Depok-Industri gim merupakan salah satu subsektor ekonomi kreatif yang berkembang pesat di Indonesia. Data Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa nilai pasa gim Indonesia telah melampaui 2 miliar dolar AS per tahun, dengan jumlah pemain yang terus meningkat siring penetrasi internet dan penggunaan perangkat mobile. Tetapi, lebih dari 90% pendapatan industri gim di Indonesia masih berasal dari produk luar negeri, sehingga potensi devisa dari industri ini belum optimal dimanfaatkan oleh pengembang lokal. Melihat fenomena tersebut, program studi (prodi) Magister Terapan Industri Kreatif, Program Pendidikan Vokasi, Universitas Indonesia (UI), menyelenggarakan kuliah dosen tamu bertajuk “Peran Industri Game untuk Meningkatkan Devisa Negara: Peluang dan Tantangan” pada Rabu (22/04/2026) secara daring.

Kuliah dosen tamu ini menghadirkan Shafiq Husein, President of Indonesian Game Association, yang menyoroti peran strategis industri gim dalam meningkatkan devisa negara. Dalam paparannya, ia menjelaskan bahwa kontribusi tersebut berasal dari berbagai saluran ekonomi, di antaranya adalah ekspor produk gim ke pasar global, kerja sama produksi dengan studio internasional, e-sports, investasi asing, hingga monetisasi konten digital berbasis platform global. Shafiq mengatakan, “Ketika pengembang Indonesia mampu menembus pasar global melalui platform seperti Steam, App Store, dan Google Play, maka setiap transaksi dari pengguna luar negeri menjadi bagian dari ekspor digital yang berkontribusi langsung terhadap devisa negara. Selain itu, kolaborasi co-development dengan studio internasional juga membuka peluang pemasukan melalui jasa kreatif berbasis ekspor.”

(Foto: Sesi diskusi saat kuliah dosen tamu bersama Shafiq Husein)

Lebih lanjut, Shafiq menjelaskan bahwa kontribusi industri gim juga diperkuat oleh ekosistem pendukung, seperti e-sports dan kreator konten digital. Atlet e-sports Indonesia yang berkompetisi di tingkat internasional dapat membawa pemasukan melalui hadiah turnamen dan sponsor global, sementara kreator konten yang mengangkat gim lokal berpotensi memperoleh pendapatan dari pasar internasional melalui iklan, donasi, maupun kerja sama brand.

Ia juga menekankan pentingnya pengembangan intellectual property (IP) lokal sebagai aset jangka panjang dalam industri gim. Menurutnya, gim yang sukses tidak hanya menghasilkan pendapatan dari produk utamanya, tetapi juga membuka peluang pengembangan ke berbagai produk turunan seperti film, komik, merchandise, hingga lisensi global yang berkontribusi terhadap devisa melalui royalti. “Meski demikian, untuk memaksimalkan potensi tersebut, Indonesia masih perlu memperkuat ekosistem industri, terutama dalam hal akses pendanaan, pengembangan talenta, serta dukungan regulasi yang berpihak pada pelaku industri lokal. Kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan industri menjadi kunci untuk mendorong daya saing gim Indonesia di pasar global,” tambah Shafiq.

Ketua Program Studi Magister Terapan Industri Kreatif, Dr. Dewi Kartika Sari, S.E., M.S.Ak., CA, menyampaikan bahwa kegiatan ini menjadi bagian penting dalam memperkuat keterkaitan antara dunia akademik dan industri. “Melalui kuliah dosen tamu ini, mahasiswa mendapatkan wawasan langsung dari praktisi industri mengenai peluang dan tantangan nyata di sektor gim. Sehingga, hal ini diharapkan dapat mendorong lahirnya strategi inovatif serta meningkatkan kesiapan mahasiswa dalam menghadapi dinamika industri kreatif global,” kata Ika.

Kuliah dosen tamu yang terintegrasi dengan mata kuliah Kapita Selekta Industri Kreatif ini diharapkan dapat memperkuat kompetensi para mahasiswa dalam memahami dinamika dan perkembangan industri kreatif. Industri gim diharapkan tidak hanya menjadi sektor hiburan, tetapi juga berperan sebagai motor penggerak ekonomi digital serta kontributor signifikan terhadap devisa negara Indonesia.