Depok-Tingginya angka stunting dan persoalan food waste masih menjadi tantangan serius dalam pembangunan berkelanjutan di Indonesia. Berdasarkan hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024, prevalensi stunting nasional berada pada angka 19,8%. Meski menunjukkan tren penurunan, jutaan balita di Indonesia masih menghadapi risiko gangguan pertumbuhan akibat kekurangan gizi kronis. Selain itu, laporan UNEP Food Waste Index Report 2024 menunjukkan Indonesia menghasilkan sekitar 14,73 juta ton food waste rumah tangga per tahun, menjadikannya salah satu yang tertinggi di Asia Tenggara. Berangkat dari keresahan terhadap dua isu tersebut, tiga mahasiswa program studi (prodi) Administrasi Perkantoran, Program Pendidikan Vokasi, Universitas Indonesia (UI), berhasil menciptakan inovasi bertajuk Nutri-Chain dan meraih Bronze Award dalam ajang KPM International SDGs Competition 2026 kategori Essay National Competition yang diselenggarakan oleh Universitas Muhammadiyah Yogyakarta pada 8–10 Mei 2026.

Tim “Dikejar Deadline” yang terdiri atas Nafisah Nurhafizhah, Aura Aulia Azzahra, dan Farrel Ezra Julio Tampubolon menghadirkan gagasan inovatif berupa sistem bank pangan digital bernama Nutri-Chain. Inovasi tersebut dirancang untuk membantu distribusi pangan bergizi secara lebih efektif kepada keluarga berisiko stunting melalui integrasi teknologi Internet of Things (IoT), aplikasi digital, serta validasi komunitas berbasis masyarakat.

Keberhasilan tersebut sekaligus menunjukkan kontribusi nyata mahasiswa vokasi dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 2 (Zero Hunger), SDG 3 (Good Health and Well-Being), dan SDG 12 (Responsible Consumption and Production). Selain itu, inovasi ini juga memiliki keterkaitan dengan SDG 9 (Industry, Innovation and Infrastructure) melalui pemanfaatan teknologi digital dan IoT dalam pengelolaan pangan yang lebih efisien dan berkelanjutan.

Dalam esainya, tim mengangkat isu tingginya prevalensi stunting yang tinggi di Indonesia yang terjadi di tengah besarnya angka kehilangan dan pemborosan pangan (food loss dan food waste). Mereka menilai bahwa tantangan utama bukan terletak pada kurangnya ketersediaan pangan, melainkan distribusi dan pengelolaan pangan yang belum optimal. Nafisah, salah satu perwakilan tim, mengatakan, “Melalui Nutri-Chain, donor pangan seperti UMKM, petani, maupun pelaku usaha lainnya dapat menyalurkan bahan pangan layak konsumsi melalui aplikasi digital. Selanjutnya, bahan pangan tersebut disimpan pada cold storage berbasis sensor IoT untuk menjaga kualitas dan keamanan pangan sebelum disalurkan kepada masyarakat penerima manfaat.”

Dalam proses distribusinya, kader posyandu melakukan pendataan keluarga penerima bantuan menggunakan sistem scoring yang kemudian divalidasi oleh RT/RW setempat. Penerima bantuan selanjutnya memperoleh Smart Nutri-Voucher berbasis QR Code yang dapat digunakan untuk mengambil pangan bergizi secara tepat sasaran. Sistem tersebut dinilai mampu meningkatkan transparansi, efisiensi distribusi, serta meminimalkan potensi penyalahgunaan bantuan pangan.

(Foto: Tiga mahasiswa meraih prestasi dengan inovasi Nutri-Chain)

“Tidak hanya mengedepankan aspek teknologi, inovasi Nutri-Chain juga mengintegrasikan dimensi sosial, kesehatan, dan ketahanan pangan dalam satu ekosistem berkelanjutan. Dalam penyusunan esai, tim memanfaatkan berbagai data dan referensi, mulai dari Survei Status Gizi Indonesia (SSGI), data Bappenas, hingga jurnal ilmiah terkait stunting, food loss, dan teknologi distribusi pangan,” tambahnya.

Keberhasilan tim juga tidak terlepas dari dukungan proses pembelajaran di kelas. Berbagai mata kuliah seperti Aplikasi Komputer, Sistem Informasi Manajemen, Organisasi Manajemen dan Bisnis, serta Hubungan Masyarakat dinilai memberikan kontribusi penting dalam proses penyusunan gagasan, pengolahan data, hingga pengembangan strategi komunikasi inovasi.

Direktur Program Pendidikan Vokasi UI, Dr. Safrin Arifin, SKM., S.St., M.Sc., mengatakan, “Inovasi Nutri-Chain menunjukkan bagaimana mahasiswa dapat menghubungkan kompetensi yang dipelajari di perkuliahan dengan solusi nyata yang relevan terhadap tantangan global, khususnya isu stunting dan ketahanan pangan berkelanjutan.”

Melalui capaian ini, Team Dikejar Deadline berharap inovasi Nutri-Chain tidak berhenti sebagai gagasan kompetisi semata, tetapi dapat dikembangkan menjadi penelitian lanjutan, program pengabdian masyarakat, hingga pilot project nyata di berbagai daerah dengan prevalensi stunting tinggi di Indonesia. Dengan demikian, inovasi tersebut diharapkan mampu memberikan dampak sosial yang berkelanjutan sekaligus mendukung agenda pembangunan nasional menuju Indonesia yang lebih sehat, inklusif, dan berkelanjutan.