Depok-Program studi (prodi) Terapi Okupasi, Program Pendidikan Vokasi, Universitas Indonesia (UI), berkolaborasi dengan Universiti Teknologi MARA (UiTM) Malaysia menyelenggarakan webinar bertajuk “Difficulty in Performing Physical Movement in Salah (DIMAS) Assessment” pada Kamis (12/03/2026). Kegiatan ini menjadi langkah strategis bagi kedua institusi dalam memperkuat kolaborasi akademik internasional di bidang terapi okupasi dan rehabilitasi berbasis kebutuhan pasien. Webinar ini menghadirkan Nurul Iryanie Nasieha Nisa, Occupational Therapist dari Ministry Health of Malaysia, sebagai pembicara utama. Turut hadir pula Associate Professor Dr. Akehsan Bin Hj. Dahlan, dosen dan peneliti dari Faculty of Health Sciences UiTM yang aktif dalam pengembangan riset terapi okupasi dan rehabilitasi.

Dalam sambutannya, Ketua Program Studi Terapi Okupasi, Muhammad Hidayat Sahid, A.Md.OT., S.KM., M.Epid., menegaskan bahwa kolaborasi lintas negara menjadi langkah strategis dalam memperkaya wawasan akademik sekaligus meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan yang berpusat pada pasien. “Kolaborasi internasional ini menjadi upaya kami dalam memperkaya perspektif keilmuan terapi okupasi, khususnya dalam memahami kebutuhan spiritual pasien sebagai bagian dari pelayanan yang holistik,” ujar Sahid.

(Foto: Nurul saat memberikan kuliah kepada mahasiswa prodi Terapi Okupasi)

Instrumen DIMAS merupakan alat asesmen yang dirancang untuk membantu tenaga kesehatan, khususnya terapis okupasi, dalam mengidentifikasi tingkat kesulitan yang dialami pasien Muslim saat melakukan gerakan salat akibat keterbatasan fisik. Instrumen ini menilai berbagai aspek kemampuan gerak seperti keseimbangan, kekuatan dan daya tahan otot, fleksibilitas, serta transisi postur tubuh selama pelaksanaan ibadah.

DIMAS menjadi penting karena aktivitas ibadah merupakan salah satu meaningful occupation yang memiliki dimensi spiritual, psikologis, dan sosial bagi individu.. Pendekatan ini menempatkan aktivitas ibadah tidak hanya sebagai kewajiban religius, tetapi juga sebagai bagian dari proses pemulihan dan peningkatan kualitas hidup pasien.

Dalam pemaparannya, Nurul menjelaskan bahwa DIMAS dapat digunakan sebagai panduan sistematis untuk mengevaluasi kemampuan pasien dalam melakukan rangkaian gerakan salat, baik dalam posisi statis maupun dinamis. Nurul menjelaskan, “Hasil asesmen kemudian dapat menjadi dasar bagi tenaga kesehatan untuk memberikan rekomendasi adaptasi gerakan, modifikasi aktivitas, serta perencanaan program terapi yang lebih personal.”

(Foto: Foto bersama dengan audiens usai kuliah berakhir)

Sementara itu, Akehsan menekankan pentingnya kolaborasi regional dalam mengembangkan praktik terapi okupasi yang sensitif terhadap aspek budaya dan spiritual pasien. “Negara dengan populasi Muslim besar seperti Indonesia dan Malaysia memerlukan inovasi layanan kesehatan selaras dengan nilai dan praktik keagamaan masyarakat. Kolaborasi akademik lintas negara dinilai mampu mempercepat pengembangan riset, pertukaran pengetahuan, serta inovasi teknologi rehabilitasi yang relevan dengan kebutuhan kawasan,” ujarnya.

Webinar ini memberikan pemahaman pentingnya pelayanan kesehatan yang holistik, di mana pelayanan kesehatan modern perlu memperhatikan kebutuhan pasien secara menyeluruh, termasuk aspek spiritual. Dukungan terhadap kemampuan pasien dalam menjalankan ibadah secara aman dan bermakna menjadi bagian penting dari pendekatan rehabilitasi yang humanis dan berpusat pada pasien. Di samping itu, webinar ini sekaligus menjadi langkah awal untuk memperkuat kolaborasi pendidikan, penelitian, serta mobilitas akademik antara UI dan UiTM. Ke depan, kerja sama ini diharapkan dapat berkembang dalam bentuk penelitian bersama, pertukaran mahasiswa dan dosen, hingga pengembangan inovasi layanan rehabilitasi berbasis budaya di kawasan Asia Tenggara.