Depok-Program studi (prodi) Penyiaran Multimedia, Program Pendidikan Vokasi, Universitas Indonesia (UI), menyelenggarakan kuliah tamu bertajuk “Behind The Mic: Evolusi Produksi Acara Radio di Era Digital Multiplatform” pada Selasa (03/03/2026). Kuliah tamu yang diadakan di Auditorim Vokasi UI tersebut menghadirkan Aji Sabha, penyiar 88,4 FM Global Radio Jakarta, sebagai narasumber. Kegiatan ini membahas transformasi industri radio serta strategi adaptasi penyiar dalam menghadapi perkembangan media digital.
Dalam pemaparannya, Aji menegaskan bahwa hingga kini, radio masih relevan sebagai media untuk menyampaikan pesan karena memiliki kekuatan pada aspek kedekatan emosional dengan pendengar. Menurutnya, radio adalah medium yang intim, menghadirkan koneksi recara real-time, serta mudah diakses dalam berbagai situasi. Tetapi, ia juga menekankan bahwa radio saat ini tidak lagi berdiri sendiri, melainkan menjadi bagian dari ekosistem media yang terintegrasi.
(Foto: Foto bersama audiens usai kuliah tamu berakhir)
Lebih lanjut, Aji menjelaskan bahwa produksi acara radio modern mencakup beberapa tahapan, mulai dari ide dan riset audiens, perencanaan format program, proses produksi, siaran langsung, distribusi digital, hingga evaluasi. Format program pun perlu disesuaikan dengan segmentasi target audiens, baik berbasis musik (music driven) maupun perbincangan (talk driven), serta memiliki unique selling point yang jelas.
Ia juga menggarisbawahi pentingnya strategi Radio 360° atau pendekatan multiplatform, yang mengintegrasikan siaran FM dengan live streaming, potongan konten di TikTok atau IG Reels, hingga distribusi dalam bentuk podcast. “Penyiar masa kini dituntut adaptif dan memiliki keterampilan tambahan seperti public speaking, storytelling, creative thinking, serta literasi digital sehingga industri radio dapat terus berkembang dan tetap menjadi salah satu media yang dinikmati masyarakat,” ujarnya.
Selain itu, Aji membahas aspek teknis dalam siaran langsung, seperti koordinasi dengan produser, mengatasi dead air, menjaga energi dan tempo, serta membangun transisi yang natural antarsegmen. Baginya, 60 detik pertama dalam opening merupakan momen krusial untuk menarik perhatian pendengar.
(Foto: Pemberian sertifikat dan cendera mata kepada Aji Sabha)
Salah satu mahasiswa prodi Penyiaran Multimedia, Kamila, mengaku mendapatkan perspektif baru dari kuliah tamu tersebut. “Dari materi ini saya jadi lebih paham bahwa penyiar juga harus memahami strategi konten dan distribusi digital. Ternyata peran penyiar sekarang jauh lebih kompleks dan menuntut kreativitas yang tinggi,” ungkap Kamila.
Ketua Program Studi Penyiaran Multimedia, Peny Meliaty Hutabarat, M.S.M., turut menyampaikan apresiasinya terhadap terselenggaranya kuliah tamu yang terintegrasi dengan mata kuliah Produksi Acara TV dan Radio. Peny mengatakan, “Industri penyiaran terus berkembang mengikuti dinamika teknologi. Melalui kuliah tamu seperti ini, mahasiswa dapat memahami realitas industri secara langsung dan mempersiapkan diri menjadi penyiar yang adaptif, kreatif, serta relevan dengan kebutuhan media masa kini.”
Melalui kegiatan ini, mahasiswa diharapkan tidak hanya memahami teori produksi siaran, tetapi juga mampu mengembangkan identitas, karakter, serta strategi personal sebagai penyiar di era digital yang semakin kompetitif.




