. Kegiatan yang didampingi oleh Dr. Aditya Denny Pratama, S.St.Ft., M.Fis., AIFO. tersebut melibatkan sebanyak 50 orang tua/pengasuh dan anak sebagai penerima manfaat. Rangkaian kegiatan diawali melalui webinar bertajuk “Optimalisasi Peran Orang Tua dalam Mendampingi Anak dengan Cerebral Palsy melalui Edukasi dan Pendampingan” pada 7 Agustus 2026.
Webinar menghadirkan Dr. Aditya Denny Pratama, S.St.Ft., M.Fis., AIFO.; Faizah Abdullah, S.St., S.Ft., M.Biomed.; dan Pipin Suparmi, M.K.M. sebagai narasumber yang memberikan pemahaman kepada peserta mengenai pentingnya keterlibatan keluarga dalam mendukung proses rehabilitasi anak dengan CP. Kegiatan kemudian dilanjutkan secara luring pada Sabtu (15/08/2026), di Sekolah Vokasi UI. Melalui sesi penyuluhan, demonstrasi, praktik langsung, dan diskusi, para peserta memperoleh edukasi mengenai pengasuhan adaptif, teknik handling dan positioning, serta parent training dalam mendampingi anak melakukan Activities of Daily Living (ADL).
(Foto: Salah satu aktivitas lainnya pada program pengmas tersebut adalah pengecekan kesehatan dasar bebas biaya)
Pembekalan tersebut diharapkan membantu orang tua menerapkan teknik pendampingan yang tepat di lingkungan rumah sekaligus mendorong kemandirian anak dalam menjalankan aktivitas sehari-hari. Denny mengatakan bahwa keterlibatan keluarga merupakan bagian penting dalam mendukung keberlanjutan proses rehabilitasi sehingga, pendampingan anak dapat berlangsung secara berkesinambungan dan tidak berhenti ketika anak meninggalkan fasilitas pelayanan kesehatan.
“Kami ingin orang tua tidak hanya memahami apa yang perlu dilakukan, tetapi juga memiliki keterampilan dan kepercayaan diri untuk mendampingi anak dalam aktivitas sehari-hari. Rumah dapat menjadi lingkungan yang sangat bermakna bagi proses rehabilitasi ketika keluarga dibekali pengetahuan mengenai cara mendampingi anak secara aman, tepat, dan sesuai kebutuhannya,” ujar Denny.
Melalui pendekatan Rehabilitasi Berbasis Masyarakat (RBM), orang tua ditempatkan sebagai bagian aktif dalam proses rehabilitasi anak. Program ini juga memberikan perhatian terhadap kondisi kesehatan orang tua sebagai caregiver. Peserta mengikuti skrining tekanan darah dan mengisi Instrumen Survei Gangguan Otot-Rangka sebagai upaya meningkatkan kesadaran terhadap kondisi fisik mereka selama menjalankan aktivitas pengasuhan.
(Foto: Para mahasiswa turut memberikan edukasi terkait RBM kepada orang tua)
Salah seorang orang tua peserta, Mama Baim, mengaku mendapatkan pengetahuan baru yang tidak hanya bermanfaat dalam mendampingi anak, tetapi juga dalam menjaga kondisi tubuhnya sendiri selama menjalankan peran sebagai caregiver. “Dengan adanya kegiatan ini saya mendapat insight baru mengenai bagaimana penanganan anak CP di rumah dan bagaimana kami sebagai orang tua menjaga postur tubuh selama menjadi caregiver anak CP,” ujarnya.
Selain edukasi dan praktik langsung, para dosen dan mahasiswa juga menghasilkan buku saku pengasuhan adaptif sebagai media edukasi yang dapat digunakan kembali oleh keluarga maupun komunitas. Kehadiran buku saku tersebut diharapkan dapat membantu peserta mengingat dan menerapkan kembali materi pendampingan dalam kehidupan sehari-hari.
Program ini turut mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 (Good Health and Well-Being), melalui peningkatan pengetahuan dan keterampilan keluarga dalam mendukung kesehatan, rehabilitasi, dan kualitas hidup anak serta caregiver. Program ini juga relevan dengan SDG 10 (Reduced Inequalities) karena mendorong terciptanya lingkungan yang lebih inklusif serta memperkuat dukungan bagi anak berkebutuhan khusus agar dapat memperoleh kesempatan yang lebih baik untuk berkembang dan berpartisipasi dalam kehidupan sehari-hari.
Melalui penguatan kapasitas orang tua dan keluarga, rehabilitasi anak dengan CP diharapkan tidak hanya bergantung pada layanan yang diberikan di fasilitas kesehatan. Rumah dan lingkungan keluarga dapat menjadi ruang yang turut mendukung proses rehabilitasi secara konsisten, sekaligus menciptakan pengasuhan yang lebih aman, adaptif, dan berorientasi pada kemandirian anak. Upaya ini sejalan dengan nilai KITA Sekolah Vokasi UI, khususnya dalam mendorong sikap Kompeten, Integritas, Transformatif, dan Adaptif melalui penguatan pengetahuan dan keterampilan keluarga dalam mendampingi tumbuh kembang serta kemandirian anak.




