Depok-Menjadi mahasiswa tidak menghalangi Bagus Putra Maslihan, mahasiswa program studi (prodi) Bisnis Kreatif, Sekolah Vokasi, Universitas Indonesia (UI) angkatan 2023, untuk mulai membangun bisnisnya sendiri. Berbekal ide, pengalaman keluarga di bidang food and beverage (F&B), serta keinginan untuk semakin mandiri secara finansial, Bagus merintis usaha minuman berbasis teh bernama Twintea.
Gagasan pendirian Twintea berawal dari inisiatif pribadi Bagus saat memasuki masa akhir perkuliahan. Kondisi ekonomi keluarga saat itu turut mendorongnya untuk mencari peluang yang dapat memberikan nilai ekonomi sekaligus menjadi bekal untuk pengembangan kariernya setelah menyelesaikan pendidikan. Berbekal pengalaman dan latar belakang keluarga yang telah lebih dahulu berkecimpung dalam bisnis F&B membuat Bagus memiliki pemahaman awal mengenai pengelolaan usaha di bidang tersebut.
“Waktu itu saya berpikir bahwa kalau memiliki ide bisnis dan bisa direalisasikan dengan baik, usaha tersebut tidak hanya dapat membantu secara finansial, tetapi juga menjadi bekal untuk karier saya ke depan. Kebetulan orang tua juga memiliki usaha di bidang F&B, sehingga sedikit banyak saya sudah memiliki pengetahuan mengenai bisnis makanan dan minuman,” ujar Bagus.
(Foto: Animo pengunjung Twintea di Kantin Vokasi)
Untuk merealisasikan ide tersebut, Bagus kemudian menggandeng rekan yang juga merupakan sesama mahasiswa sebagai mitra bisnis karena adanya keterbatasan modal awal, yaitu Tzar Madani Pasha. Kolaborasi tersebut menjadi langkah awal untuk mengembangkan gagasan yang sebelumnya dirancang Bagus secara mandiri menjadi sebuah usaha yang dapat beroperasi secara langsung.
Nama Twintea sendiri memiliki cerita personal bagi Bagus. Kata twin yang berarti kembar terinspirasi dari Bagus yang terlahir sebagai anak kembar sedangkan kata tea merepresentasikan produk utama yang ditawarkan. Nama tersebut menjadi identitas yang menghubungkan latar belakang personal sang pendiri dengan karakter produk Twintea. Filosofi tersebut sekaligus menggambarkan dua unsur yang berjalan berdampingan: cerita personal dan gagasan bisnis yang kemudian dipertemukan dalam satu identitas merek.
Saat ini, Twintea memiliki tiga produk signature, yakni Honey Tea, Milk Tea, dan Lychee Tea. Selain itu, terdapat beberapa varian lainnya seperti Lemon Tea, Grape Tea, dan Strawberry Tea. Bagus bersama tim juga terus melakukan pengembangan produk untuk menghadirkan varian baru sesuai dengan selera pasar.
Pilihan terhadap minuman berbasis teh juga memiliki potensi pasar tersendiri. Berdasarkan Statistik Konsumsi Pangan 2025 yang diterbitkan Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian, Kementerian Pertanian RI, dengan sumber data Susenas BPS, rata-rata konsumsi air teh kemasan masyarakat Indonesia pada 2025 tercatat sebesar 8,52 kemasan ukuran 250 mililiter per kapita per tahun. Data tersebut memperlihatkan bahwa produk teh kemasan tetap menjadi bagian dari pola konsumsi minuman masyarakat Indonesia.
Di tengah beragam produk minuman berbasis teh yang telah tersedia, Twintea mencoba mengambil posisi sebagai minuman yang praktis dengan pilihan rasa beragam dan harga yang terjangkau, terutama bagi kalangan mahasiswa. Segmentasi tersebut juga selaras dengan visi Twintea untuk hadir sebagai “teman” atau pendamping makanan bagi mahasiswa.
“Kami ingin Twintea menjadi teman bagi mahasiswa. Jadi, ketika mereka makan di kantin atau membutuhkan minuman di sela aktivitas perkuliahan, Twintea bisa menjadi salah satu pilihannya. Karena itu, kami berusaha menyediakan beberapa varian teh dengan harga yang tetap terjangkau untuk mahasiswa,” kata Bagus.
(Foto: Twintea di Kantin Fakultas Teknik Universitas Pancasila)
Menjalankan bisnis bersamaan dengan perkuliahan tentu menghadirkan tantangan tersendiri. Bagus mengakui bahwa pembagian waktu menjadi salah satu tantangan terbesar selama mengembangkan Twintea. Ketika operasional bisnis mulai menunjukkan perkembangan positif, ia harus memastikan kegiatan usaha tidak mengganggu kewajiban akademiknya.
Salah satu strategi yang diterapkan adalah melibatkan karyawan yang juga berstatus mahasiswa dan menyusun sistem kerja secara bergantian. Pembagian shift disesuaikan dengan jadwal kuliah sehingga kegiatan akademik dan operasional bisnis tetap dapat berjalan beriringan. Selain manajemen waktu, keterbatasan pendanaan juga menjadi tantangan yang membuat pengembangan dan ekspansi Twintea dilakukan secara bertahap.
Bagus mengatakan, “Karena modalnya masih dalam skala mahasiswa, tentu kami belum bisa melakukan ekspansi secara besar-besaran. Jadi, pengembangan bisnis dilakukan perlahan sambil melihat kemampuan dan kondisi usaha. Pembagian waktu juga menjadi tantangan karena kami tetap memiliki tanggung jawab sebagai mahasiswa.”
Bagus menilai pembelajaran yang diperolehnya sebagai mahasiswa Bisnis Kreatif turut membantunya dalam mengembangkan Twintea. Sejumlah mata kuliah, seperti Manajemen Bisnis dan Manajemen Risiko, memberikan landasan teoritis yang kemudian dapat ia implementasikan secara langsung ketika mengambil keputusan dalam menjalankan usaha.
Baginya, pengalaman membangun Twintea menjadi ruang untuk mempertemukan teori yang dipelajari di kelas dengan berbagai kondisi nyata dalam dunia bisnis. Mulai dari pengelolaan operasional, pengambilan keputusan, mitigasi risiko, pengelolaan sumber daya, hingga membaca peluang pasar menjadi pengalaman yang diperoleh secara langsung selama merintis usaha tersebut.
Salah satu pencapaian yang paling membanggakan bagi Bagus adalah kemampuan Twintea mencapai break-even point (BEP) atau titik impas dalam waktu relatif singkat sejak usaha tersebut berjalan. Capaian itu menjadi salah satu indikator awal bahwa konsep bisnis yang dikembangkan dapat diterima oleh pasar sekaligus memberikan motivasi bagi tim untuk terus mengembangkan Twintea.
Kini, Twintea telah beroperasi di dua lokasi, yakni Kantin Sekolah Vokasi UI dan Kantin Fakultas Teknik Universitas Pancasila. Kedua gerai beroperasi setiap Senin hingga Sabtu pukul 08.00–17.00 WIB, kecuali pada hari libur nasional.
Ke depan, Bagus berharap Twintea tidak hanya mampu mempertahankan keberlangsungan bisnis, tetapi juga semakin dikenal sebagai produk minuman yang dekat dengan kehidupan mahasiswa. Ia bersama tim juga berencana terus mengembangkan produk dan peluang ekspansi secara bertahap sesuai dengan perkembangan bisnis.
“Saya berharap Twintea bisa terus berjalan lancar dan semakin berkembang. Kami ingin Twintea benar-benar menjadi teman bagi mahasiswa, khususnya sebagai minuman pendamping makanan mereka. Semoga ke depan usahanya semakin sukses dan bisa menjangkau lebih banyak konsumen,” tutup Bagus.
Sebagai mahasiswa Sekolah Vokasi UI, Bagus mengimplementasikan nilai KITA—Kompeten, Integritas, Transformatif, dan Adaptif—dalam mengembangkan gagasan Twintea menjadi langkah nyata yang memadukan kompetensi, integritas, inovasi, serta kemampuan beradaptasi terhadap peluang dan tantangan dunia usaha.




