Depok-Berawal dari sebuah tugas orientasi mahasiswa baru, lima mahasiswa program studi (prodi) Produksi Media, Program Pendidikan Vokasi, Universitas Indonesia (UI), tidak pernah menyangka bahwa proyek yang mereka kerjakan bersama akan menjadi awal perjalanan sebuah band indie. Melalui nama Arteeich, mereka kini tidak hanya menyalurkan kegemaran bermusik, tetapi juga menghasilkan karya orisinal yang dapat dinikmati melalui berbagai platform musik digital.
Arteeich beranggotakan Tesalonika Imanuel Silalahi sebagai vokalis, Stefano Allen Rihidara pada bass, Abrasska Zanofeea Hermawan pada gitar, Shannon Sifra Marriane pada drum, serta Noufal Andika Ahmad pada keyboard. Band yang terbentuk pada 2023 tersebut mengusung warna musik bedroom pop dan indie pop dengan nuansa hangat serta lirik yang dekat dengan pengalaman generasi muda. Kehadiran Arteeich menjadi salah satu wujud nyata bagaimana ekosistem pembelajaran di kampus mendorong lahirnya inovasi mahasiswa serta menjadi ruang kreatif bertemunya gagasan, minat, dan karya mahasiswa hingga berkembang menjadi nilai tambah bagi masyarakat.
(Foto: Arteeich, band mahasiswa Vokasi UI)
Perjalanan mereka bermula ketika mengikuti Prorientation, kegiatan orientasi mahasiswa baru prodi Produksi Media. Pada akhir kegiatan tersebut, mahasiswa mendapatkan tugas untuk membuat sebuah video musik. Mereka kemudian dibagi ke dalam tim produksi musik dan produksi video. Sebagian besar anggota Arteeich tergabung dalam tim produksi musik. Proyek tersebut membuat mereka semakin sering berdiskusi, bertukar referensi, menyusun aransemen, dan menciptakan lagu bersama. Kesamaan minat serta kecocokan dalam bermusik akhirnya mendorong kelimanya untuk melanjutkan kolaborasi dan membentuk sebuah band.
Nama Arteeich pun lahir dari ruang yang memiliki arti khusus bagi mereka. Arteeich merupakan pelesetan dari singkatan RTH atau Ruang Terbuka Hijau, salah satu sudut di lingkungan Vokasi UI yang menjadi tempat favorit para anggota untuk berkumpul. Di tempat tersebut, berbagai ide kreatif bermunculan. Diskusi mengenai musik berlangsung, konsep karya dikembangkan, hingga lagu pertama mereka yang berjudul “Ever” tercipta. Bagi para anggota Arteeich, RTH bukan sekadar tempat berkumpul, melainkan ruang yang menyimpan awal perjalanan dan identitas mereka sebagai sebuah band.
Pada mulanya, Arteeich dibentuk untuk menyelesaikan proyek orientasi. Namun, setelah proyek tersebut berakhir, kelima anggotanya merasa memiliki chemistry yang kuat dan visi yang sama dalam bermusik. Mereka pun sepakat untuk terus berkarya bersama. Dukungan dari teman seangkatan, dosen, dan keluarga besar Produksi Media Vokasi UI semakin memantapkan langkah Arteeich untuk mengembangkan proyek tersebut secara lebih serius. Pada 2024, mereka melakukan proses remastering, remixing, dan rekaman ulang lagu “Ever” sebelum akhirnya merilis karya tersebut melalui berbagai platform musik digital.
Dalam menciptakan lagu, Arteeich banyak mengambil inspirasi dari pengalaman pribadi dan berbagai cerita yang dekat dengan kehidupan nyata remaja serta dewasa muda. Melalui lirik yang reflektif, tema tentang jatuh cinta, kehilangan, keraguan, pencarian jati diri, hingga proses bertumbuh menjadi benang merah dalam karya-karya mereka dan memiliki kedekatan emosional dengan pendengarnya. Setiap anggota turut terlibat dalam proses kreatif. Mereka bersama-sama menentukan konsep, menyusun aransemen, mengembangkan karakter musik, serta menyempurnakan proses produksi. Kolaborasi tersebut membuat setiap karya Arteeich tidak hanya menjadi hasil kerja individu, tetapi juga representasi dari pemikiran dan pengalaman seluruh anggota.
Abrasska, gitaris sekaligus penulis lirik Arteeich, mengatakan bahwa mereka tidak sekadar ingin menciptakan lagu yang dapat didengarkan, tetapi juga menghadirkan ruang emosional bagi para pendengarnya. “Kami ingin pendengar merasa ditemani melalui lagu-lagu Arteeich. Perasaan seperti sedih, bingung, jatuh cinta, maupun kehilangan adalah hal yang dialami banyak orang. Kami berharap lagu-lagu kami dapat menjadi ruang yang membuat pendengar merasa bahwa mereka tidak sendirian dalam menghadapi perasaan tersebut,” ujar Abrasska.
(Foto: Kelima mahasiswa prodi Produksi Media yang tergabung dalam band Arteeich)
Bagi Arteeich, proses berkarya di luar ruang kelas tetap menjadi bagian penting dari perjalanan belajar sebagai mahasiswa. Pengalaman mengerjakan proyek nyata, berkolaborasi dengan individu yang memiliki kemampuan berbeda, mengelola proses produksi, hingga memublikasikan sebuah karya memberikan pembelajaran yang tidak selalu diperoleh melalui teori di dalam kelas.
Latar belakang mereka sebagai mahasiswa Produksi Media juga membantu para anggota memahami bahwa sebuah karya kreatif tidak hanya membutuhkan ide yang menarik. Karya tersebut perlu dikelola melalui proses produksi yang terencana, kerja sama tim, komunikasi yang terbuka, serta kemampuan untuk menyampaikan pesan kepada audiens.
Pengalaman tersebut sejalan dengan pembelajaran di Vokasi UI yang mendorong mahasiswa untuk mengembangkan keterampilan melalui praktik, kolaborasi, dan proyek yang berkaitan dengan kebutuhan industri. Melalui Arteeich, tugas yang awalnya dikerjakan dalam rangka kegiatan orientasi dapat berkembang menjadi karya yang memiliki nilai lebih dan dinikmati oleh masyarakat luas.
Di tengah kesibukan menjalani perkuliahan, para anggota Arteeich tetap berupaya menjaga keseimbangan antara kegiatan akademik dan aktivitas bermusik. Jadwal latihan biasanya dilakukan setelah perkuliahan atau pada akhir pekan. Sementara itu, waktu libur semester dimanfaatkan untuk menulis lagu, mengembangkan aransemen, dan mempersiapkan proses produksi berikutnya.
Komunikasi yang terbuka menjadi salah satu kunci bagi mereka dalam menjaga keberlangsungan band. Chemistry yang telah terbangun sejak awal juga membantu setiap anggota memahami peran masing-masing, menyelesaikan perbedaan pendapat, dan menjaga semangat untuk terus berkarya bersama. Ke depan, Arteeich berharap dapat konsisten menghasilkan dan merilis karya baru, menjangkau lebih banyak pendengar, serta tampil di berbagai panggung musik. Mereka juga ingin terus mengembangkan karakter bermusik tanpa kehilangan kedekatan dengan cerita-cerita sederhana yang menjadi sumber inspirasi utama.
Perjalanan Arteeich menjadi bukti bahwa sebuah ide sederhana yang lahir dari tugas orientasi dapat berkembang menjadi karya yang membawa identitas, cerita, dan semangat kolaborasi. Kisah mereka sekaligus menunjukkan bagaimana lingkungan pembelajaran yang kolaboratif mampu mendorong mahasiswa Vokasi UI untuk berani mencoba, mengembangkan kreativitas, dan menghadirkan karya yang berdampak bagi masyarakat.



