Depok-Mahasiswa Program Pendidikan Vokasi Universitas Indonesia (UI) kembali menorehkan prestasi membanggakan di tingkat nasional. Melalui tim Voksara, kontingen Vokasi UI berhasil meraih Juara 1 sekaligus penghargaan bergengsi Best Choreography dalam ajang National Folklore Festival (NFF) ke-20 kategori Tari Tradisional tingkat universitas. Kompetisi tahunan yang diselenggarakan oleh BEM Fakultas Ekonomi dan Bisnis UI ini berlangsung pada Rabu (28/04/2026), bertepatan dengan peringatan Hari Tari Sedunia.
Voksara bukan sekadar kelompok tari biasa. Nama “Voksara” merupakan hasil dialektika kreatif mahasiswa lintas program studi, yang menggabungkan identitas “Voks” (Vokasi) dan “Aksara” (simbol bahasa dan makna). Tim ini menjadi representasi nyata semangat kolaborasi multidisiplin yang menjadi ciri khas Vokasi UI. Tim Voksara terdiri dari lima mahasiswa, yaitu Daneyla Dwi Larassati dan Selvi Alisya Oriza (Manajemen Bisnis Pariwisata), Jaisyu Muhammad Al Razzu (Manajemen Rekod dan Arsip), serta Citra Saei dan Raditya Pradipta (Bisnis Kreatif).
Dalam kompetisi tersebut, Voksara membawakan karya bertajuk Tari Payung Pusako, yang berakar pada nilai-nilai budaya Minangkabau, Sumatera Barat. Tarian ini tidak hanya menonjolkan keindahan visual, tetapi juga mengangkat narasi tentang perlindungan, eksistensi pusaka adat, serta kekuatan kolektivitas dalam menjaga warisan budaya. Sentuhan unsur silat Minangkabau yang dinamis memberikan energi kuat sekaligus tetap mempertahankan keanggunan gerak tari.
Direktur Program Pendidikan Vokasi UI, Dr. Safrin Arifin, SKM., S.St., M.Sc., menyampaikan apresiasinya atas pencapaian tersebut. “Kami sangat mengapresiasi prestasi luar biasa yang diraih oleh tim Voksara. Keberhasilan ini menunjukkan bahwa mahasiswa Vokasi UI memiliki tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kompetensi nonakademik yang kuat, seperti kepekaan budaya serta kreativitas tinggi dalam melestarikan warisan bangsa. Capaian ini adalah wujud nyata dari semangat kolaboratif yang kami tanamkan di lingkungan kampus.”
Keunggulan Voksara dalam meraih penghargaan Best Choreography terletak pada kemampuan mereka menerjemahkan pakem tradisional ke dalam bahasa panggung yang relevan bagi audiens kontemporer. Aransemen musik modern yang tetap mempertahankan instrumen tradisional menjadi jembatan harmonis antara nilai historis dan selera masa kini.
Daneyla Dwi Larassati, salah satu anggota tim, mengungkapkan, “Kami tidak hanya fokus pada sinkronisasi gerakan, tetapi juga pada pendalaman makna di setiap transisi tari. Tantangannya adalah memadukan energi silat yang tegas dengan keanggunan tari payung sehingga, menghasilkan satu kesatuan rasa yang dapat dirasakan penonton,” jelasnya.
Di balik keberhasilan tersebut, terdapat proses panjang yang penuh dedikasi. Seluruh persiapan dilakukan secara mandiri selama tiga bulan tanpa pendampingan pelatih profesional. Voksara menerapkan metode evaluasi berbasis dokumentasi digital, dengan merekam setiap sesi kemudian dianalisis secara bersama untuk ketepatan teknik dan tempo pertunjukkan.
Keterbatasan sumber daya tidak menjadi hambatan. Seluruh aspek produksi, mulai dari pendanaan mandiri hingga pengadaan kostum autentik dari Sumatera Barat, dikelola dengan prinsip manajemen proyek yang efisien. Kehadiran penari laki-laki dalam tim turut memperkuat karakter koreografi yang mengangkat unsur bela diri. Keberhasilan ini juga mencerminkan sinergi latar belakang akademis anggota tim. Mahasiswa Manajemen Bisnis Pariwisata berperan dalam pengemasan budaya sebagai atraksi yang bernilai, mahasiswa Bisnis Kreatif menghadirkan inovasi visual, sementara mahasiswa Manajemen Rekod dan Arsip memastikan interpretasi budaya tetap berpijak pada nilai autentisitas sejarah.
Pencapaian Voksara menjadi bukti bahwa kreativitas, kolaborasi, dan komitmen adalah kunci dalam melestarikan identitas bangsa. Prestasi ini diharapkan dapat menginspirasi mahasiswa lain untuk terus berkarya, berinovasi, serta menjaga keberlanjutan budaya Indonesia di tingkat nasional maupun global.



