Depok-Berawal dari pengalaman mengikuti kegiatan volunteering trip, Wika Riri, mahasiswa program studi (prodi) Hubungan Masyarakat, Program Pendidikan Vokasi, Universitas Indonesia (UI) terinspirasi menghadirkan sebuah inovasi digital di bidang pariwisata dan budaya. Di balik keindahan destinasi wisata yang ia kunjungi, Wika melihat masih banyak potensi budaya daerah yang belum mendapatkan ruang promosi optimal di era digital. Keresahan tersebut kemudian melahirkan “Swaranusa”, sebuah gagasan platform digital yang mengantarkannya meraih Gold Medal pada ajang Festival Esai Mahasiswa Indonesia 2026 bidang Pariwisata dan Budaya.

Kompetisi yang diselenggarakan oleh Inteleksa bersama Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Wisnuwardhana Malang, berlangsung pada 8–11 Mei 2026 di Universitas Wisnuwardhana Malang. Dalam ajang nasional ini, peserta ditantang menghadirkan gagasan inovatif terkait pembangunan nasional yang inklusif dan berkelanjutan melalui berbagai subtema, salah satunya pariwisata dan budaya.

Berbeda dari sebagian besar peserta yang fokus pada promosi wisata konvensional, Wika memilih pendekatan yang lebih dekat dengan realitas lapangan. Ia menilai bahwa tren wisata saat ini masih berorientasi pada pengalaman visual dan kebutuhan konten media sosial. “Banyak wisatawan datang untuk menikmati panorama dan berfoto, namun belum benar-benar memahami nilai budaya, sejarah, maupun filosofi yang hidup di balik sebuah destinasi. Di sisi lain, pelaku UMKM budaya, tour guide lokal, hingga kreator dokumenter daerah sebenarnya memiliki potensi besar untuk memperkenalkan identitas budaya Indonesia, tetapi belum terhubung dalam satu ekosistem digital yang terintegrasi,” ungkapnya.

(Foto: Wika berhasil menyabet Gold Medal pada ajang Festival Esai Mahasiswa Indonesia 2026 bidang Pariwisata dan Budaya)

Berangkat dari pengamatan tersebut, Wika menggagas Swaranusa, sebuah platform digital yang menghubungkan wisatawan, konten kreator, pemandu wisata lokal, pelaku UMKM budaya, hingga pembuat film dokumenter daerah dalam satu ruang kolaboratif. Melalui platform ini, wisatawan akan memperoleh informasi destinasi wisata sekaligus menikmati konten budaya, cerita rakyat, dokumentasi visual, hingga narasi sejarah yang memperlihatkan identitas autentik suatu daerah.

Menurut Wika, perkembangan media digital seharusnya tidak hanya dimanfaatkan sebagai sarana promosi wisata, tetapi juga sebagai ruang pelestarian budaya dan pemberdayaan masyarakat lokal. Ia ingin menghadirkan pengalaman wisata yang lebih bermakna sehingga, wisatawan turut memahami nilai budaya yang dimiliki setiap daerah di Indonesia.

Gagasan Swaranusa juga sejalan dengan tujuan pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 8 (Decent Work and Economic Growth) melalui pemberdayaan UMKM budaya dan ekonomi kreatif lokal, SDG 11 (Sustainable Cities and Communities) melalui upaya pelestarian warisan budaya daerah, serta SDG 9 (Industry, Innovation, and Infrastructure) lewat pemanfaatan teknologi digital untuk pengembangan sektor pariwisata dan budaya yang inklusif. Selain itu, konsep ini turut mendukung penguatan identitas budaya nasional di tengah perkembangan era digital dan arus globalisasi.

(Foto: Wika Riri, mahasiswa prodi Hubungan Masyarakat)

Dalam proses penyusunan esai, Wika mengembangkan gagasannya menggunakan pendekatan observasi yang berangkat dari pengalaman pribadinya saat melakukan perjalanan sosial dan jelajah wilayah. Pengalaman tersebut kemudian dipadukan dengan berbagai riset mengenai pariwisata digital, media visual, hingga strategi komunikasi budaya. Sebagai mahasiswa Humas, Wika menilai strategi komunikasi memiliki peran penting dalam membangun citra pariwisata Indonesia yang lebih kuat dan berkelanjutan. “Promosi wisata saat ini tidak cukup hanya menampilkan keindahan visual, tetapi juga membutuhkan storytelling, pendekatan emosional, dan komunikasi yang mampu membangun kedekatan dengan audiens,” ujar Wika.

Ia juga mengungkapkan bahwa sejumlah mata kuliah yang dipelajarinya, seperti Penulisan Naskah Humas, Komunikasi Antarbudaya, Analisis Riset, hingga Penyusunan Program Komunikasi, turut membantu dalam menyusun konsep, melakukan riset, dan mengembangkan ide Swaranusa secara lebih komprehensif.

Direktur Program Pendidikan Vokasi Universitas Indonesia, Dr. Safrin Arifin, SKM., S.St., M.Sc., mengapresiasi pencapaian yang diraih Wika. Menurutnya, prestasi tersebut menunjukkan bahwa mahasiswa vokasi juga memiliki kepekaan terhadap isu sosial, budaya, dan kebutuhan masyarakat. Safrin mengatakan, “Prestasi ini menunjukkan bahwa mahasiswa vokasi mampu menghadirkan gagasan yang lahir dari kepekaan terhadap lingkungan sekitar dan mampu menghubungkan ilmu komunikasi dengan kebutuhan masyarakat saat ini. Ide Swaranusa menjadi contoh bagaimana strategi komunikasi dan media digital dapat dimanfaatkan untuk memperkuat pariwisata, budaya, sekaligus pemberdayaan masyarakat lokal secara berkelanjutan.”

Melalui pencapaian ini, Wika berharap semakin banyak generasi muda yang aktif terlibat dalam memperkenalkan, melestarikan, dan menjaga identitas daerah melalui kreativitas, media digital, serta inovasi komunikasi yang berdampak bagi masyarakat luas.