Depok-Ruang kelas mata kuliah Produksi Visual Kehumasan di program studi (prodi) Hubungan Masyarakat, Program Pendidikan Vokasi, Universitas Indonesia (UI), kembali memperoleh kesempatan belajar langsung dari praktisi global, Christian Simanullang, American Spaces Program Specialist dari Embassy of the United States of America in Jakarta, membawakan materi bertajuk “Visual Authenticity in the Age of Perfection” di kelas yang diampu Dr. Devie Rahmawati, CICS beberapa waktu lalu.
Mengawali kelas, mahasiswa diajak untuk memahami bahwa mereka tidak sedang sekadar belajar tentang kamera, editing, desain, ataupun media sosial. “Hari ini kita sedang berbicara tentang salah kekuatan yang terbukti mampu merubah peradaban, yaitu kekuatan visual. Kekuatan ini membentuk persepsi, menggerakkan emosi, membangun kepercayaan, menciptakan gerakan, bahkan mengubah sejarah,” ujar praktisi komunikasi selama lebih dari 25 tahun ini.
Devie juga membawa mahasiswa memahami mengapa Amerika Serikat (AS) terus menjadi salah satu pusat peradaban komunikasi visual dunia. Menurutnya, AS telah lama menyadari bahwa masa depan tidak hanya ditentukan oleh mereka yang menciptakan teknologi, tetapi juga oleh kemampuan menciptakan makna di setiap teknologi yang dihasilkan tersebut.
Dari Hollywood hingga Silicon Valley, dari film, musik, iklan, kampanye politik, hingga perangkat digital yang digunakan miliaran manusia setiap hari, Amerika telah membangun sebuah ekosistem di mana visual berubah menjadi budaya, budaya kemudian berubah menjadi pengaruh, dan pengaruh berubah menjadi kekuatan ekonomi. Upaya menggambarkan semangat itu, perempuan yang kerap menjadi pengajar tamu di Belanda, Cina, Inggris, Jepang, Korea Selatan dan Malaysia ini pun, mengutip Theodore Roosevelt: “Do what you can, with what you have, where you are.”
Menurut Devie, kutipan ini tidak hanya menggambarkan karakter bangsa Amerika yang makers, doers, dan builders, tetapi juga menjelaskan mengapa industri kreatif Amerika terus menjadi referensi global. “Amerika tidak menunggu kondisi sempurna untuk berkarya. Mereka membangun, mencoba, gagal, memperbaiki, lalu membangun lagi. Dari semangat seperti itulah lahir Hollywood, Silicon Valley, Madison Avenue, hingga ekosistem digital yang memengaruhi dunia hari ini,” jelasnya.
(Foto: Pemberian sertifikat apresiasi kepada Christian Simanullang)
Devie turut menyoroti fenomena Taylor Swift yang saat ini tidak lagi hanya dipelajari dalam bidang musik, tetapi juga menjadi objek kajian di sekolah bisnis, urban studies, jurnal pemasaran, bahkan ekonomi makro. “Dunia kini mengenal Taylor Swift Effect, bagaimana satu identitas visual, satu narasi, dan satu komunitas loyal, yang mampu menggerakkan maskapai penerbangan, hotel, restoran, merchandise, pariwisata, bahkan penerimaan pajak lokal, bukan sekadar hiburan, namun strategic communication pada level tertinggi,” ujar Devie.
Devie kembali menyampaikan kutipan Presiden Amerika Serikat, Abraham Lincoln yaitu “The best way to predict your future is to create it.” Menurutnya, setiap visual yang diproduksi mahasiswa hari ini sesungguhnya adalah keputusan strategis bagi masa depan. “Setiap visual adalah pilihan. Pilihan tentang apa yang publik lihat, apa yang akan mereka rasakan serta apa yang akan mereka ingat. Oleh karenanya, di era AI ini, visual bukan lagi sekadar tentang apa yang terlihat menarik, tetapi tentang apa yang layak dipercaya.
Sesi Christian Simanullang dimulai dengan membawa mahasiswa pada pertanyaan yang jauh lebih mendasar yaitu bukan tentang kamera, aplikasi editing, algoritma, namun tentang kejujuran. Mengawali paparannya, Christian menampilkan empat pertanyaan besar yang memenuhi layar kelas: “What are we showing? Why are we showing it? Who does it serve? What truth does it carry?”
Menurut Christian, empat pertanyaan sederhana inilah yang harus selalu hadir sebelum seorang profesional humas, content strategist, atau social media manager menekan tombol publish. Mengacu pada pemikiran Rick Rubin, Christian menjelaskan bahwa kreativitas bukan sekadar menghasilkan karya artistik, melainkan cara seseorang berhubungan dengan dunia.
Oleh karena itu, kreativitas dalam humas harus selalu diuji melalui empat lensa yaitu showing, purpose, service, dan truth. Setiap visual, menurut Christian, selalu membawa klaim tentang skala, keberhasilan, kredibilitas, keberagaman, partisipasi, bahkan dampak. Karena itu, tugas pertama seorang komunikator bukan mempercantik visual, melainkan memahami narasi apa yang sedang dibangun.
Salah satu pernyataan yang paling banyak dicatat mahasiswa datang ketika Christian membahas siapa sesungguhnya yang harus dilayani oleh sebuah visual. “A good visual serves the public, not only the institution.” Visual yang baik melayani publik, bukan hanya institusi.
Bagi Christian, dalam humas modern, audiens bukan sekadar target, namun adalah hubungan. Christian kemudian memperlihatkan bagaimana American Spaces dibangun sebagai trust ecosystem, ruang publik yang membuat masyarakat merasa diterima, merasa diajak berdialog, bukan menjadi objek dokumentasi. Christian juga mengajak mahasiswa membahas tantangan komunikasi visual di era kecerdasan buatan.
Menurutnya, AI bukan persoalan etika. Klaim yang dibangun melalui AI-lah yang menjadi persoalan. Chris, kemudian membagi penggunaan AI ke dalam tiga jalur yaitu green lane untuk enhancement, yellow lane untuk konstruksi kreatif dengan konteks yang jelas, dan red lane untuk manipulasi yang berpotensi menyesatkan publik, mulai dari kerumunan dan testimoni palsu, hingga bukti yang direkayasa.
Pesan di penghujung sesi ialah “In the age of perfection, the most valuable communicator is not the one who can make everything look flawless. It is the one who can make the truth visible, useful, and respectful.”
Sebagai penutup, Ketua Program Studi Hubungan Masyarakat, Mareta Maulidiyanti, S.Sos., M.M., secara langsung menyerahkan sertifikat penghargaan kepada Christian Simanullang sebagai bentuk apresiasi atas kontribusi, pengalaman, serta wawasan global yang telah dibagikan kepada mahasiswa.
“Kehadiran Christian pagi ini bukan sekadar menghadirkan perspektif global, tetapi juga menjadi pengingat bahwa gagasan yang lahir dari ruang kelas Universitas Indonesia dapat tumbuh, melintasi budaya, melintasi diplomasi, lalu kembali pulang untuk menginspirasi generasi berikutnya,” tutup Mareta.



