Depok-Perkembangan penyiaran di Indonesia terus bergerak dinamis mengikuti transformasi digital. Fenomena ini diulik dalam kegiatan Vocast Talks bertajuk “Ketika Siaran Menjadi Lifestyle” yang diselenggarakan program studi (prodi) Penyiaran Multimedia, Program Pendidikan Vokasi, Universitas Indonesia (UI). Diselenggarakan pada Kamis (27/11/2025) di Auditorium Vokasi UI, kegiatan yang diadakan kelompok mahasiswa Broduction Project tersebut menghadirkan Mimah Susanti, Anggota KPI Pusat. Kehadiran Mimah memberikan wawasan mendalam mengenai perubahan ekosistem penyiaran dan bagaimana generasi muda memaknai siaran sebagai bagian dari identitas dan gaya hidup. Vocast Talks merupakan rangkaian seminar atau kuliah umum yang diadakan oleh mahasiswa prodi Penyiaran Multimedia dengan berbagai tema di dunia penyiaran.

Mimah menjelaskan bahwa saat ini penyiaran tidak lagi terbatas pada televisi dan radio. Ruang siaran melebar ke berbagai format, seperti podcast, siaran langsung, video pendek, hingga interactive broadcasting. Generasi Z kini membangun persona mereka melalui konten sehari-hari yang bersifat spontan, autentik, dan sangat interaktif. Mimah mengatakan, “Lifestyle broadcasting bukan sekadar membuat konten. Ini tentang bagaimana seseorang menata citra diri, membangun kedekatan dengan publik, dan memahami bahwa setiap unggahan memiliki dampak sosial.”

(Foto: Suasana kegiatan Vocast Talks bersama Mimah Susanti)

Mimah juga menegaskan bahwa kreativitas harus berjalan beriringan dengan etika. KPI memiliki komitmen untuk menjaga kualitas penyiaran melalui regulasi seperti Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3SPS), serta berbagai undang-undang terkait. “Kesalahan terbesar dalam dunia siaran adalah ketika kreator mengabaikan etika, yaitu penyebaran informasi palsu, eksploitasi narasumber, hingga pelanggaran privasi. Sekali reputasi hilang, sulit untuk kembali,” ungkap Mimah.

Sebagai generasi yang tumbuh bersama internet, Gen Z memandang penyiaran sebagai ruang ekspresi diri yang alami. Tetapi, Mimah mengingatkan pentingnya pendampingan agar mereka tidak terjebak pada konten sensasional. Mimah menambahkan, “Gen Z punya potensi menjadi generasi penyiar paling inovatif di era digital. Tetapi, inovasi tersebut harus diimbangi tanggung jawab moral dan pemahaman terhadap dampak konten.”

Ketua Program Studi Penyiaran Multimedia, Peny Meliaty Hutabarat, S.Sos., M.S.M., menyampaikan bahwa Vocast Talks diselenggarakan untuk memperkuat mahasiswa mengenai dinamika industri penyiaran, sekaligus mempersiapkan mereka sebagai kreator yang kompeten dan beretika. “Dalam membuat sebuah konten, mahasiswa perlu menilai hal ini sebagai keberlanjutan, integritas, dan kemampuan membaca ekosistem media. Kami ingin mereka tumbuh menjadi penyiar yang berdampak dan bertanggung jawab,” kata Peny.

(Foto: Foto bersama dengan audiens setelah kegiatan Vocast Talks berakhir)

Sesi tanya jawab berlangsung interaktif dengan berbagai pertanyaan mengenai etika konten, dinamika, platform digital, hingga tantangan kreator muda. Salah satu mahasiswa, Nabilah Sipi Naifah, yang juga merupakan project leader kegiatan tersebut, mengungkapkan bahwa kegiatan ini sangat sesuai dengan kebutuhan generasi digital. “Kami sering membuat konten, tetapi terkadang lupa hal-hal penting seperti etika dan dampak sosial. Ke depannya, kami akan lebih berhati-hati dalam membuat konten agar menghindari kesalahan dalam bermedia sosial,” tutur Nabilah.

Melalui kegiatan ini, prodi Penyiaran Multimedia berharap mahasiswa dpaat memahami bahwa penyiaran digital merupakan medium profesional yang menuntut pengetahuan, kreativitas, dan integritas. Vocast Talks menjadi ruang dialog antara mahasiswa dan praktisi, agar generasi muda semakin siap berkontribusi dalam industri penyiaran yang terus berkembang.