Depok-Program Pendidikan Vokasi Universitas Indonesia (UI) turut berkontribusi dalam pengembangan kawasan transmigrasi melalui Program Ekspedisi Patriot 2025 di Kecamatan Tobadak, Kabupaten Mamuju Tengah, Sulawesi Barat. Melalui riset lapangan dan pendampingan masyarakat, tim Vokasi UI memetakan potensi ekonomi serta merancang model kolaborasi kelembagaan yang diharapkan dapat memperkuat kemandirian masyarakat setempat.

Ekspedisi Patriot merupakan program kolaboratif yang diinisiasi oleh Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Republik Indonesia untuk mendukung pembangunan kawasan transmigrasi berbasis riset, pengetahuan, dan pemberdayaan masyarakat. Program tersebut melibatkan akademisi dan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi untuk terjun langsung ke kawasan transmigrasi, mengidentifikasi potensi dan tantangan daerah, serta merumuskan rekomendasi pembangunan sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Pada pelaksanaan 2025, Kecamatan Tobadak menjadi salah satu lokasi Ekspedisi Patriot. Kegiatan berlangsung selama September hingga Desember 2025, dengan wilayah pendampingan meliputi delapan desa transmigrasi, yaitu Tobadak 1 hingga Tobadak 8.

Dosen program studi (prodi) Bisnis Kreatif Program Pendidikan Vokasi UI, Feriska Ajeng Anantri, M.A., memimpin tim Vokasi UI yang beranggotakan alumni Grace Victoria Brahmana; sejumlah mahasiswa, yaitu Annisa Tufah Wulandari, Alfiona Saleh, dan Lutia Nurfadillah. Tim tersebut berfokus pada penguatan kelembagaan ekonomi serta pembangunan kolaborasi antara masyarakat, pemerintah desa, dan pemerintah daerah.

Feriska menjelaskan bahwa Ekspedisi Patriot menjadi ruang strategis bagi perguruan tinggi untuk menerapkan keilmuan secara langsung sekaligus membantu masyarakat mengembangkan potensi wilayahnya. “Ekspedisi Patriot merupakan salah satu wadah strategis untuk menghubungkan dunia akademik dengan masyarakat. Melalui program ini, perguruan tinggi dapat berkontribusi dalam membantu masyarakat mengembangkan potensi daerah secara lebih terarah,” ujar Feriska.

Selama berada di Tobadak, tim Vokasi UI melakukan observasi lapangan, wawancara, pemetaan sosial, serta diskusi bersama masyarakat dan pemerintah desa. Setiap anggota tim bertanggung jawab melakukan penelitian dan pendampingan di dua desa agar proses pengumpulan data dapat berlangsung secara lebih mendalam. Hasil pemetaan menunjukkan bahwa kawasan Tobadak memiliki beragam komoditas unggulan, antara lain padi, jagung, pisang, kakao, kelapa sawit, nilam, serta potensi peternakan. Berbagai komoditas tersebut menjadi modal penting bagi pengembangan ekonomi lokal dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Namun, tim menemukan bahwa sebagian besar masyarakat masih menjual hasil panen melalui tengkulak. Pola tersebut menyebabkan petani belum memiliki kendali yang optimal terhadap jalur distribusi, akses pasar, maupun penentuan nilai jual produknya. Petani cenderung menjual hasil produksi dalam bentuk bahan mentah tanpa memperoleh informasi yang memadai mengenai harga dan peluang pemasaran di wilayah yang lebih luas. Kondisi tersebut membuat nilai tambah produk belum sepenuhnya dapat dinikmati oleh masyarakat.

Selain melakukan pemetaan potensi wilayah, tim Vokasi UI menyelenggarakan sosialisasi mengenai literasi digital dan pengembangan usaha. Pendampingan dilakukan untuk membantu masyarakat memahami peluang bisnis, memperluas akses pasar, serta membangun komunikasi dan kolaborasi dengan pemerintah daerah. Salah satu hasil utama dari kegiatan tersebut adalah penyusunan model kolaborasi kelembagaan ekonomi bernama “Gardu Joss” atau Gerakan Inklusi Profesional Aktifkan Rantai Dana dan Usaha Agregator.

(Foto: Feriska Ajeng Anantri, M.A., dosen prodi Bisnis Kreatif yang juga memimpin tim Vokasi UI di Tobadak)

Model Gardu Joss dirancang untuk mengintegrasikan peran berbagai kelembagaan yang telah tersedia di desa, mulai dari badan usaha milik desa (BUMDes), koperasi desa, kelompok tani, kelompok wanita tani, pemberdayaan dan kesejahteraan keluarga (PKK), hingga karang taruna. Melalui model tersebut, setiap lembaga diharapkan tidak bergerak secara terpisah, tetapi dapat membangun rantai kerja yang saling terhubung. Kolaborasi tersebut mencakup pengelolaan produksi, pengolahan hasil panen, pembiayaan, pemasaran, hingga distribusi produk. Penguatan kelembagaan ekonomi menjadi penting agar masyarakat tidak hanya berperan sebagai produsen bahan mentah, tetapi juga memiliki kemampuan untuk mengolah, memasarkan, dan meningkatkan nilai tambah produk lokal secara mandiri.

Feriska menambahkan, “Selain menghasilkan model kelembagaan, kami menyusun laporan akhir, peta tematik, policy brief, dan jurnal ilmiah. Hasil kajian tersebut dapat digunakan sebagai bahan evaluasi dan rekomendasi bagi pemerintah daerah dalam merancang kebijakan pengembangan kawasan transmigrasi yang lebih terarah.”

Dalam pelaksanaannya, tim Vokasi UI turut berkolaborasi dengan tim dari perguruan tinggi lain, seperti Institut Pertanian Bogor (IPB) dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS). Setiap perguruan tinggi membawa fokus kajian yang berbeda sesuai dengan bidang keilmuan masing-masing sehingga rekomendasi yang dihasilkan dapat saling melengkapi.

Di tengah besarnya potensi ekonomi yang dimiliki, masyarakat Tobadak masih menghadapi sejumlah tantangan, terutama terkait ketersediaan infrastruktur dasar. Beberapa ruas jalan antardesa masih mengalami kerusakan, akses internet terbatas, dan penerangan jalan belum memadai. Kondisi tersebut tidak hanya memengaruhi mobilitas masyarakat, tetapi juga menghambat aktivitas ekonomi, distribusi komoditas, pemasaran produk, dan pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

(Foto: Tim Ekspedisi Patriot setelah berkonsolidasi dengan stakeholder di Tobadak)

Tantangan lainnya adalah koordinasi antarinstansi pemerintah daerah yang masih perlu diperkuat. Keterbukaan data dan kolaborasi lintas dinas dinilai penting agar program pembangunan tidak berjalan secara terpisah dan dapat memberikan dampak yang lebih optimal bagi masyarakat. Kehadiran tim akademisi melalui Ekspedisi Patriot diharapkan menjadi langkah awal dalam membangun sistem pengembangan ekonomi kawasan yang lebih terintegrasi dan berkelanjutan. Bagi masyarakat Tobadak, program tersebut membuka ruang untuk mengenali potensi daerah, memperkuat kelembagaan, serta membangun akses yang lebih luas terhadap pasar dan pemerintah.

Sementara itu, bagi dosen dan mahasiswa, Ekspedisi Patriot menjadi bentuk nyata pelaksanaan tridarma perguruan tinggi. Kegiatan ini juga memberikan pengalaman pembelajaran kontekstual kepada mahasiswa melalui keterlibatan langsung dalam proses riset, pengumpulan data, komunikasi dengan masyarakat, hingga penyusunan rekomendasi kebijakan.

Kontribusi Vokasi UI dalam Ekspedisi Patriot sejalan dengan sejumlah Sustainable Development Goals (SDGs). Penguatan kelembagaan usaha, pengembangan UMKM, dan peningkatan nilai tambah komoditas lokal mendukung SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi. Pemetaan kebutuhan infrastruktur, pemanfaatan teknologi, serta pengembangan inovasi kelembagaan berkaitan dengan SDG 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur. Pendampingan terhadap masyarakat di kawasan transmigrasi juga mendukung SDG 10: Berkurangnya Kesenjangan, khususnya melalui upaya memperluas akses masyarakat terhadap peluang ekonomi, informasi, dan pasar. Sementara itu, kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, kelembagaan desa, dan masyarakat mencerminkan implementasi SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.

Melalui sinergi antara riset akademik, pemberdayaan masyarakat, dan kebijakan pemerintah, Ekspedisi Patriot menunjukkan bahwa pembangunan kawasan transmigrasi tidak hanya berorientasi pada pengembangan wilayah, tetapi juga pada penciptaan masyarakat yang lebih mandiri, inklusif, dan berkelanjutan.