Depok-Program studi (prodi) Terapi Okupasi, Program Pendidikan Vokasi, Universitas Indonesia (UI), menyelenggarakan inbound lecture bertajuk “Three Decades of Occupational Therapy in Indonesia: Developments and Future Hopes in Clinical and Academic Fields” pada Selasa (03/02/2026) di Auditorium Vokasi UI. Kegiatan akademik ini menghadirkan tiga pakar terkemuka di bidang rehabilitasi dan terapi okupasi, yaitu Prof. Sharon Brintnell, MSc, OT (C), FCAOT, FWFOT, Profesor Emerita dari University of Alberta; Prof. Shaniff Esmail, PhD., MSc, Chair and Professor Faculty of Rehabilitation Medicine University of Alberta; serta Cahya Buwana, MSOT, Ph.D. OT, Occupational Scientis & Therapist.

Wakil Direktur Bidang Pendidikan, Penelitian, dan Kemahasiswaan Program Pendidikan Vokasi UI, Badrul Munir, Ph.D., dalam sambutannya, menyampaikan bahwa kegiatan ini mencerminkan komitmen Vokasi UI dalam memperkuat jejaring internasional serta meningkatkan kualitas pendidikan berbasis kebutuhan nasional. Munir menekankan bahwa inbound lecture bukan sekadar forum berbagi keilmuan, tetapi juga wahana refleksi strategis bagi sivitas akademika untuk memposisikan Terapi Okupasi sebagai profesi kunci dalam mendukung pembangunan sumber daya manusia Indonesia. Saat ini prodi Terapi Okupasi telah mendapatkan akreditasi World Federation of Occupational Therapists (WFOT), sehingga dapat memperkuat pendidikan terapi okupasi yang ada di Indonesia dan memberikan dampak, serta kebermaanfaatan terhadap pencetakan kualitas lulusan.

“Prodi Terapi Okupasi adalah salah satu prodi yang sangat strategis bagi pembangunan sistem kesehatan dan pendidikan di Indonesia, tetapi juga masih tergolong langka di tingkat nasional. Hingga saat ini, hanya terdapat dua institusi pendidikan tinggi di Indonesia yang menyelenggarakan pendidikan Terapi Okupasi, salah satunya di Vokasi UI, sehingga lulusan diharapkan mampu menjawab kebutuhan tenaga kerja di pasar nasional yang terus meningkat,” ujar Munir.

(Foto: Prof. Sharon menggambarkan profesi terapis okupasi di era saat ini)

Dalam paparannya, Prof. Sharon Brintnell, mengulas perjalanan panjang Terapi Okupasi di Indonesia sejak fase awal hingga kini. Ia menyoroti bahwa Indonesia mengembangkan profesi ini melalui pembangunan kapasitas pendidikan sejak dini, bukan sekadar menunggu permintaan layanan meningkat, serta melalui negosiasi kebijakan, adaptasi budaya, dan pembangunan infrastruktur pendidikan.

Prof. Sharon juga menjelaskan bagaimana kerja sama internasional antara University of Alberta dan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia pada akhir 1980-an yang menjadi titik balik penting dalam pembentukan pendidikan Terapi Okupasi di Indonesia, termasuk pengembangan kurikulum sensitif budaya, model fieldwork, hingga penguatan identitas profesi. Prof. Sharon mengatakan, “Universitas Indonesia telah menjadi salah satu motor utama dalam pengembangan sumber daya manusia Terapi Okupasi nasional. Persetujuan WFOT terhadap kurikulum Sarjana Terapan menunjukkan bahwa Indonesia mampu menghadirkan pendidikan berstandar internasional dengan karakter lokal yang kuat.”

(Foto: Prof. Shaniff saat memberikan pemaparan pada inbound lecture tersebut)

Sementara itu, Prof. Shaniff Esmail memaparkan peran strategis Terapi Okupasi dalam mendukung visi Indonesia Emas 2045, khususnya dalam bidang kesehatan, pendidikan, dan produktivitas nasional. Prof. Shaniff menekankan bahwa Terapi Okupasi tidak hanya berfokus pada layanan klinis, melainkan juga turut berkontribusi pada pembangunan bangsa melalui peningkatan fungsi dan partisipasi masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. “Dalam sektor kesehatan, Terapis Okupasi memiliki peran penting dalam layanan primer, eliminasi penyakit menular seperti TBC, pencegahan stunting, penanganan penyakit tidak menular, penuaan sehat, hingga ketahanan layanan di wilayah kepulauan melalui pendekatan berbasis komunitas dan rumah,” ungkap Prof. Shaniff.

Ia juga menguraikan tren masa depan Terapi Okupasi di Indonesia, seperti meningkatnya kebutuhan layanan, ekspansi ke sektor industri, penguatan kesehatan mental, fokus pada riset dan pendidikan berbasis bukti, hingga peran advokasi kebijakan di tingkat nasional dan kolaborasi global.

Cahya Buwana melengkapi diskusi dengan memaparkan dinamika pertumbuhan sumber daya manusia Terapi Okupasi di Indonesia. Ia mencatat bahwa pada 2026 terdapat lebih dari 2.500 Terapis Okupasi yang teregistrasi, sementara proyeksi kebutuhan nasional mencapai 35.000–40.000 tenaga, sehingga penguatan pendidikan menjadi agenda mendesak. “Tantangan terbesar kita hari ini adalah kesenjangan antara jumlah Terapis Okupasi dan kebutuhan nasional. Solusinya bukan hanya menambah lulusan, tetapi membangun sistem pendidikan yang berkelanjutan melalui penguatan dosen dan riset. Masa depan Terapi Okupasi Indonesia ada pada kurikulum yang berstandar global dan berakar pada budaya lokal. Melalui cara itu, kita tidak hanya memenuhi kebutuhan dalam negeri, tetapi juga siap berkompetisi di tingkat regional,” paparnya.

(Foto: Cahya Buwana menghadiri kegiatan inbound lecture secara daring)

Melalui inbound lecture ini, prodi Terapi Okupasi berharap dapat memperkuat kerja sama akademik dengan mitra internasional, salah satunya dengan University of Alberta, serta mendorong percepatan pengembangan pendidikan dan riset Terapi Okupasi di Indonesia. Kegiatan ini juga menjadi bagian dari upaya Vokasi UI dalam menyiapkan lulusan unggul yang adaptif terhadap tantangan nasional dan global, sekaligus berkontribusi pada pembangunan sistem kesehatan dan pendidikan yang inklusif dan berkelanjutan.

WhatsApp whatsapp
Instagram instagram
Email
chat Chat Us!