Depok-Film horor Indonesia berjudul Waru menghadirkan warna emosional yang berbeda melalui lagu “Alleen”, karya band Secret Hideaway milik mahasiswa program studi (prodi) Produksi Media, Program Pendidikan Vokasi, Universitas Indonesia (UI). Lagu bernuansa melankolis tersebut resmi menjadi bagian dari original soundtrack film dan menghadirkan lapisan emosi mendalam di tengah atmosfer mencekam khas genre horor.
Keterlibatan Secret Hideaway bermula ketika salah satu produser film mendengarkan lagu “Alleen” dan tertarik pada kekuatan atmosfer emosional yang dibangun. Melihat potensi kolaborasi, Noufal Adika selaku keyboardist sekaligus bagian dari manajemen band melakukan proses pitching kepada tim produksi film.
Meski tidak diciptakan khusus untuk kebutuhan film, lagu tersebut kemudian diselaraskan agar kohesif dengan nuansa sinematik yang dibangun. Tantangan muncul ketika mereka harus memastikan lagu melankolis tetap relevan dalam balutan cerita horor psikologis. Respons penonton justru menunjukkan hasil positif. Lagu “Alleen” dinilai memperkuat dimensi emosional film, menghadirkan rasa sedih, kehilangan, dan penyesalan yang menjadi lapisan batin para karakter.
Secara tematis, “Alleen” bercerita tentang penyesalan atas keputusan masa lalu yang berujung pada kehilangan dan kesendirian. Judul “Alleen” diambil dari bahasa Belanda yang berarti “sendiri”, merepresentasikan kondisi emosional karakter utama dalam lagu. “Keterlibatan ‘Alleen’ dalam film Waru menjadi pengalaman yang sangat berarti bagi kami. Awalnya lagu ini lahir sebagai karya yang sangat personal, namun karya ini berhasil menemukan ruangnya dalam medium film dan menjangkau audiens yang lebih luas. Proses penyesuaian dengan kebutuhan sinematik juga memberi kami pembelajaran penting tentang bagaimana musik dapat memperkuat emosi visual,” ujar Noufal.
Secret Hideaway merupakan band independen yang lahir dari lingkungan akademik prodi Produksi Media, Vokasi UI. Band ini terbentuk dari pertemuan Fahreza Alif dan Kelvin Hananto saat masa orientasi mahasiswa. Selera musik yang sama mempertemukan keduanya dalam visi bermusik, sebelum akhirnya formasi dilengkapi oleh Azeldine, Faizurrahman, dan Noufal Adika.
(Foto: Secret Hideaway, band mahasiswa Vokasi UI)
Nama Secret Hideaway memiliki filosofi sebagai “ruang persembunyian rahasia”, yaitu tempat aman bagi pendengar untuk merasa dipahami dan diterima melalui musik. Secret Hideaway dikenal melalui warna musik melancholic rock, perpaduan nuansa piano emosional dan energi rock modern yang kuat. Perjalanan akademik mereka membentuk pendekatan profesional dalam bermusik. Melalui pengembangan mini studio label akademis WIRE, para personel memahami bahwa industri musik tidak hanya berbicara tentang kreativitas, melainkan juga manajemen, produksi, serta strategi distribusi karya.
Ketua Program Studi Produksi Media, Ngurah Rangga Wiwesa, M.I.Kom., Ph.D., memberikan apresiasi kepada para mahasiswa yang telah berupaya untuk mengembangkan keilmuan mereka menjadi sebuah karya yang menembus pasar film. Rangga mengatakan, “Kami sangat mengapresiasi capaian mahasiswa yang mampu membawa karya akademiknya masuk ke ranah industri profesional. Keterlibatan Secret Hideaway dalam produksi soundtrack film menunjukkan bahwa ekosistem pembelajaran di Produksi Media mendorong mahasiswa adaptif terhadap kebutuhan industri kreatif.”
Beberapa lagu Secret Hideaway, “Melukis Obituari”, “First Look”, “Try Again”, dan lainnya dapat dinikmati di berbagai platform musik digital. Dalam satu hingga dua tahun mendatang, Secret Hideaway menargetkan konsistensi merilis karya emosional yang dapat menjangkau pendengar lebih luas serta memperkuat posisi mereka di industri musik independen.




