Depok-Tujuh mahasiswa Sekolah Vokasi Universitas Indonesia (UI) turut mengharumkan nama universitas di kancah internasional bersama Paduan Suara Mahasiswa Universitas Indonesia (PSM UI) Paragita. Mereka berhasil meraih predikat Winner pada dua kategori dalam ajang Singapore International Choral Festival (SICF) 2026, yang diselenggarakan pada 16–20 Juli 2026 di Singapura.
Ketujuh mahasiswa Vokasi UI tersebut adalah Aryasatya Dika Prasetyo (Administrasi Asuransi dan Aktuaria 2025) sebagai Tenor 2; Mikhail Fabian Prasetyo (Bisnis Kreatif angkatan 2025) sebagai Tenor 1; Raymond Nugraha Situmorang (Administrasi Keuangan dan Perbankan angkatan 2024) sebagai Tenor 1; serta Kartika Arta Dewi (Fisioterapi angkatan 2022) sebagai Alto 1. Selain itu, terdapat Tiara Caroline Wowiling (Hubungan Masyarakat angkatan 2024) sebagai Alto 2; Giselle Claresta Palyama (Periklanan Kreatif angkatan 2024) sebagai Sopran 1; dan Dorothea Christ Drupadi, (Periklanan Kreatif angkatan 2024) sebagai Sopran 1.
Singapore International Choral Festival merupakan ajang festival sekaligus kompetisi paduan suara berskala internasional yang mempertemukan lebih dari 500 kelompok paduan suara dari berbagai negara setiap tahunnya. Kompetisi ini menjadi salah satu panggung bagi kelompok paduan suara untuk menampilkan kualitas dan kemampuan musikal, teknik vokal, interpretasi, dan kekompakan mereka di tingkat global. SICF 2026 diselenggarakan oleh One Choral Company dan RAVE Group, serta berkolaborasi dengan International Federation for Choral Music dan Choral Directors’ Association (Singapore). Dalam kompetisi tersebut, PSM UI Paragita berhasil meraih predikat Winner pada kategori B2 Mixed Voices 25 Years and Below dan S Musica Sacra Open.
(Foto: Penampilan PSM UI Paragita di Singapore International Choral Festival 2026)
Pada kategori B2 Mixed Voices 25 Years and Below yang berlangsung di Yong Siew Toh Conservatory of Music, PSM UI Paragita membawakan tiga komposisi, yaitu Father Thunder karya Laura Jēkabsone yang diadaptasi dari lagu rakyat Latvia; There Is an Old Belief karya C. Hubert H. Parry dan John Gibson Lockhart; serta All Seems Beautiful to Me karya Eric Whitacre dengan teks puisi Walt Whitman.
Sementara itu, pada kategori S Musica Sacra Open yang diselenggarakan di Victoria Concert Hall, Paragita membawakan Laudate Dominum karya Ian Gabriel; Die mit Tränen säen werden, SWV 378 karya Heinrich Schütz; dan Deliver Me, O Lord karya Tine Bec.
Keberhasilan dalam kedua kategori tersebut mengantarkan PSM UI Paragita untuk tampil dalam babak Grand Prix di Esplanade Concert Hall, Singapura. Pada babak tersebut, Paragita membawakan dua karya, yaitu Laudate Dominum karya Ian Gabriel dan I Touch God in My Song karya Ivo Antognini.
Kartika Arta Dewi mengungkapkan bahwa pencapaian tersebut menjadi pengalaman yang sangat berkesan. Menurutnya, predikat Winner tidak hanya merepresentasikan keberhasilan di atas panggung, tetapi juga menjadi hasil dari proses latihan panjang, disiplin, serta kerja sama seluruh anggota tim. “Bagi saya pribadi, pencapaian ini terasa sangat spesial. Menyandang gelar Winner dalam kompetisi internasional bukan hanya soal trofi, melainkan buah dari proses panjang, latihan yang tidak sebentar, dan kerja sama tim yang solid,” ujar Arta.
Bagi Arta, pencapaian tersebut memiliki makna yang istimewa karena diraih pada masa transisi dari dunia pendidikan menuju dunia profesional. Ia memandang keberhasilan itu sebagai bukti bahwa usaha dan kegemaran yang dijalani secara konsisten dapat memberikan hasil yang membanggakan. “Pencapaian ini datang bertepatan dengan babak baru dalam hidup saya sebagai mahasiswa yang akan segera lulus dan mulai meniti karier. Rasanya seperti menjadi bukti kecil bahwa usaha dan passion yang dijalani dengan konsisten akan membuahkan hasil,” tambahnya.
Arta menjelaskan bahwa persaingan dalam SICF 2026 berlangsung ketat. PSM UI Paragita tidak hanya berkompetisi dengan kelompok paduan suara dari negara-negara Asia Tenggara, tetapi juga peserta dari Selandia Baru, Sri Lanka, Republik Ceko, dan sejumlah negara Eropa lainnya. Setiap kelompok membawa karakter vokal, gaya interpretasi, dan kekuatan musikal yang berbeda. Untuk menghadapi kompetisi tersebut, PSM UI Paragita menjalani persiapan selama lebih kurang empat bulan. Latihan intensif dilaksanakan hampir setiap hari dengan target yang jelas pada setiap sesi. Proses tersebut menuntut kedisiplinan, konsistensi, ketahanan fisik, serta kemampuan setiap anggota dalam menjaga kualitas penampilan.
(Foto: Tujuh mahasiswa Vokasi UI yang tampil memukau bersama PSM UI Paragita)
Sebagai bagian dari sivitas akademika Vokasi UI yang aktif dalam kegiatan paduan suara, Kartika turut merasakan tantangan dalam membagi waktu antara kegiatan akademik dan latihan. Selama masa persiapan, ia harus menyelesaikan berbagai kewajiban, mulai dari Objective Structured Clinical Examination (OSCE), penyusunan skripsi, hingga latihan paduan suara yang berlangsung intensif hampir setiap hari. Arta mengatakan, “Pada awalnya tentu tidak mudah, terlebih ketika jadwal latihan bertepatan dengan kegiatan akademik. Namun, pengalaman mengikuti kompetisi mengajarkan banyak hal kepada saya, mulai dari kerja sama tim, ketahanan mental, hingga cara untuk tetap memberikan penampilan terbaik dalam kondisi lelah maupun di bawah tekanan,” kata Kartika.
Ia juga mendorong mahasiswa Vokasi UI untuk tidak ragu mengembangkan potensi dan minat di luar bidang akademik. Menurutnya, kegiatan kemahasiswaan dapat menjadi ruang pembelajaran yang membentuk kemampuan interpersonal, kedisiplinan, dan kematangan diri. “Bagi teman-teman yang memiliki minat di luar bidang akademik, jangan takut untuk tetap mengejarnya. Selama kita mampu disiplin dan menjaga keseimbangan, teruslah mengejar hal-hal yang membuat kita berkembang. Pada akhirnya, pengalaman tersebut akan membentuk kita menjadi pribadi yang lebih utuh, bukan hanya unggul dalam satu bidang,” tuturnya.
Keberhasilan tujuh mahasiswa dan lulusan Vokasi UI bersama PSM UI Paragita dalam SICF 2026 menunjukkan bahwa mahasiswa pendidikan vokasi dapat berprestasi secara multidimensional. Tidak hanya mengembangkan kompetensi profesional melalui pembelajaran akademik, mereka juga mampu menunjukkan kualitas, kedisiplinan, kreativitas, dan semangat kolaborasi di panggung internasional.



