Depok-Program studi (prodi) Penyiaran Multimedia, Program Pendidikan Vokasi, Universitas Indonesia (UI), menyelenggarakan kuliah dosen tamu bertajuk “Menjadi Brodcaster yang Relevan di Era Digital” pada Selasa (07/04/2026) di Auditorium Vokasi UI. Kegiatan ini menghadirkan praktisi industri, Muhammad Beryl Rasandavi, announcer Radio Iswara, sekaligus alumni prodi Penyiaran, yang berbagi wawasan dan pengalamannya di industri radio untuk membekali generasi muda dengan keterampilan broadcasting yang relevan di era digital.

Dalam pemaparannya, Beryl mengatakan bahwa radio masih memiliki posisi yang kuat di tengah perkembangan media digital. Ia menyampaikan bahwa radio masih memiliki sekitar 22–25 juta pendengar aktif di Indonesia dengan lebih dari 575 stasiun radio yang beroperasi. Selain itu, sekitar 48–52% pendengar radio kini telah mengakses siaran melalui platform digital seperti streaming dan aplikasi. Hal ini menunjukkan bahwa radio tidak ditinggalkan, melainkan beradaptasi dengan perkembangan teknologi.

(Foto: Beryl saat memberikan pemaparan mengenai industri radio saat ini)

Lebih lanjut, Beryl menjelaskan bahwa kekuatan utama radio terletak pada human connection, sifatnya yang real-time, serta kemudahan akses yang tidak memerlukan perhatian visual. “Tingkat kepercayaan terhadap radio cukup tinggi dibandingkan media sosial, menjadikan radio sebagai medium yang relevan untuk menjangkau audiens,” ujar Beryl.

Dari sisi kompetensi, para mahasiswa diperkenalkan pada berbagai keterampilan penting yang harus dimiliki seorang broadcaster, antara lain announcing skill, yaitu kemampuan menyampaikan informasi secara menarik dan komunikatif; operating skill, yaitu kemampuan mengoperasikan perangkat siaran; serta musical touch, yaitu kemampuan dalam memilih dan menyusun musik yang sesuai dengan selera audiens.

(Foto: Pemberian sertifikat penghargaan oleh Ketua Program Studi Penyiaran Multimedia, Peny Meliaty Hutabarat, M.S.M.)

Beryl menambahkan, “Kita juga harus memiliki air personality, yaitu karakter atau kepribadian penyiar saat siaran. Di era digital, audiens lebih terhubung pada cara penyampaian dibandingkan sekadar isi pesan. Bahkan, konten dengan strong personality terbukti memiliki tingkat engagement 2–3 kali lebih tinggi dibandingkan konten informatif biasa.

Lebih lanjut, broadcaster juga dituntut untuk aktif membangun kehadiran di media sosial. Strategi seperti membuat konten rutin, berinteraksi dengan audiens melalui polling atau games, serta memanfaatkan platform seperti Instagram dan TikTok menjadi kunci dalam memperluas jangkauan pendengar.

(Foto: Foto bersama dengan para mahasiswa usai kuliah dosen tamu berakhir)

Ketua Program Studi Penyiaran Multimedia, Peny Meliaty Hutabarat, M.S.M., mengatakan bahwa integrasi kuliah dosen tamu tersebut dengan mata kuliah Produksi Acara TV dan Radio merupakan langkah yang sangat strategis. Menurutnya, mahasiswa akan mendapatkan pemahaman mengenai dinamika industri radio dan transformasinya di era digital. “Melalui kuliah dosen tamu ini, generasi muda khususnya mahasiswa akan mendapatkan perspektif langsung dari praktisi mengenai bagaimana menjadi broadcaster yang adaptif, kreatif, dan relevan di era digital,” kata Peny.

Kegiatan ini diharapkan dapat memperkaya wawasan mahasiswa dan mempersiapkan mereka menjadi lulusan yang siap bersaing di industri media yang terus berkembang. Prodi Penyiaran Multimedia Vokasi UI juga terus berupaya menghadirkan pembelajaran berbasis praktik dan kolaborasi dengan industri guna menciptakan lulusan yang unggul dan adaptif terhadap perkembangan zaman.