+62 21- 290 274 81-83 humas@vokasi.ui.ac.id

Depok-Di kawasan transmigrasi Werianggi dan Werabur, Distrik Nikiwar, Kabupaten Teluk Wondama, Papua Barat, berdiri sebuah bangunan pasar tradisional yang nyaris tidak terlihat  aktivitas jual beli. Bangunannya masih kokoh, tetapi area di sekitarnya mulai ditumbuhi alang-alang. Alih-alih bertransaksi di pasar, masyarakat lebih sering menjual hasil tangkapan ikan maupun hasil kebun di depan rumah masing-masing.

Kondisi tersebut menjadi salah satu temuan Tim Ekspedisi Patriot Universitas Indonesia (UI) saat melakukan pemetaan kawasan transmigrasi melalui program yang diinisiasi oleh Kementerian Transmigrasi Republik Indonesia. Selama empat bulan, sejak September hingga Desember 2025, tim memetakan kondisi sosial, ekonomi, dan kelembagaan masyarakat di kawasan transmigrasi Werianggi-Werabur. Hasil pemetaan tersebut kemudian menjadi dasar penyusunan berbagai program pemberdayaan yang berangkat dari potensi dan kebutuhan masyarakat setempat.

Ketua Tim Ekspedisi Patriot UI sekaligus dosen program studi (prodi) Penyiaran Multimedia, Program Pendidikan Vokasi UI, Muhammad Dicka Ma’arief Alyatalatthaf, S.I.Kom., M.I.Kom., menjelaskan bahwa persoalan utama di Werianggi-Werabur bukan semata-mata keterbatasan sumber daya alam, melainkan kelembagaan ekonomi masyarakat yang belum optimal. “Fisik pasar tradisional sebenarnya sudah tersedia, tetapi aktivitas jual belinya hampir tidak ada hingga bangunannya dipenuhi alang-alang. Seiring belum terbentuk budaya berbelanja di pasar, masyarakat cenderung lebih memilih menjual ikan atau hasil kebun dari kios maupun meja di depan rumah masing-masing,” ujarnya.

(Foto: Hasil olahan dari pisang yang dibuat oleh para mama dan dijadikan penggerak ekonomi rumahan)

Ia menambahkan, keberagaman profesi masyarakat di kawasan tersebut juga masih terbatas. Aktivitas perdagangan sebagian besar dijalankan oleh warga transmigran, sedangkan masyarakat lokal umumnya masih mengandalkan hasil kebun untuk memenuhi kebutuhan konsumsi sehari-hari.

Temuan tersebut mendorong tim menghadirkan salah satu program pengabdian masyarakat bertajuk PisangPreneur, yaitu lokakarya dan pendampingan yang mengajak masyarakat mengolah pisang menjadi produk usaha bernilai ekonomi. Nama PisangPreneur merupakan gabungan dari kata “pisang” dan entrepreneurship. Program ini dirancang untuk menumbuhkan semangat berwirausaha melalui pemanfaatan komoditas yang mudah dijumpai di kawasan tersebut.

Pada tahap awal, tim sempat mempertimbangkan pala sebagai fokus program pemberdayaan karena tercatat sebagai salah satu komoditas unggulan berdasarkan data yang tersedia. Namun, setelah melakukan riset lapangan, tim menemukan bahwa kelompok perempuan pengolah pala di wilayah tersebut sudah cukup berkembang. Dengan demikian, intervensi pada komoditas tersebut dinilai tidak akan memberikan dampak yang signifikan.

(Foto: Kolaborasi pentahelix yang dibangun akan memperkuat produk dari PisangPreneur)

“Kelompok perempuan yang mengolah pala sebenarnya sudah cukup berjalan sehingga intervensi kami tidak akan terlalu berdampak. Kami juga sempat mempertimbangkan komoditas lain, tetapi berdasarkan potensi yang paling memungkinkan, pisang menjadi pilihan karena mudah ditemukan, mudah diolah, dan memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi berbagai produk UMKM,” jelas Dicka.

Melalui PisangPreneur, sebanyak 30 mama (sebutan Ibu di Papua) dari Satuan Pemukiman (SP) 1, SP 2, dan Kampung Werianggi mengikuti rangkaian kegiatan berupa gelar wicara, lokakarya memasak, hingga pelatihan pemasaran sederhana. Para peserta belajar mengolah pisang menjadi berbagai produk, seperti pisang crispy, keripik pisang cokelat, dan pisang goreng madu.

Tidak hanya mempelajari proses produksi, peserta juga dibekali pengetahuan dasar mengenai pengelolaan usaha. Materi yang diberikan meliputi cara menghitung modal, menentukan keuntungan, menyusun strategi promosi, serta membangun identitas produk agar lebih menarik dan memiliki nilai jual.

Namun, menurut Dicka, tujuan program tersebut tidak berhenti pada peningkatan keterampilan mengolah makanan. Selama hampir satu bulan pertama berada di lokasi, tim lebih banyak melakukan pendekatan humanis untuk mengenal masyarakat, memahami potensi yang mereka miliki, sekaligus membangun kepercayaan. Dicka menambahkan, “Kami tidak ingin datang sebagai pihak yang menggurui, tetapi menunjukkan bahwa tujuan kami adalah pemberdayaan, bukan eksploitasi. Pendekatan secara perlahan itu membuat masyarakat merasa lebih nyaman untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman dengan kami.”

Pendekatan tersebut turut menjadi dasar dalam penyusunan modul pelatihan. Tim menyajikan materi dalam bentuk mini magazine yang dilengkapi berbagai ilustrasi visual, buku resep, serta panduan pemasaran melalui media sosial. Materi tersebut dirancang agar mudah dipahami dan dapat terus digunakan sebagai bekal bagi masyarakat untuk mengembangkan usaha secara mandiri.

(Foto: Tim Ekspedisi Patriot berupaya memberikan inovasi melalui PisangPreneur)

Sasaran utama program ini adalah mendorong terbentuknya komunitas perempuan yang lebih produktif. Para mama diharapkan tidak hanya memperoleh keterampilan baru dalam mengolah hasil kebun, tetapi juga memiliki ruang untuk berkegiatan bersama dan mengembangkan usaha kecil yang berpotensi meningkatkan pendapatan keluarga.

Perubahan mulai terlihat selama pelaksanaan program. Warga yang sebelumnya cenderung tertutup terhadap pendatang secara perlahan mulai terbuka untuk berdiskusi, menyampaikan gagasan, dan berkolaborasi. “Mereka menyadari bahwa kami datang bukan untuk mengeksploitasi, melainkan berbagi pengetahuan dan teknologi. Dari situ, mereka mulai berani mengolah komoditas yang dimiliki serta mengenal pemasaran melalui media digital maupun marketplace,” tutur Dicka.

Untuk memastikan manfaat program dapat terus berlanjut, tim juga menyiapkan proses alih pengetahuan kepada tim penerus yang akan melanjutkan pendampingan pada tahun berikutnya. Selain menyerahkan basis data awal atau baseline hasil riset sebagai pijakan, tim terus menjalin komunikasi dengan Kepala Unit Permukiman Transmigrasi (KUPT), penyuluh pertanian, penyuluh peternakan, serta masyarakat setempat agar proses pendampingan dapat berlangsung secara berkesinambungan.

Selain PisangPreneur, Ekspedisi Patriot UI turut menghasilkan rekomendasi model penguatan kelembagaan ekonomi berbasis Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) melalui pendekatan pentahelix. Pendekatan tersebut melibatkan unsur akademisi, pemerintah, pelaku usaha, komunitas, dan media. Rekomendasi tersebut diharapkan dapat memperkuat ekosistem ekonomi di kawasan transmigrasi sekaligus membuka akses masyarakat terhadap pasar, pembiayaan, serta kolaborasi lintas sektor.

Melalui berbagai program pemberdayaan yang dijalankan, termasuk PisangPreneur, Ekspedisi Patriot UI menunjukkan bahwa pembangunan kawasan transmigrasi tidak hanya berfokus pada penyediaan infrastruktur fisik, tetapi juga pada penguatan kapasitas masyarakat. Program ini menjadi salah satu upaya untuk mendorong terwujudnya masyarakat yang lebih mandiri, produktif, dan mampu mengembangkan peluang ekonomi secara berkelanjutan melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan masyarakat.

Program PisangPreneur juga berkontribusi terhadap pencapaian sejumlah Sustainable Development Goals (SDGs), terutama SDG 5: Kesetaraan Gender melalui pemberdayaan kelompok perempuan, SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi melalui pengembangan keterampilan dan peluang usaha berbasis potensi lokal, serta SDG 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab melalui pemanfaatan hasil kebun menjadi produk bernilai tambah. Kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, pendamping lapangan, dan masyarakat juga sejalan dengan SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, khususnya dalam membangun ekosistem pemberdayaan yang berkelanjutan.