Depok-Perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) membawa perubahan besar dalam dunia media dan jurnalistik. AI kini tidak hanya digunakan untuk membantu produksi berita, tetapi juga mendukung proses riset, fact-checking, analisis data, hingga memahami pola konsumsi informasi masyarakat yang semakin dinamis. Di tengah transformasi tersebut, kemampuan memahami teknologi sekaligus menjaga nilai-nilai kemanusiaan menjadi bekal penting bagi jurnalis masa kini.
Menjawab tantangan tersebut, mahasiswa program studi (prodi) Penyiaran Multimedia, Program Pendidikan Vokasi, Universitas Indonesia (UI), mengikuti workshop bertajuk “Refining the Journalistic Workflow with AI” yang diselenggarakan pada Rabu (13/05/2026) di @america, Pacific Place, Jakarta Selatan. Kegiatan ini menjadi ruang pembelajaran bagi mahasiswa untuk memahami bagaimana AI mulai mengubah pola kerja media dan ruang redaksi di berbagai negara, untuk mempercepat verifikasi fakta serta memperluas jangkauan liputan.
Workshop tersebut menghadirkan Roni Satria, praktisi AI dan jurnalisme yang memiliki pengalaman internasional sebagai peserta Cambridge Social Data School di University of Cambridge, AI Journalism Lab: Adoption di New York, serta Journalism AI Discovery di London School of Economics (LSE). Dalam pemaparannya, Roni menjelaskan bahwa AI kini telah digunakan dalam berbagai proses kerja media, mulai dari otomatisasi transkripsi dan terjemahan, analisis data, pendeteksian bias, hingga pengecekan fakta secara lebih cepat dan efisien.
Ia juga menyoroti bahwa kehadiran AI sudah menjadi bagian dari transformasi industri media global, termasuk di kawasan Asia Tenggara. Sehingga, pemahaman mengenai AI dinilai sangat relevan dengan kebutuhan industri media saat ini yang bergerak semakin cepat dan menghadirkan tantangan baru bagi dunia jurnalistik. Dalam sesi diskusi, mahasiswa diajak memahami berbagai tantangan yang muncul akibat penggunaan AI secara masif, seperti potensi bias algoritmik, penyebaran disinformasi berbasis AI, hingga penurunan kepercayaan publik akibat konten yang diproduksi tanpa verifikasi memadai. “Salah satu isu yang menjadi perhatian ialah fenomena hallucination, ketika AI menghasilkan informasi yang tampak meyakinkan tetapi sebenarnya tidak akurat. Fenomena tersebut menjadi pengingat bahwa verifikasi sumber primer tetap merupakan tanggung jawab utama seorang jurnalis,” ujarnya.
(Foto: Foto bersama dengan para mahasiswa usai kuliah berakhir)
Mahasiswa juga diingatkan bahwa penggunaan AI dalam jurnalistik harus tetap berpijak pada lima prinsip dasar jurnalistik, yakni kebenaran dan akurasi, independensi, keadilan dan imparsialitas, kemanusiaan, serta akuntabilitas. Oleh karena itu, kemampuan menggunakan teknologi perlu diimbangi dengan kemampuan berpikir kritis, pemahaman etika media, serta kecepatan dalam memverifikasi informasi. Tidak hanya membahas perkembangan teknologi, workshop ini juga menekankan pentingnya nilai-nilai kemanusiaan dalam praktik jurnalistik. Di samping itu, wawancara langsung dengan narasumber ditegaskan tetap menjadi elemen penting yang tidak dapat sepenuhnya digantikan oleh teknologi. Interaksi manusia dinilai mampu menghadirkan konteks, empati, dan kedalaman cerita yang tidak dapat direproduksi oleh AI.
Materi yang dibahas dalam workshop sangat berkaitan dengan kompetensi yang dipelajari mahasiswa prodi Penyiaran Multimedia, khususnya dalam bidang produksi konten, jurnalistik digital, media penyiaran, hingga pengelolaan komunikasi berbasis teknologi. Ketua Program Studi Penyiaran Multimedia, Peny Meliaty Hutabarat, M.S.M., menilai bahwa pemahaman mengenai AI dan komunikasi digital kini menjadi kebutuhan penting bagi mahasiswa di industri media dan kreatif.
“Perkembangan AI membuat industri media dan kreatif berubah sangat cepat. Mahasiswa tidak cukup hanya memahami tools dan teknologi, tetapi juga harus memiliki sensitivitas, kreativitas, kemampuan berpikir kritis, dan etika komunikasi agar karya yang dihasilkan tetap memiliki nilai dan relevansi. Workshop seperti ini menjadi penting karena mahasiswa belajar melihat AI sebagai alat yang dapat membantu proses kreatif dan jurnalistik secara lebih efektif dan bertanggung jawab,” ungkap Peny.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa diharapkan mampu memahami bagaimana AI dapat dimanfaatkan secara etis dan profesional dalam praktik media modern, sekaligus tetap mempertahankan nilai-nilai kemanusiaan yang menjadi fondasi utama dunia jurnalistik. teknologi, inovatif, serta tetap menjunjung etika komunikasi di era digital.