Depok-Himpunan Mahasiswa Manajemen Bisnis Pariwisata Universitas Indonesia (HIMTA UI) melalui Departemen Pengembangan Karier menggelar “Tourism Upgrading Class 1 Tahun 2026 X SITE UI” untuk meningkatkan kualitas dan kesiapan mahasiswa menghadapi dunia industri. Kegiatan yang dilaksanakan secara daring pada Sabtu (09/05/2026) ini menjadi wadah pengembangan wawasan mahasiswa terkait isu keberlanjutan dalam industri pariwisata global.
Mengusung semangat pengembangan soft skills dan pemahaman industri, kegiatan ini menghadirkan tiga narasumber inspiratif, yaitu Muchamad Ikhsan Destian dari Pandawara Group; Agung Yoga Asmoro, Researcher Flinders University, College of Humanities, Arts and Social Sciences; dan Prof. Noel Robert Scott, Dili Institute of Technology. Kegiatan Tourism Upgrading Class 1 Tahun 2026 hadir sebagai respons atas kebutuhan industri pariwisata modern yang semakin menitikberatkan pada penerapan sustainability management. Seiring berkembangnya green economy dan pariwisata berkelanjutan, mahasiswa diharapkan mampu menciptakan praktik industri yang inovatif, etis, inklusif, dan ramah lingkungan.
Dalam pemaparannya, Prof. Noel membawakan materi bertajuk “The Evolution of Sustainability: Moving Beyond Greenwashing to Authentic Sustainable Practices” yang menyoroti perkembangan konsep keberlanjutan di industri pariwisata global. Ia menjelaskan bahwa isu keberlanjutan menjadi kebutuhan mendesak yang menentukan masa depan industri pariwisata dunia. Prof. Noel mengatakan, “Sektor pariwisata memiliki peran penting dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya terkait pertumbuhan ekonomi berkelanjutan, pelestarian budaya, perlindungan lingkungan, serta pengurangan kemiskinan.”
Materi yang disampaikan Prof. Scott relevan dengan beberapa tujuan pembangunan berkelanjutan, seperti SDG 8 (Decent Work and Economic Growth) melalui pengembangan ekonomi pariwisata yang inklusif, SDG 11 (Sustainable Cities and Communities) melalui pengelolaan destinasi wisata yang berkelanjutan, SDG 12 (Responsible Consumption and Production) melalui pengurangan limbah dan praktik industri yang bertanggung jawab, serta SDG 13 (Climate Action) melalui pengurangan emisi karbon dalam sektor transportasi dan pariwisata. Selain itu, penguatan partisipasi masyarakat lokal dalam pengembangan wisata juga mencerminkan implementasi SDG 17 (Partnerships for the Goals) melalui kolaborasi antara pemerintah, komunitas, akademisi, dan pelaku industri.
Lebih lanjut, Prof. Noel memaparkan berbagai tantangan besar yang dihadapi industri pariwisata modern, mulai dari overtourism, peningkatan emisi karbon akibat transportasi udara, hingga lemahnya tata kelola destinasi wisata. “Pertumbuhan jumlah wisatawan yang tidak terkendali dapat memberikan tekanan besar terhadap kawasan rentan seperti taman nasional, desa wisata, hingga pusat budaya lokal,” ungkapnya.
Selain membahas tantangan global, Prof. Noel turut membagikan berbagai contoh praktik pariwisata berkelanjutan di Indonesia. Salah satunya adalah pengembangan Festival Pantai Ligota di Flores yang berhasil memperluas dampak ekonomi pariwisata hingga ke daerah di luar Labuan Bajo. Ia juga menampilkan proyek pelatihan masyarakat lokal dalam pengembangan wisata berbasis komunitas, pengelolaan wisata hiu paus di Sumbawa, hingga penguatan ekonomi perempuan di Desa Wae Lolos melalui produk kuliner dan atraksi budaya lokal. Tidak hanya itu, Prof. Noel juga memaparkan proyek digitalisasi data wisata melalui sistem SIPARI di Raja Ampat UNESCO Global Geopark. Sistem tersebut dikembangkan untuk memperkuat tata kelola pariwisata berbasis data, meningkatkan transparansi, serta membantu pemerintah daerah mengukur dampak ekonomi dan keberlanjutan sektor pariwisata secara lebih akurat.
Melalui berbagai studi kasus tersebut, mahasiswa diajak memahami bahwa keberlanjutan tidak hanya berkaitan dengan pelestarian lingkungan, tetapi juga mencakup pemberdayaan masyarakat lokal, tata kelola yang transparan, penguatan ekonomi komunitas, serta penggunaan teknologi untuk mendukung pengambilan keputusan berbasis data.
(Foto: Sesi diskusi dengan narasumber saat acara berlangsung)
Sementara itu, Agung membahas tantangan implementasi sustainable tourism di Indonesia melalui hasil penelitiannya terhadap desa wisata. Ia menyoroti fenomena “scoreism”, yaitu kondisi ketika keberhasilan pariwisata lebih banyak diukur melalui indikator simbolis dibandingkan dampak nyata bagi masyarakat lokal. Menurutnya, konsep keberlanjutan seharusnya berangkat dari kebutuhan masyarakat dan penyelesaian masalah nyata di lapangan.
Sedangkan, Ikhsan turut menekankan pentingnya aksi kolektif anak muda dalam menjaga lingkungan. Melalui pengalaman Pandawara Group dalam menangani persoalan sampah dan pencemaran sungai, Ikhsan menjelaskan bahwa media sosial dapat menjadi alat yang efektif untuk meningkatkan kesadaran sekaligus menggerakkan perubahan sosial secara nyata.
Semangat tersebut kemudian diwujudkan lebih lanjut melalui SITE UI 2026 yang menghadirkan seminar interaktif, workshop content creating, hingga content creation competition sebagai rangkaian kegiatan yang saling terintegrasi. Kegiatan ini dirancang untuk mendorong generasi muda agar tidak hanya memahami isu sustainable tourism sebatas awareness, tetapi juga mampu menyampaikan pesan keberlanjutan secara kreatif melalui media digital. Dalam workshop tersebut, SITE UI menghadirkan travel content creator Naura Azaria sebagai narasumber sekaligus juri kompetisi. Naura membagikan strategi pembuatan konten digital yang tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga mampu memberikan dampak edukatif kepada audiens mengenai pentingnya menjadi responsible traveler. Pemahaman yang diperoleh peserta kemudian diterapkan melalui content creation competition bertema sustainable tourism dan responsible traveler. Kompetisi ini diikuti oleh 17 peserta individu dan 25 kelompok dengan total 92 peserta lomba.
Ketua Program Studi Manajemen Bisnis Pariwisata, Anisatul Auliya, S.ST.Par., M.Par., dalam sambutannya, menyampaikan bahwa pemahaman mengenai keberlanjutan menjadi kompetensi penting yang harus dimiliki mahasiswa pariwisata di era global saat ini. Menurutnya, industri pariwisata masa depan membutuhkan sumber daya manusia yang memiliki kesadaran terhadap dampak sosial dan lingkungan dari setiap aktivitas wisata. “Pariwisata saat ini perlu mendapat perhatian mengenai bagaimana kita menjaga keseimbangan antara kebutuhan ekonomi, pelestarian lingkungan, dan kesejahteraan masyarakat. Melalui Tourism Upgrading Class 1 Tahun 2026, kami berharap mahasiswa mampu memiliki perspektif yang lebih luas mengenai pentingnya sustainability dalam membangun masa depan industri pariwisata yang bertanggung jawab dan berdampak positif,” tutup Auliya.




