{"id":23386,"date":"2020-07-27T09:26:59","date_gmt":"2020-07-27T02:26:59","guid":{"rendered":"https:\/\/vokasi.ui.ac.id\/web\/?p=23386"},"modified":"2021-11-06T00:48:06","modified_gmt":"2021-11-05T17:48:06","slug":"mengenal-faizah-abdullah-dosen-vokasi-ui-yang-ingin-memajukan-profesi-fisioterapis-melalui-edukasi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/vokasi.ui.ac.id\/web\/mengenal-faizah-abdullah-dosen-vokasi-ui-yang-ingin-memajukan-profesi-fisioterapis-melalui-edukasi\/","title":{"rendered":"Mengenal Faizah Abdullah, Dosen Vokasi UI yang Ingin Memajukan Profesi Fisioterapis melalui Edukasi"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify\">Depok &#8211; Profesi fisioterapis masih asing bagi sejumlah kalangan masyarakat. Jurusan fisioterapi juga tidak sepopuler jurusan lainnya di mata siswa-siswi saat memilih program studi di bangku perkuliahan. Berangkat dari tantangan tersebut, <strong>Faizah Abdullah, S.St.Ft., S.Ft., M.Biomed.<\/strong>, seorang dosen Program Studi Fisioterapi Program Pendidikan Vokasi Universitas Indonesia (UI), ingin menjawab tantangannya dan memajukan profesi fisioterapis melalui edukasi.<\/p>\n<p>Faizah mulai berkarier di sebuah klinik fisioterapi di Jakarta setelah berhasil menyelesaikan studinya di tahun 2010 pada program diploma tiga fisioterapi di UI. Pada tahun 2013, ia kemudian memutuskan untuk terjun ke dunia pendidikan sebagai tenaga pengajar di Vokasi UI. Bersamaan dengan kegiatan mengajarnya, Faizah juga tetap menjalani profesinya sebagai fisioterapis yang langsung menangani pasien. Fisioterapi merupakan suatu pelayanan kesehatan yang mengupayakan pengembangan, pemeliharaan, dan pemulihan gerak dan fungsi dengan menggunakan modalitas fisik, mekanis atau elektroterapeutis yang ditujukan kepada suatu individu\/kelompok.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Faizah menuturkan, \u201cTerkadang fisioterapi masih sering dilabeli sebagai pijat saja. Stigma tersebut tidaklah benar. Perlu diluruskan bahwa pijat sebenarnya hanya sebagian kecil intervensi dalam pemberian terapi kepada pasien, bahkan sudah sangat jarang digunakan. Kenyataannya, banyak <em>treatment<\/em> lain yang dilakukan oleh fisioterapis dengan mengedepankan intervensi yang berbasis bukti (<em>evidence-based<\/em>). Sebut saja teknik melatih pasien stroke untuk berjalan, bermacam-macam penggunaan alat elektroterapi, dan lainnya.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Faizah juga menjelaskan bahwa fisioterapi sendiri memiliki rentang dari promotif berupa edukasi kepada masyarakat sampai dengan rehabilitatif yang merupakan pemulihan. Peluang di dunia fisioterapi sendiri cukup tinggi seiring meningkatnya angka harapan hidup saat ini. \u201cTingkat kebutuhan fisioterapi sendiri juga ikut meningkat. Salah satunya adalah fisioterapi lansia. Jadi lulusan fisioterapi tidak perlu takut, karena peluang terbuka luas baik di rumah sakit, klinik, atau bahkan praktek pribadi,\u201d ujar Faizah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Dari sisi keilmuan, Faizah juga aktif menulis penelitian di bidang neurosains, <em>exercise<\/em> dan muskuloskeletal. Faizah memfokuskan dirinya di bagian muskuloskeletal, yaitu hal-hal yang berkaitan dengan otot, tulang, sendi, dan jaringan penyusun rangka tubuh lainnya. Saat ini, ia juga mulai mendalami ke bagian kesehatan wanita. Kasus-kasus yang berkaitan dengan muskuloskeletal, namun spesifik hanya dialami oleh wanita saja. Misalnya, pasien pasca operasi pengangkatan payudara akibat kanker, ibu hamil yang memiliki nyeri pinggang, dan lainnya. \u201cWanita itu kompleks dan perlu dukungan dalam berbagai fase kehidupannya, maka sangat menarik untuk mendalami hal tersebut,\u201d kata Faizah yang pernah mendapat beasiswa untuk mengikuti pelatihan Retooling Kompetensi Dosen Bidang Kesehatan di Melbourne, Australia ini.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">\u201cSebagai dosen Vokasi UI, pengajaran yang kami lakukan memiliki komposisi sebanyak 70% praktek dan 30% teori. Maka dari itu, ilmu yang saya sampaikan kepada mahasiswa harus relevan dengan perkembangan terkini. Dengan demikian, saya berusaha mampu menjalankan profesi fisioterapis dan dosen secara bersamaan. Dengan tetap menjalankan praktek fisioterapi, saya juga memperoleh ragam kasus dan perkembangannya dari para pasien,\u201d ujar Faizah menjelaskan kesehariannya sebagai dosen maupun fisioterapis.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Selain mengedukasi para mahasiswa di kampus, Faizah juga berupaya mendekatkan profesi Fisioterapi kepada masyarakat. Faizah membentuk kanal edukasi \u201c<em>Get Fit with Physio<\/em>\u201d di Instagram dan Facebook Fanpage. Melalui <em>Get Fit with Physio<\/em>, Faizah aktif membagikan informasi-informasi seputar manfaat fisioterapi, aspek-aspek dalam fisioterapi, serta profesi Fisioterapis itu sendiri.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Selama bekerja menjadi seorang fisioterapis, terdapat beberapa kendala yang dialami oleh Faizah. \u201cBiasanya ekspektasi dari pasien yang mengharapkan sekali fisioterapi langsung sehat. Sedangkan, proses penyembuhan gak seinstan itu. Tergantung dengan kondisi penyakit dan respons tubuh terhadap terapi yang diberikan. Tidak jarang pula pasien yang kurang sabar dengan tindakan terapi yang dilakukan. Menurutnya, membangun kepercayaan melalui edukasi dan komunikasi yang baik kepada pasien sangat penting. Selain itu, dibutuhkan kerjasama serta komitmen antara fisioterapis dan pasien agar hasil terapi menjadi optimal,\u201d kata Faizah.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Depok &#8211; Profesi fisioterapis masih asing bagi sejumlah kalangan masyarakat. Jurusan fisioterapi juga tidak sepopuler jurusan lainnya di mata siswa-siswi saat memilih program studi di bangku perkuliahan. Berangkat dari tantangan tersebut, Faizah Abdullah, S.St.Ft., S.Ft., M.Biomed., seorang dosen Program Studi Fisioterapi Program Pendidikan Vokasi Universitas Indonesia (UI), ingin menjawab tantangannya dan memajukan profesi fisioterapis melalui [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":4,"featured_media":23371,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_et_pb_use_builder":"","_et_pb_old_content":"","_et_gb_content_width":"","footnotes":""},"categories":[476],"tags":[],"class_list":["post-23386","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-featurevok"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/vokasi.ui.ac.id\/web\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/23386","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/vokasi.ui.ac.id\/web\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/vokasi.ui.ac.id\/web\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/vokasi.ui.ac.id\/web\/wp-json\/wp\/v2\/users\/4"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/vokasi.ui.ac.id\/web\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=23386"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/vokasi.ui.ac.id\/web\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/23386\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/vokasi.ui.ac.id\/web\/wp-json\/wp\/v2\/media\/23371"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/vokasi.ui.ac.id\/web\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=23386"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/vokasi.ui.ac.id\/web\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=23386"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/vokasi.ui.ac.id\/web\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=23386"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}