Depok-Berbekal keberanian untuk mencoba, semangat belajar, dan kekuatan kolaborasi, mahasiswa program studi (prodi) Penyiaran Multimedia, Program Pendidikan Vokasi, Universitas Indonesia (UI), berhasil menorehkan prestasi membanggakan melalui film pendek berjudul “Rupi-Yah”. Film yang disutradarai oleh Apriansyah Ilham Trihatmaja tersebut berhasil meraih Juara Harapan II Kategori Lomba Film Pendek Mahasiswa dalam ajang Jakarta Youth Film Festival (JYFF) 2026 pada Minggu (05/07/2026).

Pencapaian ini terasa semakin istimewa karena karya tersebut dihasilkan oleh mahasiswa angkatan 2025 yang baru menempuh semester kedua. Di tengah proses pembelajaran yang masih berlangsung, mereka mampu menerapkan pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh di bangku kuliah menjadi sebuah karya nyata.

Di balik produksi film “Rupi-Yah” terdapat rumah produksi mahasiswa bernama Garasi Rudi, singkatan dari “Garasi Rumah Produksi”. Rumah produksi tersebut menjadi wadah bagi mahasiswa Penyiaran Multimedia angkatan 2025 untuk belajar, berkolaborasi, dan menghasilkan karya bersama. “Kami memang ingin membuat film bersama teman-teman satu angkatan. Garasi Rudi sendiri merupakan kepanjangan dari Garasi Rumah Produksi. Jadi, ini adalah wadah atau production house milik kami bersama,” tutur produser film “Rupi-Yah”, Afirah Kasyfa.

(Foto: Salah satu potongan film Rupi-Yah karya mahasiswa Vokasi UI)

Perjalanan produksi “Rupi-Yah” bermula pada Februari 2026 ketika salah seorang anggota kru mengajak teman-temannya mengikuti kompetisi film pendek JYFF 2026 yang diselenggarakan bersama Bank Indonesia. Berawal dari ajakan sederhana, proyek tersebut berkembang menjadi ruang belajar bersama yang melibatkan puluhan mahasiswa dengan pembagian peran menyerupai proses produksi profesional.

Bagi Afirah, kemenangan bukanlah tujuan utama sejak awal. Film ini justru dipandang sebagai kesempatan bagi para mahasiswa untuk menguji dan mengembangkan kemampuan yang selama ini dipelajari di bangku kuliah. “Harapan untuk menang tentu tetap ada. Namun, fokus utama kami adalah menjadikan proyek ini sebagai media belajar karena ini merupakan proyek pertama kami,” ujarnya.

Film “Rupi-Yah” mengisahkan Dana, seorang anak laki-laki yang diperankan oleh Bumi Putra Mahameru. Dana kehilangan uang Rp20.000 titipan ibunya. Dalam kepanikan karena harus membayar semangkuk bakso, ia berusaha mengumpulkan kepingan uang receh yang tercecer di berbagai sudut rumah.

(Foto: Proses syuting film Rupi-Yah)

Ide cerita tersebut lahir dari fenomena yang kerap dijumpai dalam kehidupan sehari-hari. Penulis naskah “Rupi-Yah”, Najwa Khasanah, mengungkapkan bahwa proses kreatif film tersebut diawali dengan berbagai diskusi hingga akhirnya mereka menemukan gagasan yang dinilai paling relevan. “Saya menyadari bahwa banyak dari kita masih menganggap remeh uang receh. Padahal, tanpa pecahan Rp100 dan Rp200, tidak akan terkumpul Rp500,” jelas Najwa.

Melalui cerita tersebut, “Rupi-Yah” ingin mengingatkan penonton bahwa sesuatu yang kerap dianggap kecil atau sepele tetap memiliki nilai dan dapat memberikan dampak besar ketika dikumpulkan. Mengubah ide sederhana menjadi sebuah karya visual tentu bukan perkara mudah. Sebagai sutradara, Apriansyah memandang bahwa tantangan terbesar selama proses produksi bukan hanya berasal dari aspek teknis, melainkan juga bagaimana membangun suasana kerja yang nyaman bagi seluruh kru dan pemain, terutama pemeran anak yang menjadi tokoh utama film.

Proses pengambilan gambar berlangsung selama dua hari di kawasan Sawangan. Apriansyah bersama seluruh kru berupaya menciptakan lingkungan produksi yang sehat dan menyenangkan. Jadwal syuting disusun secara efektif dengan durasi sekitar tujuh jam setiap hari agar seluruh kru dan pemain dapat bekerja secara optimal. Bahkan, proses syuting pada hari pertama berhasil diselesaikan lebih cepat dari jadwal yang telah direncanakan.

“Tantangan terbesar justru muncul ketika bekerja dengan anak kecil karena suasana hati mereka cenderung mudah berubah. Jadi, kami harus benar-benar membangun kedekatan dengan mengajak berbincang, bermain, serta mencari tahu hal-hal yang disukai agar mereka merasa nyaman selama proses syuting,” ujar Apriansyah.

Meski baru menempuh semester kedua, Apriansyah mengaku bahwa materi dasar yang diperoleh selama perkuliahan telah menjadi bekal penting dalam proses produksi. “Hal yang diajarkan merupakan dasar-dasar yang penting. Materi tersebut tidak hanya membantu saya, tetapi juga teman-teman di departemen kamera dalam mengeksekusi film ini,” ungkapnya saat menjelaskan manfaat mata kuliah Teknik Kamera.

Ketua Program Studi Penyiaran Multimedia, Peny Meliaty Hutabarat, M.S.M., mengapresiasi pencapaian tersebut sebagai bukti bahwa mahasiswa mampu memanfaatkan proses pembelajaran untuk menghasilkan karya yang kompetitif.

“Prestasi ini menjadi bukti bahwa mahasiswa Penyiaran Multimedia mampu menerjemahkan pembelajaran di kelas menjadi karya nyata. Hal yang membanggakan bukan hanya penghargaan yang diraih, tetapi juga keberanian mereka untuk mulai berkarya sejak semester awal. Semoga pencapaian ini menjadi pijakan bagi mahasiswa untuk terus mengembangkan kreativitas dan mempersiapkan diri sebagai insan profesional yang mampu berkontribusi bagi industri kreatif,” ujar Peny.

(Foto: Tim produksi Garasi Rudi saat menghadiri JYFF 2026)

Keberhasilan “Rupi-Yah” menggambarkan bagaimana pembelajaran di Vokasi UI mendorong mahasiswa untuk memperoleh pengetahuan dan keterampilan melalui pengalaman nyata. Sejalan dengan nilai KITA—Kompeten, Integritas, Transformatif, dan Adaptif—mahasiswa dipersiapkan melalui pembelajaran berbasis praktik untuk berkarier sebagai sutradara, produser, penulis naskah, sinematografer, editor, kamerawan, penyiar, serta berbagai profesi lainnya di industri media dan kreatif.