{"id":272309,"date":"2026-02-28T10:00:22","date_gmt":"2026-02-28T03:00:22","guid":{"rendered":"https:\/\/vokasi.ui.ac.id\/web\/?p=272309"},"modified":"2026-03-03T23:11:17","modified_gmt":"2026-03-03T16:11:17","slug":"perkuat-ekosistem-kreatif-nasional-vokasi-ui-gandeng-praktisi-bahas-masa-depan-kekayaan-intelektual","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/vokasi.ui.ac.id\/web\/perkuat-ekosistem-kreatif-nasional-vokasi-ui-gandeng-praktisi-bahas-masa-depan-kekayaan-intelektual\/","title":{"rendered":"Perkuat Ekosistem Kreatif Nasional, Vokasi UI Gandeng Praktisi Bahas Masa Depan Kekayaan Intelektual"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">Depok-Program studi (prodi) Magister Terapan Industri Kreatif, Program Pendidikan Vokasi, Universitas Indonesia (UI), menggelar kuliah dosen tamu bertajuk \u201c<em>Developing Creative Ecosystem: The Role of IP and its Ecosystem<\/em>\u201d pada Rabu (25\/02\/2026). Acara yang berlangsung di Ruang Magister Terapan Industri Kreatif ini menghadirkan Andreas Prasetya Putra, CEO XD Collective sekaligus praktisi kreatif yang aktif di berbagai platform digital, sebagai narasumber.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kuliah dosen tamu tersebut terintegrasi dengan mata kuliah Kapita Selekta Industri Kreatif, yang dirancang untuk menjembatani teori akademis dengan realita industri. Dalam pemaparannya yang bertajuk \u201cDigitalisasi dan Monetisasi IP\u201d, Andreas menekankan bahwa Kekayaan Intelektual atau <em>Intellectual Property<\/em> (IP) adalah aset strategis yang harus dikelola secara profesional.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Andreas menjelaskan bahwa pemahaman dasar mengenai tujuh jenis IP\u2014mulai dari hak cipta, merek, paten, desain industri, rahasia dagang, indikasi geografis, hingga desain tata letak sirkuit terpadu\u2014adalah langkah awal yang mutlak bagi pelaku kreatif. Ia menekankan bahwa mendaftarkan IP saja tidak menjamin kesuksesan, melainkan eksekusi, strategi pemasaran, kualitas produk, manajemen, serta kemampuan merespons kebutuhan pasar.<\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><img data-dominant-color=\"8c8a85\" data-has-transparency=\"false\" style=\"--dominant-color: #8c8a85;\" loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter wp-image-272311 not-transparent\" src=\"https:\/\/vokasi.ui.ac.id\/web\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/Suasana-kegiatan-kuliah-dosen-tamu-yang-menghadirkan-Andreas-Prasetya-Putra.webp\" alt=\"\" width=\"500\" height=\"375\" \/>(Foto: Suasana kegiatan kuliah dosen tamu yang menghadirkan Andreas Prasetya Putra)<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ia memperkenalkan konsep IP sebagai \u201c<em>SHIELD<\/em>\u201d (Perisai) dan \u201c<em>SWORD<\/em>\u201d (Pedang). \u201cApa gunanya memiliki &#8216;<em>Shield<\/em>&#8216; jika tidak ada sesuatu yang layak dipertahankan?\u201d tanya Andreas retoris, merujuk pada pentingnya kualitas produk atau karya itu sendiri. Lebih lanjut, IP harus berfungsi sebagai &#8216;<em>Sword<\/em>&#8216; untuk menembus pasar dan memenangkan persaingan. Strategi IP yang tepat akan berdampak langsung pada siklus bisnis: meningkatkan pembelian (<em>purchasement<\/em>), mendorong pembelian ulang (<em>repeat order<\/em>), dan memperkuat pengalaman konsumen (<em>experience<\/em>).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Selain itu, poin penting lainnya adalah <em>branding<\/em> yang menjadikan IP sebagai fondasi identitas merek yang kuat guna menciptakan ikatan emosional dan loyalitas dengan konsumen. Kemudian, <em>marketing<\/em> dengan memanfaatkan narasi dan aset IP sebagai materi pemasaran yang unik dan sulit ditiru oleh kompetitor. Selanjutnya, <em>networking<\/em> dengan menggunakan portofolio IP yang solid sebagai alat posisi tawar untuk membangun kolaborasi, kemitraan strategis, dan memperluas ekosistem bisnis. Terakhir, <em>pitching<\/em> dengan menampilkan valuasi IP sebagai aset utama saat mempresentasikan ide kepada investor atau mitra potensial guna mendapatkan pendanaan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cIP harus berdampak nyata agar mampu menembus pasar. Jika tidak digunakan untuk menyerang pasar melalui branding dan networking yang kuat, maka IP tersebut hanya akan menjadi pajangan hukum tanpa nilai ekonomi,\u201d jelas Andreas.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ketua Program Studi Magister Terapan Industri Kreatif, Dr. Dewi Kartika Sari, S.E., M.S.Ak., CA., menyambut baik materi ini. \u201cKami ingin mahasiswa kami memahami bahwa industri kreatif bukan hanya soal estetika, tapi soal keberlanjutan bisnis. Materi Bapak Andreas memberikan wawasan konkret mengenai bagaimana nilai ekonomi sebuah karya dapat dilipatgandakan melalui monetisasi IP yang cerdas,\u201d ujar Ika.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Wisnu Dwi Prasetyo, salah satu mahasiswa yang hadir, menyatakan antusiasmenya terhadap kuliah ini. \u201cMateri tentang strategi IP sebagai &#8216;pedang&#8217; untuk penetrasi pasar sangat relevan dengan tantangan kami di era digital. Penjelasan yang diberikan juga membantu kami melihat IP bukan sebagai beban birokrasi, melainkan sebagai alat investasi jangka panjang untuk membangun merek yang kuat,\u201d kata Wisnu.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Melalui kegiatan ini, Vokasi UI terus berupaya untuk menghadirkan praktisi terbaik di bidangnya guna memastikan lulusan Magister Terapan Industri Kreatif siap menjadi pemimpin yang inovatif di sektor ekonomi kreatif nasional.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Depok-Program studi (prodi) Magister Terapan Industri Kreatif, Program Pendidikan Vokasi, Universitas Indonesia (UI), menggelar kuliah dosen tamu bertajuk \u201cDeveloping Creative Ecosystem: The Role of IP and its Ecosystem\u201d pada Rabu (25\/02\/2026). Acara yang berlangsung di Ruang Magister Terapan Industri Kreatif ini menghadirkan Andreas Prasetya Putra, CEO XD Collective sekaligus praktisi kreatif yang aktif di berbagai [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":4,"featured_media":272310,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_et_pb_use_builder":"","_et_pb_old_content":"","_et_gb_content_width":"","footnotes":""},"categories":[2],"tags":[],"class_list":["post-272309","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/vokasi.ui.ac.id\/web\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/272309","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/vokasi.ui.ac.id\/web\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/vokasi.ui.ac.id\/web\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/vokasi.ui.ac.id\/web\/wp-json\/wp\/v2\/users\/4"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/vokasi.ui.ac.id\/web\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=272309"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/vokasi.ui.ac.id\/web\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/272309\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":272313,"href":"https:\/\/vokasi.ui.ac.id\/web\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/272309\/revisions\/272313"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/vokasi.ui.ac.id\/web\/wp-json\/wp\/v2\/media\/272310"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/vokasi.ui.ac.id\/web\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=272309"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/vokasi.ui.ac.id\/web\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=272309"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/vokasi.ui.ac.id\/web\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=272309"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}