Depok-Penyelenggaraan event berskala besar atau mass gathering menjadi salah satu aktivitas yang memiliki tingkat kompleksitas tinggi karena melibatkan pengelolaan kerumunan, keamanan, kesehatan, hingga berbagai faktor eksternal yang berpotensi memengaruhi jalannya acara. Untuk membekali mahasiswa dengan pemahaman mengenai pentingnya manajemen risiko dalam industri event berskala besar, program studi (prodi) Manajemen Bisnis Pariwisata, Program Pendidikan Vokasi, Universitas Indonesia (UI), menyelenggarakan kuliah dosen tamu bertajuk “Event Risk Management in Mass Gathering: From Planning to Crisis Response” sebagai bagian dari mata kuliah Manajemen Risiko secara daring pada Rabu (13/05/2026).
Kuliah dosen tamu ini menghadirkan Dr. Khairiah Binti Hj. Ismail, Programme Director Bachelor of International Events Management (Hons.) Taylor’s University, Malaysia, sebagai narasumber. Kuliah dosen tamu tersebut diperuntukkan bagi mahasiswa angkatan 2024 sebagai bagian dari pembelajaran mengenai pengelolaan risiko dalam penyelenggaraan event.
Dalam pemaparannya, Dr. Khairiah menjelaskan bahwa mass gathering merupakan kegiatan dengan lingkungan berisiko tinggi (high-risk environment) karena ditandai dengan kepadatan massa, situasi yang dinamis, serta kondisi yang tidak dapat diprediksi. Oleh karena itu, penyelenggara acara perlu memahami berbagai potensi risiko yang dapat muncul selama pelaksanaan kegiatan.
(Foto: Dr. Khairiah memberikan studi kasus penyelenggaraan event berskala besar)
Dr. Khairiah mengatakan, “Risiko dalam sebuah event dapat berasal dari berbagai faktor, mulai dari overcrowding, potensi stampede, cuaca ekstrem, kegagalan teknis, hingga ancaman terhadap kesehatan dan keselamatan peserta. Semua risiko tersebut harus diidentifikasi dan dikelola sejak tahap perencanaan.”
Lebih lanjut, Khairiah menekankan pentingnya proses identifikasi dan analisis risiko sebelum suatu acara dilaksanakan. Menurutnya, penyelenggara perlu melakukan pemetaan risiko secara sistematis melalui penggunaan risk matrix, evaluasi kapasitas venue, pengaturan akses masuk dan keluar, serta penerapan sistem pemantauan kerumunan guna meminimalkan potensi insiden selama kegiatan berlangsung.
Ia juga menyoroti bahwa banyak insiden dalam penyelenggaraan event disebabkan oleh perencanaan akses yang kurang matang, kapasitas lokasi yang tidak sesuai, maupun lemahnya pengawasan terhadap pergerakan massa. Maka, aspek keselamatan harus menjadi bagian integral dari setiap tahapan perencanaan event.
Selain membahas strategi mitigasi risiko pada tahap perencanaan, Khairiah turut mengulas pentingnya penyusunan contingency plan serta kemampuan respons krisis. Menurutnya, setiap penyelenggara acara harus memiliki prosedur tanggap darurat yang jelas agar mampu mengambil keputusan secara cepat, tepat, dan terkoordinasi ketika menghadapi situasi yang tidak terduga. “Perencanaan yang baik bukan hanya tentang bagaimana sebuah acara berjalan lancar, tetapi juga bagaimana tim penyelenggara siap menghadapi berbagai kemungkinan yang dapat terjadi selama acara berlangsung,” tambahnya.
(Foto: Foto bersama dengan para mahasiswa usai kuliah berakhir)
Pada sesi diskusi, mahasiswa juga diperkenalkan pada pentingnya evaluasi pasca-event sebagai bagian dari siklus manajemen risiko. Evaluasi tersebut berfungsi untuk mengidentifikasi kelemahan dalam pelaksanaan acara, meningkatkan sistem keamanan, serta menjadi bahan pembelajaran untuk penyelenggaraan event di masa mendatang.
Ketua Program Studi Manajemen Bisnis Pariwisata, Anisatul Auliya, S.ST.Par., M.Par., menyampaikan bahwa kompetensi manajemen risiko menjadi salah satu keterampilan penting yang harus dimiliki oleh calon profesional di industri event dan pariwisata. Menurutnya, industri saat ini tidak hanya membutuhkan konsep acara yang kreatif dan inovatif, tetapi juga penyelenggaraan yang aman, nyaman, dan bertanggung jawab.
“Mahasiswa perlu memahami bahwa penyelenggaraan event memiliki tanggung jawab besar terhadap keselamatan peserta dan keberlangsungan acara. Melalui materi yang disampaikan, yaitu risiko, pengelolaan kerumunan, hingga penanganan krisis, mahasiswa dapat memahami bagaimana standar keamanan dan manajemen risiko diterapkan dalam praktik industri,” ungkap Auliya.
Kuliah dengan menghadirkan pakar internasional ini diharapkan dapat menghadirkan pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan industri serta memperluas wawasan mahasiswa melalui kolaborasi dengan akademisi dan praktisi internasional.



