Depok-Program Pendidikan Vokasi Universitas Indonesia (UI) sukses menyelenggarakan konferensi internasional bergengsi, The 3rd Asian Physiotherapy Network Conference (APNC) 2026. Bertempat di Auditorium Vokasi UI pada Sabtu (14/02/2026), forum ini menjadi titik temu bagi para praktisi, peneliti, dan akademisi fisioterapi se-Asia untuk merancang masa depan profesi yang berbasis bukti (evidence-based) dan teknologi.
Dengan tema besar “Building the Future of Physiotherapy: Academic Networks and the Power of Evidence”, konferensi ini bertujuan memperkuat sinergi lintas negara dalam meningkatkan kualitas layanan rehabilitasi di tingkat global.
Wakil Direktur Bidang Pendidikan, Penelitian, dan Kemahasiswaan Vokasi UI, Badrul Munir, Ph.D., dalam sambutannya, menegaskan bahwa konferensi ini merupakan bagian dari strategi internasionalisasi Vokasi UI. “APNC menjadi wadah penting untuk memperkuat budaya riset, memperluas jejaring akademik global. Vokasi UI berupaya mendorong mahasiswa dan dosen untuk aktif dalam jejaring akademik internasional agar mampu menghasilkan karya ilmiah yang berdampak dan relevan dengan kebutuhan masyarakat,” ungkap Munir.
(Foto: Wakil Direktur Bidang Pendidikan, Penelitian, dan Kemahasiswaan Vokasi UI, Badrul Munir, Ph.D., saat memberikan sambutan pada The 3rd Asian Physiotherapy Network Conference (APNC) 2026)
Sorotan utama konferensi datang dari Prof. Dr. Feryal Subasi, Head of Physiotherapy & Rehabilitation, Faculty of Health Sciences, Yeditepe University, Turki, yang membawakan topik “From Proprioception to Machine Learning: New Strategies for Enhancing Physiotherapy Progress in Multiple Sclerosis”. Dalam paparannya, Prof. Subasi menjelaskan bahwa Multiple Sclerosis (MS) merupakan penyakit autoimun kronis sistem saraf pusat yang menyerang sekitar 2,8 juta orang secara global. MS berdampak multidimensional—motorik, sensorik, kognitif, hingga psikologis—sehingga membutuhkan pendekatan rehabilitasi yang komprehensif dan terintegrasi.
Salah satu isu utama dalam MS adalah fatigue, yang dialami lebih dari 80% pasien. Ia menjelaskan bahwa fatigue bukan sekadar rasa lelah biasa, melainkan berkaitan dengan gangguan sirkuit saraf pusat (cortico-striato-thalamo-cortical loop) yang memengaruhi fungsi kognitif seperti perencanaan dan pengambilan keputusan. Prof. Subasi mengatakan, “Sesi latihan minimal 40 menit merupakan ambang penting (therapeutic active dose) untuk mendorong neuroplastisitas dan perbaikan motorik. Durasi dan intensitas latihan berhubungan langsung dengan peningkatan skor Berg Balance Scale (BBS) hingga rata-rata 4 poin, yang secara klinis bermakna dalam mengurangi risiko jatuh,” ujarnya.
(Foto: Suasana kegiatan konferensi internasional The 3rd Asian Physiotherapy Network Conference (APNC) 2026, salah satunya poster ilmiah yang dipublikasikan)
Sementara itu, Yorimitsu Furukawa, PT, Ph.D dari Tokyo Metropolitan University membahas tentang “Revisiting the Roots of Physical Therapy in Japan”; Hironobu Kuruma dari Tokyo Metropolitan University membahas “Mentored Clinical Practice through video -The trial to develop clinical reasoning skills-”; Assoc. Prof. Gokhan YAGIZ dari Tokyo Metropolitan University membahas “Ultrasound Principles and Muscle Architecture”; Abdul Chalik Meidian, S.A.P, Ftr, M.Fis., Ph.D dari Universitas Esa Unggul membahas tentang “The Development of Physiotherapy Education and Research in Indonesia”; serta Assoc. Prof. Dr. Aditya Denny Pratama, S.St.Ft., M.Fis., NMTC.TC dari Universitas Indonesia membahas “Inclusion Model for Enhancing Resilience in Children with Disabilities: Study of Children with Cerebral Palsy in Jakarta”.
Project Director 3rd APNC, Riza Pahlawi, Str.Ftr., M.Kes., menegaskan bahwa konferensi ini tidak hanya berfokus pada penguatan jejaring akademik, tetapi juga memiliki relevansi terhadap agenda pembangunan dan penguatan Fisioterapi di kancah global. “Kolaborasi riset fisioterapi lintas negara seperti yang terbangun dalam APNC secara langsung berkontribusi pada pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya Tujuan 3 tentang Good Health and Well-Being melalui peningkatan kualitas layanan rehabilitasi berbasis bukti, serta Tujuan 4 tentang Quality Education melalui penguatan pendidikan tinggi dan riset internasional. Selain itu, jejaring kolaboratif Asia ini juga sejalan dengan Tujuan 17, yaitu Partnerships for the Goals, karena membangun kemitraan strategis untuk kemajuan ilmu dan kesehatan masyarakat,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa pengembangan teknologi rehabilitasi, integrasi riset, serta peningkatan kapasitas akademik merupakan investasi jangka panjang dalam sistem kesehatan yang inklusif dan berkelanjutan. Melalui penyelenggaraan 3rd APNC 2026, Vokasi UI terus berupaya untuk menjadi bagian aktif dalam transformasi fisioterapi Asia yang kolaboratif, adaptif terhadap perkembangan ilmu dan teknologi, serta konsisten mengedepankan praktik berbasis bukti demi peningkatan kualitas hidup pasien di tingkat regional maupun global.




