{"id":263700,"date":"2024-01-31T09:00:47","date_gmt":"2024-01-31T02:00:47","guid":{"rendered":"https:\/\/vokasi.ui.ac.id\/web\/?p=263700"},"modified":"2024-01-31T09:31:01","modified_gmt":"2024-01-31T02:31:01","slug":"peneliti-ui-sebut-teknologi-blockchain-dan-blue-economy-mampu-kembangkan-smart-tourism","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/vokasi.ui.ac.id\/web\/peneliti-ui-sebut-teknologi-blockchain-dan-blue-economy-mampu-kembangkan-smart-tourism\/","title":{"rendered":"Peneliti UI Sebut Teknologi Blockchain dan Blue Economy Mampu Kembangkan Smart Tourism"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">Depok-<em>Smart tourism<\/em> merupakan sebuah konsep pengembangan sektor pariwisata yang memanfaatkan teknologi informasi untuk membangun infrastruktur pengalaman wisata, termasuk pengalaman wisatawan dalam mengakses informasi sebelum, selama, dan setelah berwisata. <em>Smart tourism<\/em> mengoneksikan semua bagian dalam rantai nilai pariwisata ke dalam platform digital pariwisata yang dinamis, sehingga wisatawan dapat mengkreasikan dan memproduksi pengalaman bersama dengan penyedia layanan secara <em>real time<\/em> serta meningkatkan konektivitas usaha dan destinasi wisata dalam pasar wisata global.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pengembangan <em>smart tourism<\/em> dianggap sebagai solusi untuk meningkatkan konektivitas destinasi wisata, terutama yang sulit diakses, seperti destinasi yang berada di lokasi terpencil dan pulau-pulau kecil yang dipisahkan oleh laut, serta mengintegrasikan para pemangku kepentingan yang letaknya tersebar dalam satu platform pengalaman yang dapat diakses langsung oleh wisatawan global. Selain konektivitas, pulau sebagai destinasi wisata juga memiliki tantangan besar dari lingkungan alamiahnya. Perubahan iklim yang dirasakan secara global, kesulitan dalam mengelola dan mengolah sampah, pemanfaatan energi yang ramah lingkungan, tuntutan untuk melakukan praktik yang berkelanjutan menjadi tantangan dalam pengembangan wisata kepulauan dalam upaya mewujudkan pembangunan ekonomi biru.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dalam penelitian yang dilakukan oleh dosen program studi Manajemen Bisnis Pariwisata, Program Pendidikan Vokasi, Universitas Indonesia (UI) Dr. Diaz Pranita, M.M., dikatakan bahwa perkembangan teknologi digital yang masif, khususnya pemanfaatan teknologi <em>blockchain<\/em> dianggap sebagai salah satu solusi untuk memastikan dan menjamin praktik pengelolaan kawasan wisata yang berkelanjutan, pengembangan produk yang ramah lingkungan, serta meningkatkan inklusivitas.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Secara prinsip utamanya, <em>blockchain<\/em> adalah buku besar digital yang terpusat dan terdistribusi yang berfungsi sebagai penyimpan catatan mutlak yang untuk berbagai transaksi dan aktivitas di dalam suatu rantai nilai. <em>Blockchain<\/em> juga menawarkan transparansi aktivitas dan transaksi berbasis jaringan, yang mana kerahasiaan pihak yang terlibat dijaga oleh protokol kriptografi dan pesan terenkripsi, sehingga sistem keamanan teknologi <em>blockchain<\/em> terbilang sangat tinggi. Teknologi <em>blockchain<\/em> juga dapat menjadi <em>breakthrough<\/em> untuk mengurangi biaya transaksi dan biaya operasional melalui pemanfaatan token untuk melakukan transaksi guna dipertukarkan dan dialokasikan secara langsung, serta tepat kepada para pemangku kepentingan yang berada di dalam platform pengalaman tersebut, termasuk pengenaan pajak.<\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><a href=\"https:\/\/vokasi.ui.ac.id\/web\/wp-content\/uploads\/2024\/01\/Kepulauan-Seribu-yang-menjadi-salah-satu-destinasi-untuk-pengembangan-smart-tourism.jpeg\"><img data-dominant-color=\"5f7a90\" data-has-transparency=\"false\" style=\"--dominant-color: #5f7a90;\" loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter wp-image-263703 not-transparent\" src=\"https:\/\/vokasi.ui.ac.id\/web\/wp-content\/uploads\/2024\/01\/Kepulauan-Seribu-yang-menjadi-salah-satu-destinasi-untuk-pengembangan-smart-tourism.jpeg\" alt=\"\" width=\"500\" height=\"375\" \/><\/a>(Foto: Kepulauan Seribu yang menjadi salah satu destinasi untuk pengembangan <em>smart tourism<\/em>)<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Penelitian yang dilakukan bersama dosen lainnya ini, yaitu Dr. Sri Sarjana, Dr. Budiman Mahmud Musthofa, S.Sos., M.Si., Hadining Kusumastuti, S.Sos., M.Ak., dan Prof. Ts. Dr. Mohamad Sattar Rasul, didapatkan bahwa teknologi ini menjadi <em>enabler<\/em> untuk menerapkan berbagai inovasi teknologi lain, seperti <em>circular economy<\/em> untuk mempercepat kemajuan pariwisata suatu wilayah khususnya wilayah perairan. \u201cDalam mengadaptasi konsep ekonomi biru (<em>blue economy<\/em>), wilayah perairan di Indonesia khususnya di Kepulauan Seribu, dapat mengembangkan bauran produk bahari, seperti wisata bahari\/pesisir, konservasi laut, produk olahan laut, dan lainnya, serta memastikan praktik keberlanjutan dilaksanakan secara konsisten,\u201d ujar Dr. Diaz.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Lebih lanjut ia mengatakan, teknologi <em>blockchain<\/em> dapat digunakan untuk memastikan tiap aspek dalam pengembangan <em>blue economy<\/em> dilakukan karena sifatnya yang transparan, dapat ditelusuri jejaknya (<em>traceability<\/em>), tidak dapat dihilangkan atau dihapus, terdesentralisasi dan dapat dioperasikan oleh banyak aktor (<em>interoperability<\/em>) sesuai dengan perannya masing-masing. Oleh karena itu, dukungan terhadap pelestarian sumber daya kelautan, pelaksanaan ekonomi sirkular kelautan, dan pemulihan kesehatan ekosistem kelautan yang bernilai dominan untuk meningkatkan kualitas ekonomi kelautan, dapat dipastikan pelaksanaannya melalui pemanfaatan teknologi <em>blockchain<\/em>. Hal ini bertujuan untuk memastikan terwujudnya pengembangan <em>smart tourism<\/em> di suatu wilayah khususnya daerah kepulauan yang penuh tantangan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Penggunaan teknologi digital belum begitu dominan dalam industri pariwisata seperti saat ini. Bukan hanya untuk mendukung suatu destinasi dalam mencapai daya saing, melainkan juga untuk menghubungkan produk dan layanannya ke pasar global, serta memungkinkannya untuk mengintegrasikan seluruh sumber daya yang ada. \u201cLiterasi digital merupakan kompetensi yang penting untuk diperjuangkan di era digital saat ini. Sangat penting bagi <em>local talents<\/em> di destinasi wisata dan perlu didukung oleh negara untuk meningkatkan literasi digital ini, sehingga mereka dapat lebih mudah beradaptasi dengan teknologi baru dan inovatif di kemudian hari. Literasi digital SDM di wilayah pariwisata tersebut akan mempengaruhi keberhasilan adopsi teknologi <em>blockchain<\/em>, serta mendukung pengembangan <em>smart tourism<\/em>,\u201d ujar Diaz.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Hasil penelitian tersebut menyatakan bahwa literasi digital dan <em>blue economy<\/em> secara signifikan mempengaruhi kemampuan untuk mengadaptasi dan memanfaatkan teknologi <em>blockchain<\/em> secara optimal, yang pada akhirnya berdampak pada pencapaian <em>smart tourism<\/em> untuk meningkatkan daya saing dan keberlanjutan suatu destinasi. Literasi informasi menjadi dimensi yang mempunyai pengaruh paling tinggi dalam membentuk literasi digital, sedangkan pemulihan kesehatan ekosistem laut mempunyai dampak penting dalam penguatan <em>blue economy<\/em>.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Perkembangan berbagai aspek, termasuk literasi digital, <em>blue economy<\/em>, dan teknologi <em>blockchain<\/em> dapat ikut mendorong keberlanjutan industri pariwisata. Selanjutnya, perlu dikembangkan beberapa konsep turunan pembangunan pariwisata berkelanjutan dalam bentuk kajian mendatang, khususnya pada konsep kerja sama maritim, kinerja ekonomi melalui tokenisasi, pengembangan teknologi biomimikri, serta konservasi kawasan wisata pesisir dan laut.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Depok-Smart tourism merupakan sebuah konsep pengembangan sektor pariwisata yang memanfaatkan teknologi informasi untuk membangun infrastruktur pengalaman wisata, termasuk pengalaman wisatawan dalam mengakses informasi sebelum, selama, dan setelah berwisata. Smart tourism mengoneksikan semua bagian dalam rantai nilai pariwisata ke dalam platform digital pariwisata yang dinamis, sehingga wisatawan dapat mengkreasikan dan memproduksi pengalaman bersama dengan penyedia layanan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":4,"featured_media":263701,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_et_pb_use_builder":"","_et_pb_old_content":"","_et_gb_content_width":"","wpai_meta_description":"","footnotes":""},"categories":[476],"tags":[],"class_list":["post-263700","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-featurevok"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/vokasi.ui.ac.id\/web\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/263700","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/vokasi.ui.ac.id\/web\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/vokasi.ui.ac.id\/web\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/vokasi.ui.ac.id\/web\/wp-json\/wp\/v2\/users\/4"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/vokasi.ui.ac.id\/web\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=263700"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/vokasi.ui.ac.id\/web\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/263700\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":263706,"href":"https:\/\/vokasi.ui.ac.id\/web\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/263700\/revisions\/263706"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/vokasi.ui.ac.id\/web\/wp-json\/wp\/v2\/media\/263701"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/vokasi.ui.ac.id\/web\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=263700"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/vokasi.ui.ac.id\/web\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=263700"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/vokasi.ui.ac.id\/web\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=263700"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}