Depok-Naraya Rameyza Alya, mahasiswa program studi (prodi) Administrasi Asuransi dan Aktuaria, Sekolah Vokasi, Universitas Indonesia (UI), berhasil meraih Juara 3 dalam International Business Case Competition pada LeadCompetition 2026 yang diselenggarakan AIESEC UI, Selasa (11/08/2026). Dalam kompetisi tersebut, Naraya yang akrab disapa Mey tergabung dalam tim bersama Nadhira, mahasiswa prodi Akuntansi Institut Pertanian Bogor (IPB), dan Alia, mahasiswa prodi Teknik Sipil Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS). Ketiganya berhasil meraih prestasi melalui strategi bisnis yang disusun untuk menyelesaikan kasus dari ParagonCorp, khususnya untuk merek Light+ by Wardah.

LeadCompetition 2026 merupakan kompetisi business case yang mengajak peserta berperan layaknya konsultan bisnis. Para peserta ditantang untuk menganalisis permasalahan, merumuskan strategi, menyusun proposal dan pitch deck, hingga mempresentasikan solusi di hadapan dewan juri. Pada kompetisi tersebut, peserta dihadapkan pada kasus bisnis yang diberikan oleh ParagonCorp sebagai mitra kolaborasi.

Ketertarikan Mey terhadap kompetisi bisnis telah tumbuh sejak awal masa perkuliahan. Sejak semester awal, ia aktif mengikuti berbagai kompetisi sekaligus memperluas informasi mengenai kompetisi business case melalui media sosial maupun relasinya. Keikutsertaannya dalam LeadCompetition 2026 bermula dari ajakan Nadhira yang sebelumnya telah beberapa kali menjadi rekan satu timnya dalam kompetisi serupa.

Berbekal pengalaman dari kompetisi sebelumnya, ketiganya membagi peran dengan mempertimbangkan kompetensi dan keahlian masing-masing. Alia berfokus pada proses analisis dan riset, Mey menyusun strategi bisnis, sementara Nadhira bertanggung jawab terhadap aspek keuangan dan kelayakan implementasi. Meski memiliki pembagian tugas, setiap anggota tetap memahami keseluruhan strategi agar dapat saling mendukung selama presentasi maupun sesi tanya jawab.

Dalam merumuskan solusi, tim melakukan serangkaian proses riset, mulai dari wawancara, survei, hingga pengumpulan dan analisis data sekunder. Proses tersebut membutuhkan koordinasi yang intensif, terlebih dua anggota tim, termasuk Mey, tengah menjalani program magang. Keterbatasan waktu membuat sebagian besar persiapan kompetisi dilakukan setelah jam kerja. “Hampir setiap malam kami meeting dan membahas perkembangan pekerjaan masing-masing. Karena waktunya cukup terbatas, kami harus benar-benar memanfaatkan waktu yang ada,” ujar Mey.

Bagi Mey dan tim, capaian tersebut memiliki arti tersendiri. Perjalanan mereka mengikuti berbagai kompetisi business case sebelumnya tidak selalu berujung pada kemenangan. Mereka beberapa kali harus menerima kegagalan, tetapi pengalaman tersebut justru menjadi ruang belajar untuk mengevaluasi kekurangan, memperbaiki strategi, dan kembali mencoba.

(Foto: Naraya Rameyza Alya, mahasiswa prodi Administrasi Asuransi dan Aktuaria, Sekolah Vokasi UI)

Mey mengatakan, “Kami semua pernah gagal dan sebelumnya belum pernah menang. Justru itu yang menjadi dorongan bagi kami untuk memberikan yang terbaik. Kami merasa sudah banyak belajar dari kegagalan sebelumnya dan tidak ingin berhenti hanya karena belum berhasil.”

Ketertarikan Mey terhadap dunia business case juga didukung oleh pembelajaran yang diperolehnya selama menempuh pendidikan di Sekolah Vokasi UI. Salah satunya melalui mata kuliah Kewirausahaan yang memperkenalkannya pada dasar-dasar bisnis, berbagai framework, manajemen, serta pengalaman menyusun dan mempresentasikan proyek bisnis. “Saya mulai termotivasi mengikuti kompetisi business case sejak mengambil mata kuliah Kewirausahaan pada semester pertama. Dari mata kuliah tersebut, saya belajar berbagai framework, manajemen, serta dasar-dasar bisnis. Pada tugas akhir semester, kami juga diminta membuat sebuah proyek bisnis dan mempresentasikannya melalui pitching. Dari situlah saya semakin tertarik dan termotivasi untuk mencoba kompetisi di bidang bisnis,” tambah Mey.

Direktur Sekolah Vokasi UI, Dr. Safrin Arifin, SKM., S.St., M.Sc., mengapresiasi prestasi yang diraih Mey dan tim. Menurutnya, keberanian mahasiswa untuk mengikuti kompetisi menjadi salah satu sarana penting dalam mengembangkan kompetensi sekaligus menguji implementasi pengetahuan yang diperoleh selama perkuliahan. “Prestasi yang diraih Mey dan tim menunjukkan bahwa proses pembelajaran mahasiswa tidak berhenti di ruang kelas. Kemampuan melakukan riset dan analisis, menyusun strategi, bekerja sama dalam tim, serta keberanian untuk kembali mencoba setelah mengalami kegagalan merupakan kompetensi yang sangat dibutuhkan di dunia kerja. Kami berharap pencapaian ini dapat memotivasi mahasiswa lainnya untuk terus mengembangkan diri dan berani mengambil berbagai peluang untuk berprestasi,” ujar Safrin.

Prestasi tersebut menjadi salah satu gambaran bagaimana mahasiswa Sekolah Vokasi UI terus mengembangkan kompetensi melalui berbagai pengalaman di luar ruang kelas. Semangat untuk terus belajar, beradaptasi terhadap tantangan, serta bangkit dari kegagalan juga sejalan dengan nilai KITA—Kompeten, Integritas, Transformatif, dan Adaptif—yang menjadi bagian dari semangat Sekolah Vokasi UI dalam berkontribusi memberikan kontribusi positif serta mempersiapkan mahasiswa menghadapi dinamika dunia kerja dan industri.