Depok-Di balik penampilan sempurna atlet di arena pertandingan, terdapat dukungan berbagai profesi yang berperan memastikan atlet dalam kondisi fisik dan performa  yang optimal. Salah satu profesi yang memegang peranan penting dalam proses tersebut adalah sport physiotherapist atau fisioterapis olahraga. Tidak hanya hadir ketika atlet mengalami cedera, fisioterapis olahraga juga berperan dalam mencegah cedera, memantau kondisi fisik, menyusun program pemulihan, serta membantu atlet mempertahankan performa terbaiknya.

Profesi tersebut kini ditekuni oleh Delia Agustin, alumni program studi (prodi) Fisioterapi, Program Pendidikan Vokasi, Universitas Indonesia (UI) angkatan 2020. Sebagai sport physiotherapist di Student Sports Training Center DKI Jakarta, Delia mendampingi atlet-atlet pelajar dari berbagai cabang olahraga. Dalam kesehariannya, Delia tidak hanya menangani atlet yang mengalami cedera. Ia juga memastikan para atlet berada dalam kondisi fisik yang optimal sebelum, selama, dan setelah menjalani latihan maupun kompetisi.

Ketertarikan Delia terhadap fisioterapi olahraga berawal dari kecintaannya pada dunia olahraga. Selama menempuh pendidikan di Vokasi UI, ia semakin memahami bahwa kontribusi seorang fisioterapis jauh lebih luas daripada yang selama ini banyak diketahui masyarakat. Menurut Delia, setiap gerakan atlet merupakan hasil dari proses latihan yang panjang dan disiplin. Di balik proses tersebut, fisioterapis hadir untuk memastikan tubuh atlet mampu melakukan setiap gerakan secara efektif, aman, dan sesuai dengan kapasitas fisiknya.

(Foto: Delia saat memberikan intervensi kepada salah satu atlet)

Di Student Sports Training Center DKI Jakarta, Delia menjadi bagian dari tim multidisiplin yang mendampingi atlet pelajar. Ia melakukan pemeriksaan kondisi fisik sebelum latihan, mengevaluasi pola gerak, menyusun program pencegahan cedera, memberikan penanganan ketika cedera terjadi, hingga merancang program rehabilitasi agar atlet dapat kembali berlatih dan bertanding dengan aman.

Pemeriksaan dan evaluasi tersebut penting untuk mengidentifikasi risiko cedera sejak dini. Melalui pengamatan terhadap kekuatan otot, fleksibilitas, keseimbangan, mobilitas, dan pola gerak atlet, fisioterapis dapat memberikan rekomendasi latihan yang disesuaikan dengan kebutuhan setiap individu.

Dalam menjalankan perannya, Delia tidak bekerja seorang diri. Ia berkolaborasi dengan dokter spesialis kedokteran olahraga, ahli gizi, psikolog olahraga, pelatih, serta tenaga kesehatan lainnya. Kolaborasi tersebut menjadi kunci dalam menjaga kesiapan atlet secara menyeluruh, baik dari aspek fisik maupun mental.

“Fisioterapis bukan hanya hadir saat cedera. Justru peran terbesar kami adalah sebelum cedera itu terjadi. Kami terlibat dalam screening gerak, monitoring beban latihan, program pencegahan cedera, hingga pemulihan setelah latihan intensif agar atlet bisa tampil konsisten di level terbaiknya,” ujar Delia.

Pernyataan tersebut menggambarkan bahwa fisioterapis olahraga bukan sekadar tenaga kesehatan yang menangani cedera. Mereka juga menjadi bagian dari proses pembentukan performa atlet dalam jangka panjang.

Salah satu pengalaman yang paling membekas bagi Delia adalah ketika ia mendampingi seorang atlet judo yang mengalami fraktur tibia saat latihan. Cedera tersebut membutuhkan proses rehabilitasi yang panjang dan dilakukan secara bertahap.

(Foto: Delia turut mendampingi kegiatan yang diikuti para atlet)

Proses pemulihan dimulai dari upaya mengurangi nyeri, mempertahankan kekuatan otot selama masa penyembuhan, mengembalikan kemampuan gerak, hingga mempersiapkan atlet untuk kembali menjalani latihan dengan intensitas tinggi. Setiap tahap harus dilalui melalui evaluasi yang cermat agar atlet dapat kembali ke arena pertandingan tanpa meningkatkan risiko cedera berulang.

Namun, bagi Delia, tantangan terbesar dalam proses rehabilitasi tidak hanya terletak pada pemulihan kondisi fisik. Cedera berat juga dapat memengaruhi kondisi psikologis serta kepercayaan diri seorang atlet. Rasa takut untuk kembali melakukan gerakan tertentu, kekhawatiran akan mengalami cedera yang sama, serta tekanan untuk segera kembali bertanding menjadi bagian dari tantangan yang harus dihadapi atlet selama masa pemulihan. Oleh karena itu, pendampingan fisioterapis juga membutuhkan komunikasi, empati, dan kemampuan membangun kepercayaan.

Pengalaman tersebut semakin menguatkan keyakinan Delia bahwa fisioterapis merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari dunia olahraga. Di balik seorang atlet yang berhasil kembali bertanding setelah mengalami cedera, terdapat proses rehabilitasi panjang, kolaborasi berbagai profesi, serta pendampingan yang dilakukan secara konsisten.

Bekal untuk menjalankan profesi tersebut telah Delia peroleh sejak menjadi mahasiswa Vokasi UI. Melalui pembelajaran berbasis praktik, mahasiswa prodi Fisioterapi tidak hanya mempelajari teori di ruang kelas, tetapi juga memperoleh pengalaman menghadapi pasien dalam berbagai situasi pelayanan kesehatan.

Pengalaman praktik klinik membantu mahasiswa memahami cara melakukan pemeriksaan, menentukan permasalahan gerak dan fungsi tubuh, serta menyusun program intervensi sesuai dengan kondisi pasien. Mahasiswa juga dibekali kemampuan untuk mengikuti perkembangan penelitian dan menerapkan pendekatan berbasis bukti atau evidence-based practice dalam memberikan pelayanan fisioterapi.

Selain menguasai kompetensi teknis, mahasiswa juga dibekali pengalaman berkolaborasi dengan profesi tenaga kesehatan lain turut membentuk kesiapan mahasiswa untuk memasuki dunia kerja. Kemampuan berkomunikasi, bekerja dalam tim, mengambil keputusan, dan beradaptasi dengan berbagai kondisi menjadi bagian penting dari profesionalisme seorang fisioterapis. Bagi Delia, perjalanan menjadi fisioterapis olahraga menunjukkan bahwa kontribusi terhadap prestasi atlet tidak selalu dilakukan dari tengah arena pertandingan. Ada peran-peran penting yang bekerja di balik layar, memastikan tubuh atlet tetap sehat, kuat, dan siap menghadapi setiap tantangan.

Melalui profesinya, Delia membuktikan bahwa fisioterapi turut menjaga keberlanjutan karier, meningkatkan kualitas gerak, serta membantu atlet mencapai performa terbaiknya secara aman. Di balik setiap langkah atlet menuju podium, terdapat proses panjang yang mungkin tidak selalu terlihat oleh publik. Pada proses itulah Delia dan para fisioterapis olahraga lainnya mengambil peran—menjaga, mendampingi, dan memastikan para atlet dapat terus bergerak mengejar prestasi.