Depok-Program studi (prodi) Terapi Okupasi, Program Pendidikan Vokasi Universitas Indonesia (UI), terus berinovasi dalam mencetak tenaga kesehatan profesional yang berdaya saing internasional. Melalui konsep “Bridging Tradition and Innovation,” Vokasi UI menghadirkan kurikulum berbasis budaya nasional yang terintegrasi penuh dengan standar global World Federation of Occupational Therapists (WFOT).

Prodi ini mengembangkan Batik Indonesian National Occupational Therapy Educational Curriculum (BINOTEC) sebagai metafora utama dalam proses pembelajaran. Kurikulum ini memaknai proses pendidikan layaknya membatik—dimulai dari selembar kain polos hingga menjadi sebuah mahakarya (masterpiece). Setiap lapisan pembelajaran dirancang untuk membentuk lulusan yang profesional, berintegritas, memiliki kedalaman keilmuan, serta peka terhadap konteks budaya Indonesia.

(Foto: Kurikulum prodi Terapi Okupasi yang sudah terintegrasi dengan standar global melalui WFOT)

Direktur Program Pendidikan Vokasi UI, Dr. Safrin Arifin, SKM., S.St., M.Sc., menegaskan bahwa penguatan kurikulum ini adalah kunci untuk menjawab tantangan layanan kesehatan masa depan.

“Pengembangan kurikulum di Vokasi UI kami arahkan untuk menjawab kebutuhan nyata masyarakat sekaligus standar profesi global. Integrasi standar WFOT dalam BINOTEC menjadi strategi kami untuk menghasilkan lulusan yang siap praktik, memiliki kepemimpinan profesional, dan mobilitas internasional,” ujar Safrin.

Struktur pembelajaran disusun bertahap selama delapan semester menggunakan kombinasi taksonomi Bloom dan metafora batik. Tahapan ini meliputi fondasi dasar pada tahun pertama, pendalaman teori dan klinis pada tahun kedua dan ketiga, hingga tahap The Masterpiece pada tahun keempat.

Pada fase akhir, mahasiswa menjalani rotasi praktik lapangan di berbagai fasilitas kesehatan, termasuk wilayah rural, serta menyelesaikan proyek capstone. Vokasi UI mewajibkan lebih dari 1.200 jam praktik klinis—melampaui standar minimal WFOT— dengan rasio pembelajaran 60 persen praktik dan 40 persen teori.

(Foto: Mahasiswa prodi Terapi Okupasi saat kegiatan pameran alat bantu sebagai tugas Ujian Akhir Semester)

Dosen Terapi Okupasi Vokasi UI, Hermito Gidion, A.Md.OT., S.Psi., M.Psi.T., menjelaskan bahwa pendekatan kontekstual menjadi kekuatan utama lulusan Vokasi UI.

“Kami membentuk mahasiswa agar mampu menerapkan standar global dalam situasi lokal. Ketika mereka berada di komunitas dengan sumber daya terbatas, mereka tetap mampu memberikan intervensi berkualitas melalui kreativitas, empati, dan penalaran klinis yang matang,” jelas Hermito.

Keunikan prodi ini juga terletak pada fokus terhadap “okupasi” atau aktivitas bermakna sebagai sarana terapi, dengan pendekatan Evidence-Based Practice yang setara dengan standar terapis di negara maju seperti Kanada atau Belanda. Mahasiswa didukung oleh 10 laboratorium khusus (termasuk Virtual Reality) dan akses ke 40 mitra lahan praktik.

Ke depan, Vokasi UI mengarahkan pengembangan pada konsep Terapi Okupasi 4.0 melalui integrasi teknologi seperti kecerdasan buatan (AI) dan penguatan bidang geriatri. Hal ini mengukuhkan posisi prodi Terapi Okupasi Vokasi UI sebagai center of excellence di tingkat Asia Tenggara.

“Di sini mahasiswa belajar bahwa doing is healing, yaitu melakukan aktivitas bermakna adalah obat terbaik bagi manusia,” tutup Hermito.

(Humas Vokasi UI)