Depok-Program studi (prodi) Magister Terapan Industri Kreatif, Program Pendidikan Vokasi, Universitas Indonesia (UI), menghadirkan Kepala Bappeda Kota Depok, Dr. H. Dadang Wihana, M.Si., CRGP, sebagai dosen tamu dalam mata kuliah Pengembangan Kreasi Kolaboratif pada Selasa (03/03/2026). Mengangkat tema “Peran Pemerintah dalam Membangun Ekosistem Kreatif Kota dan Kolaborasi Stakeholder”, kuliah dosen tamu ini bertujuan memperkaya wawasan mahasiswa mengenai praktik tata kelola pemerintahan, khususnya dalam pengembangan ekonomi kreatif berbasis kolaborasi lintas sektor dan dukungan kepada pelaku usaha kreatif.

Dalam pemaparannya, Dadang menekankan bahwa pemerintah tidak lagi dapat bekerja secara sektoral dan hierarkis. Perubahan paradigma dari government menuju governance menuntut pendekatan kolaboratif yang melibatkan berbagai aktor pembangunan.

Ia menjelaskan bahwa dalam perspektif collaborative governance, masyarakat bukan sekadar objek pembangunan, melainkan subjek, aktor, sekaligus pelanggan layanan publik. Pemerintah berperan sebagai fasilitator, regulator, sekaligus orkestrator kolaborasi. “Kolaborasi yang dibangun melibatkan berbagai pihak mulai tahap perencanaan, pengambilan keputusan, implementasi, hingga evaluasi kebijakan,” ujar Dadang.

(Foto: Dadang saat memberikan pemaparan mengenai ekonomi kreatif di Kota Depok)

Sebagai studi kasus, Kota Depok memosisikan ekonomi kreatif sebagai salah satu strategi pembangunan daerah. Ekonomi kreatif dipahami sebagai perwujudan nilai tambah berbasis ide, kreativitas intelektual, ilmu pengetahuan, teknologi, dan warisan budaya. Salah satu program strategis yang dipaparkan adalah pengembangan Smart Culture dalam muatan lokal kurikulum pendidikan. Sejak 2023, Pemerintah Kota Depok merancang kurikulum berbasis media arts—meliputi aplikasi, gim, animasi, dan robotika—yang mulai diterapkan sebagai pilot project pada 2024 di sejumlah sekolah.

Selain itu, penguatan UMKM dilakukan melalui pelatihan wirausaha baru, pendampingan legalitas, fasilitasi sertifikasi halal dan hak kekayaan intelektual, hingga akses pembiayaan dan pemasaran melalui berbagai festival serta platform digital. Dadang mengatakan, “Model ini dikenal dengan pendekatan ‘Jualan Sama-Sama UMKM Naik Kelas’ yang mengintegrasikan aspek pelatihan, perizinan, pemasaran, dan pembiayaan secara berkelanjutan.”

Dalam konteks kolaborasi, Dadang memperkenalkan pendekatan pentahelix hingga heptahelix yang melibatkan unsur akademisi, bisnis, pemerintah, media, komunitas/masyarakat, LSM, dan pengamat atau dewan kota cerdas. Skema kolaborasi ini juga dirancang dalam model kerja sama antara Bappenas, perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan komunitas untuk membangun regional innovation hub di Kota Depok. Pendekatan ini mendorong link and match antara riset, industri, dan kebutuhan masyarakat, termasuk dalam menjawab persoalan strategis daerah seperti banjir, kemacetan, sampah, dan polusi.

(Foto: Suasana kegiatan kuliah dosen tamu bersama Dadang Wihana)

Ketua Program Studi Magister Terapan Industri Kreatif, Dr. Dewi Kartika Sari, S.E., M.S.Ak., CA., menegaskan bahwa kuliah ini memperkuat dimensi keberlanjutan dalam mata kuliah Pengembangan Kreasi Kolaboratif. Ika menuturkan, “Mahasiswa belajar merancang model kolaborasi sekaligus perlu memahami dampaknya terhadap pembangunan berkelanjutan. Perspektif Sustainable Development Goals (SDGs) menjadi kerangka penting dalam merancang ekosistem kreatif yang inklusif dan berorientasi jangka panjang. Misalnya, poin 8 (Decent Work and Economic Growth) melalui penciptaan wirausaha baru dan penguatan UMKM dan poin 9 (Industry, Innovation and Infrastructure) melalui pengembangan inovasi, media arts, dan ekosistem creative hub.”

Salah satu mahasiswa, Ridwan Kusuma Al Aziz, menilai materi yang disampaikan memberikan pemahaman komprehensif mengenai hubungan antara kreativitas, kebijakan publik, dan pembangunan berkelanjutan. “Saya jadi melihat bahwa proyek kreatif yang kami rancang di kelas semakin berkembang dari inovasi menuju kontribusinya terhadap masyarakat dan keberlanjutan,” ungkap Ridwan.

Melalui kegiatan ini, prodi Magister Terapan Industri Kreatif terus berupaya menghadirkan pembelajaran yang kontekstual, aplikatif, dan selaras dengan agenda pembangunan global. Integrasi konsep collaborative governance, pengembangan ekosistem kreatif, dan kerangka SDGs menjadi fondasi penting dalam membekali mahasiswa sebagai agen perubahan yang inovatif dan berdampak.