Depok- Profesi model profesional tidak hanya menuntut kemampuan tampil di depan kamera, tetapi juga pemahaman terhadap konsep kreatif, komunikasi visual, dan pesan yang ingin disampaikan melalui setiap karya. Hal tersebut tercermin dari perjalanan karier Raissa Shofia Tsabita Putri, alumni program studi (prodi) Penyiaran Multimedia, Program Pendidikan Vokasi, Universitas Indonesia (UI), yang mengembangkan karier sebagai model profesional sekaligus desainer grafis. Menjadi model profesional tidak semata-mata tentang tampil percaya diri di depan kamera. Di balik setiap pose, ekspresi, dan visual yang dihasilkan, terdapat konsep, pesan, serta proses kreatif yang perlu dipahami.

Raissa merupakan alumni Vokasi UI angkatan 2021. Ketertarikannya untuk menjadi model telah tumbuh sejak berusia 14 tahun. Meski demikian, ketika memilih melanjutkan pendidikan di Vokasi UI, ia justru membayangkan akan meniti karier di balik layar dalam industri kreatif, khususnya di bidang media sosial dan produksi konten.

(Foto: Raissa saat menjadi model untuk brand pakaian)

Prodi Penyiaran Multimedia menjadi ruang bagi Raissa untuk mempelajari proses produksi media secara menyeluruh. Melalui pembelajaran berbasis praktik, ia memperoleh pengalaman mulai dari menyusun konsep, mempersiapkan produksi, memahami pencahayaan dan komposisi kamera, hingga melakukan penyuntingan karya. Bekal tersebut membentuk cara pandangnya terhadap sebuah visual. “Visual bukan sekadar menarik secara estetis, tetapi juga harus mampu menyampaikan cerita dan pesan yang ingin dibangun oleh sebuah merek,” ungkapnya.

Perjalanan karier Raissa mulai menemukan arah baru ketika ia mengikuti UI Fashion Week saat masih berstatus mahasiswa. Dalam ajang tersebut, ia berhasil meraih Juara 2 dan memperoleh kesempatan bergabung dengan agensi WhoKnows Models. Kesempatan itu menjadi salah satu titik penting yang membawanya meniti karier sebagai model profesional. Pekerjaan yang semula dijalani sebagai aktivitas sampingan pun perlahan berkembang menjadi karier utama.

(Foto: Raissa saat menyelesaikan sidang tugas karya akhir di Vokasi UI)

Every visual tells a story. Menurut saya, itulah yang membuat sebuah kampanye menjadi lebih bermakna,” tambah Raissa.

Meski kini lebih sering berada di depan kamera, pengetahuan mengenai proses produksi tetap menjadi bekal penting dalam setiap proyek yang dijalaninya. Pemahaman terhadap pencahayaan, komposisi, konsep visual, dan alur produksi membantunya menerjemahkan arahan kreatif dengan lebih baik. Ia dapat menyesuaikan ekspresi serta gestur dengan pesan yang ingin disampaikan, sekaligus membangun komunikasi yang lebih efektif bersama fotografer, videografer, direktur kreatif, dan anggota tim produksi lainnya.

Pengalaman akademik tersebut juga membuat Raissa melihat pekerjaan model sebagai bagian dari sebuah proses kolaboratif. Kehadiran seorang model bukanlah elemen yang berdiri sendiri, melainkan bagian dari upaya bersama untuk mewujudkan gagasan kreatif menjadi karya visual yang utuh. Cara pandang ini membantu Raissa bekerja bukan hanya sebagai talent, tetapi juga sebagai mitra kreatif yang memahami kebutuhan produksi dan tujuan komunikasi sebuah kampanye.

Selama menempuh pendidikan di Vokasi UI, Raissa aktif terlibat dalam berbagai proyek produksi kampus sebagai talent, presenter, maupun model. Keterlibatan langsung dalam beragam peran tersebut memberinya kesempatan untuk memahami dinamika kerja di depan dan di balik layar. Pengalaman itu sekaligus melatih kemampuan beradaptasi, berkomunikasi, dan bekerja sama dalam sebuah tim produksi.

(Foto: Raissa saat menjadi model untuk brand kosmetik)

Perjalanan Raissa menunjukkan bahwa kompetensi yang diperoleh melalui pendidikan vokasional dapat membuka jalur karier yang beragam. Pengetahuan teknis, pengalaman praktik, dan pemahaman terhadap proses kreatif tidak hanya mempersiapkan lulusan untuk bekerja di balik layar, tetapi juga menjadi nilai tambah ketika mereka memilih berkarya di depan kamera. Bagi Raissa, kemampuan melihat sebuah produksi dari dua sisi tersebut menjadi kekuatan yang membedakannya dalam menjalani profesi di industri kreatif.

Melalui kurikulum yang mengintegrasikan teori dan praktik, pengalaman magang, proyek kolaboratif, serta pembelajaran berbasis industri, Vokasi UI membekali mahasiswa agar siap kerja, kreatif, inovatif, dan kompeten dalam menghadapi dinamika dunia profesional. Pendekatan tersebut tidak hanya memperkuat penguasaan kompetensi teknis, tetapi juga mengembangkan kemampuan berpikir kritis, komunikasi, kolaborasi, pemecahan masalah, dan adaptasi terhadap perkembangan kebutuhan industri.