Depok-Dua mahasiswa program studi (prodi) Terapi Okupasi, Program Pendidikan Vokasi, Universitas Indonesia (UI), Dominggo Alberto Mosesta S. dan Annisa Fitri Azzahra, berhasil meraih medali perak dalam ajang Edutalk Fair Competition 2026 beberapa waktu lalu. Prestasi tersebut diraih pada kategori Lomba Esai Bidang Pendidikan dan Sains melalui gagasan inovatif bernama Audibraille, sebuah media pembelajaran yang dirancang untuk mendukung akses pendidikan yang lebih inklusif bagi anak tunanetra.
Edutalk Fair Competition merupakan kompetisi tahunan yang diselenggarakan oleh Eduact Creative Hub bekerja sama dengan Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro. Kompetisi ini menjadi wadah bagi mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia untuk menyampaikan gagasan, hasil pemikiran, dan inovasi melalui sejumlah cabang perlombaan, termasuk lomba esai.
Keduanya mengangkat karya berjudul “Audibraille sebagai Solusi Aksesibilitas Pendidikan Inklusif bagi Anak Tunanetra di SLB A Karya Murni Medan”. Melalui inovasi tersebut, keduanya menghadirkan media pembelajaran berupa buku yang memadukan huruf Braille dengan teknologi audio untuk mendukung proses belajar anak tunanetra secara lebih interaktif dan inklusif. Audibraille dirancang dengan mengintegrasikan tulisan Braille dan tombol audio pada setiap bagian materi pembelajaran. Ketika tombol pada halaman tertentu ditekan, perangkat akan mengeluarkan penjelasan suara yang sesuai dengan materi yang sedang dipelajari.
(Foto: Dominggo dan Annisa bersama dengan finalis lainnya)
Dominggo mengatakan, “Perpaduan tersebut memungkinkan anak tunanetra belajar dengan memanfaatkan dua indra sekaligus, yaitu sentuhan dan pendengaran. Dengan demikian, proses pembelajaran diharapkan dapat berlangsung secara lebih interaktif, efektif, dan menarik, sekaligus mendorong kemandirian siswa dalam memahami materi.”
Tidak hanya menjadi alat bantu pembelajaran, Audibraille juga menjadi bentuk kepedulian keduanya terhadap pentingnya penyediaan fasilitas pendidikan yang dapat diakses oleh seluruh peserta didik. Inovasi tersebut diharapkan dapat menjadi salah satu alternatif media pembelajaran dalam mendukung terwujudnya lingkungan pendidikan yang inklusif, adaptif, dan ramah bagi penyandang disabilitas.
Keduanya mempersiapkan kompetisi tersebut selama lebih kurang tiga minggu. Sebagai tim yang terdiri atas dua orang, keduanya membagi tugas secara seimbang, mulai dari mencari dan mengkaji referensi dari berbagai jurnal, menyusun karya ilmiah, menyiapkan media presentasi, hingga berlatih menyampaikan gagasan di hadapan dewan juri.
Selama proses persiapan, keduanya mendapatkan pendampingan dari Ketua Program Studi Terapi Okupasi sekaligus dosen pembimbing, Muhammad Hidayat Sahid, S.K.M., M.Epid. Pendampingan tersebut membantu Dominggo dan Annisa menyempurnakan substansi karya, memperkuat argumentasi, serta mempersiapkan presentasi untuk babak final.
Keberhasilan para mahasiswa tersebut merupakan hasil dari proses pembelajaran yang mereka peroleh selama menempuh perkuliahan di Vokasi UI. Melalui mata kuliah Seni dan Ilmu Terapi Okupasi, mahasiswa dibekali pemahaman mengenai pentingnya merancang intervensi dan solusi yang berpusat pada kebutuhan pengguna. Sementara itu, mata kuliah Teknologi Informasi memberikan wawasan mengenai pemanfaatan teknologi dalam menciptakan inovasi yang efektif, adaptif, dan mudah diakses, termasuk bagi penyandang disabilitas. Perpaduan kedua bidang tersebut menjadi salah satu landasan mereka dalam mengembangkan konsep Audibraille.
Direktur Program Pendidikan Vokasi UI, Dr. Safrin Arifin, SKM., S.St., M.Sc., mengapresiasi prestasi yang diraih Dominggo dan Annisa. Menurutnya, capaian tersebut menunjukkan kemampuan mahasiswa Vokasi UI dalam mengidentifikasi kebutuhan masyarakat dan menerjemahkannya menjadi sebuah gagasan solutif. Safrin mengatakan, “Prestasi ini menunjukkan bahwa mahasiswa Vokasi UI mampu menghadirkan gagasan yang berangkat dari kebutuhan nyata masyarakat. Kami berharap capaian ini dapat menginspirasi mahasiswa lainnya untuk terus berkarya dan memberikan kontribusi melalui inovasi yang bermanfaat.”
(Foto: Sesi pemberian penghargaan kepada para pemenang Edutalk Fair Competition 2026)
Ke depan, keduanya berharap Audibraille tidak berhenti sebagai sebuah gagasan dalam karya ilmiah. Keduanya ingin konsep tersebut terus dikembangkan hingga dapat diwujudkan dan diimplementasikan sebagai media pembelajaran bagi anak tunanetra di berbagai sekolah.
Mereka juga berkomitmen untuk terus mengembangkan kemampuan dalam bidang riset dan inovasi, serta mengikuti berbagai kompetisi yang dapat menjadi ruang untuk menghasilkan solusi nyata bagi masyarakat. Capaian ini menjadi bukti bahwa mahasiswa Vokasi UI juga didorong untuk memiliki kepekaan sosial dan kemampuan menciptakan inovasi yang menjawab berbagai tantangan di tengah masyarakat.
Inovasi Audibraille juga sejalan dengan sejumlah target dalam Sustainable Development Goals (SDGs). Pemanfaatan media pembelajaran yang dapat diakses oleh anak tunanetra mendukung SDG 4: Pendidikan Berkualitas, khususnya dalam menjamin pendidikan yang inklusif, setara, dan memberikan kesempatan belajar bagi semua. Selain itu, Audibraille turut berkontribusi terhadap SDG 10: Berkurangnya Kesenjangan dengan membantu mengurangi hambatan yang dihadapi penyandang disabilitas dalam mengakses materi pembelajaran. Penggabungan teknologi audio dan tulisan Braille dalam satu media juga mencerminkan semangat SDG 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, melalui pengembangan inovasi teknologi yang inklusif dan berorientasi pada kebutuhan masyarakat.



