Depok-Era digital telah mengubah cara pandang dalam komunikasi merek. Arus informasi yang masif membuat organisasi dan merek tidak lagi sekadar bersaing dalam menyampaikan pesan, melainkan juga merebut perhatian, membangun kepercayaan, dan memengaruhi respons audiens. Isu tersebut menjadi fokus pembahasan dalam kuliah tamu yang diselenggarakan oleh program studi (prodi) Hubungan Masyarakat, Program Pendidikan Vokasi, Universitas Indonesia (UI), pada Kamis (12/03/2026) sebagai bagian dari mata kuliah Produksi Visual Humas. Kuliah tamu bertajuk “Neuromarketing + Public Relations: Why People Listen, Trust, and Respond”, menghadirkan Toru Hitomi, Leader of Data Science Team di NeU Corporation, Jepang, sekaligus Neuromarketing Researcher di Tokyo City University.

Dalam sesi tersebut, mahasiswa diajak menjelajahi bagaimana ilmu saraf (neuroscience) dan psikologi dapat menghadirkan perspektif baru dalam perancangan strategi komunikasi dan kampanye public relations untuk memahami dan memengaruhi perilaku audiens. Hitomi menjelaskan bahwa keberhasilan pesan komunikasi ditentukan oleh kreativitas maupun intensitas distribusi pesan, serta cara kerja otak manusia dalam memproses informasi. Melalui pendekatan neuromarketing, praktisi komunikasi dapat memahami bagaimana perhatian audiens terbentuk, strategi pesan agar lebih mudah diingat, serta alasan sejumlah kampanye yang gagal menjangkau target audiens secara efektif.

(Foto: Hitomi menjelaskan tentang neuromarketing)

Ia menekankan bahwa perhatian manusia merupakan sumber daya yang sangat terbatas di tengah banjir informasi digital sehingga strategi komunikasi harus mampu menarik perhatian dalam waktu singkat sekaligus membangun koneksi emosional dengan audiens. Hitomi mengatakan, “Banyak kampanye gagal bukan karena pesannya buruk, tetapi karena tidak memahami bagaimana perhatian manusia bekerja. Otak secara alami memilih informasi yang relevan secara emosional dan bermakna secara personal.”

Lebih lanjut, Hitomi memaparkan bahwa kepercayaan merupakan elemen kunci dalam strategi public relations. Dalam perspektif neuromarketing, kepercayaan dibangun melalui kredibilitas pesan, konsistensi komunikasi, pengalaman audiens, serta persepsi emosional yang terbentuk dari interaksi dengan merek atau organisasi.

Pendekatan ilmu saraf memungkinkan praktisi public relations mempelajari respons audiens secara lebih mendalam, termasuk memahami faktor yang membuat pesan mudah diingat (messages that stick), penyebab kegagalan kampanye (campaign failures), serta strategi membangun perhatian dan kepercayaan audiens secara lebih efektif.

(Foto: Hitomi implementasi neuromarketing di dunia kehumasan)

Muhamad Najmi, salah satu mahasiswa, menyampaikan bahwa materi yang diberikan menghadirkan perspektif baru mengenai keterkaitan antara ilmu komunikasi dan ilmu saraf. Najmi mengatakan, “Biasanya kami mempelajari strategi komunikasi dari sisi teori public relations atau marketing. Melalui kuliah ini, saya menjadi lebih paham bahwa cara kerja otak manusia sangat memengaruhi bagaimana pesan diterima dan dipercaya audiens.”

Sementara itu, Ketua Program Studi Hubungan Masyarakat, Mareta Maulidiyanti, S.Sos., M.M., menyampaikan bahwa kuliah tamu ini merupakan bagian dari upaya prodi dalam memperkenalkan pendekatan interdisipliner pada praktik komunikasi modern. “Perkembangan teknologi dan data membuat praktik public relations semakin berbasis riset dan lebih menganalisis perilaku audiens. Mahasiswa diharapkan mampu merancang strategi komunikasi yang lebih efektif, relevan, dan berbasis pemahaman mendalam mengenai perilaku manusia,” ujar Mareta.

Kuliah tamu ini bertujuan untuk memberi pemahaman mendalam terhadap cara kerja pikiran manusia dalam bidang komunikasi di masa depan. Melalui perpaduan ilmu komunikasi, data, dan neuroscience, para mahasiswa yang nantinya terjun ke dunia kehumasan diharapkan mampu merancang strategi komunikasi yang dapat membangun kepercayaan serta hubungan jangka panjang dengan publik.