Depok-Di era digital, promosi pariwisata sering kali dipandang hanya sebatas menghasilkan konten visual menarik, menjalankan kampanye media sosial, atau menghadirkan destinasi yang “instagramable”. Namun, praktik industri menunjukkan bahwa promosi pariwisata yang efektif memerlukan strategi yang jauh lebih strategis, mulai dari memahami perilaku wisatawan, menganalisis data pasar, hingga membangun positioning destinasi yang kuat, relevan, dan berdaya saing. Perspektif tersebut menjadi fokus dalam kuliah umum bertajuk “Strategizing Insightful & Effective Tourism Promotion and Brand Building” yang diselenggarakan oleh program studi (prodi) Manajemen Bisnis Pariwisata, Program Pendidikan Vokasi, Universitas Indonesia (UI) beberapa waktu lalu.

Kegiatan ini diselenggarakan sebagai bagian dari pengayaan pembelajaran mata kuliah Manajemen Pemasaran dan Promosi Pariwisata yang diampu oleh Jessica Carla, M.M. Dalam kesempatan tersebut, prodi Manajemen Bisnis Pariwisata menghadirkan Syahrul Akbar, M.Par., praktisi dari Dinas Pariwisata Provinsi Jawa Tengah, untuk membagikan pengalaman praktis terkait strategi promosi destinasi dan pembangunan brand pariwisata berbasis data.

Dalam paparannya, Syahrul menekankan bahwa tantangan promosi pariwisata saat ini bukan terletak pada kurangnya aktivitas pemasaran, melainkan kurang optimalnya insight sebagai dasar penyusunan strategi yang efektif dan tepat sasaran. “Banyak destinasi aktif memproduksi konten, menyelenggarakan berbagai event, hingga beriklan melalui beragam kanal digital, namun belum tentu mampu menghasilkan dampak strategis yang terukur,” kata Syahrul.

(Foto: Pemberian sertifikat kepada Syahrul usai kuliah dosen tamu berakhir)

Data yang dipaparkan menunjukkan bahwa Jawa Tengah mencatat total 17,21 juta kunjungan wisatawan, dengan dominasi wisatawan nusantara sebanyak 17,04 juta kunjungan. Sementara itu, jumlah wisatawan mancanegara hanya sekitar 0,17 juta atau kurang dari 1 persen dari total kunjungan. Temuan tersebut menunjukkan bahwa angka kunjungan yang tinggi tidak selalu mencerminkan kuatnya positioning suatu destinasi, khususnya dalam menarik pasar internasional maupun menciptakan pengalaman wisata yang berkelanjutan.

Salah satu insight utama yang dibahas adalah strategi promosi yang efektif tidak dimulai dari pertanyaan “konten apa yang akan dibuat”, melainkan “perilaku siapa yang ingin diubah”. Pendekatan ini mendorong mahasiswa untuk memahami promosi pariwisata bukan sekadar aktivitas komunikasi, melainkan upaya strategis dalam memengaruhi keputusan konsumen berdasarkan data dan pemahaman pasar.

Syahrul menambahkan, “Melalui studi kasus promosi pariwisata Jawa Tengah, kita dapat memahami bahwa data dapat diterjemahkan menjadi strategi konkret. Mulai dari membaca pola kunjungan wisatawan, mengidentifikasi potensi destinasi yang sedang berkembang, hingga menentukan target pasar yang tepat.”

Dalam sesi tersebut, turut disampaikan bahwa tantangan utama yang dihadapi destinasi wisata bukan terletak pada kurangnya daya tarik, melainkan belum kuatnya diferensiasi destinasi. Selain membahas strategi promosi, kuliah dosen tamu ini juga menyoroti pentingnya destination branding sebagai fondasi daya saing destinasi wisata. Syahrul menjelaskan bahwa brand destinasi dibangun melalui tiga elemen utama, yaitu promise (janji yang ditawarkan kepada wisatawan), perception (cara publik memandang destinasi), dan experience (pengalaman nyata yang dirasakan wisatawan). Ketiga elemen tersebut harus berjalan secara konsisten agar destinasi mampu membangun citra yang kuat, relevan, dan mudah diingat.

Ketua Program Studi Manajemen Bisnis Pariwisata, Anisatul Auliya, S.ST.Par., M.Par., menyampaikan bahwa kehadiran praktisi industri di ruang kelas merupakan bagian penting dari pendekatan pendidikan vokasi yang menekankan keterhubungan antara teori dan praktik.

“Mahasiswa perlu memahami bahwa pemasaran pariwisata saat ini jauh lebih kompleks daripada sekadar membuat kampanye yang menarik secara visual. Mereka harus mampu membaca konsumen, memahami perubahan perilaku pasar, serta mengubah data menjadi strategi yang dapat dieksekusi secara nyata,” ujarnya.

Diskusi berlangsung interaktif dengan mahasiswa yang aktif mengeksplorasi berbagai isu, mulai dari perubahan perilaku wisatawan di era digital, efektivitas promosi lintas kanal, hingga strategi membangun loyalitas wisatawan dan repeat visit di tengah persaingan industri yang semakin kompetitif. Melalui kuliah dosen tamu ini, mahasiswa memperoleh wawasan praktis langsung dari dunia industri sekaligus perspektif yang lebih kritis mengenai pentingnya merancang strategi promosi dan branding pariwisata yang lebih insightful, terukur, dan berorientasi pada pengalaman wisatawan.

Sebagai institusi pendidikan vokasi yang menekankan pembelajaran aplikatif, prodi Manajemen Bisnis Pariwisata terus mendorong mahasiswa untuk memahami dinamika industri secara langsung agar siap berkontribusi sebagai profesional pariwisata yang adaptif, strategis, dan relevan dengan tantangan industri masa kini.