Brisbane – Bertempat di Tafe Queensland, Devie Rahmawati dan Westri, penerima Australian Awards mengunjungi Tafe, salah satu Pendidikan Tinggi Vokasi di Queensland, Australia. Tafe memiliki lebih dari 90 program studi dari 15 area studi dan 500 lebih pelatihan sertifikasi. Kunjungan dilakukan di ruang kelas dan laboratorium praktik.

“Sekolah Vokasi di Australia menjadi tiket utama untuk mendapatkan pekerjaan yang mendapatkan penghasilan tinggi. Salah satu profesi, lulusan D3/D4 (S1 Terapan) nya justru mendapatkan pendapatan sekitar 100-150 ribu setahun, sedangkan pekerja yang lulusan S1 akademik mendapatkan sekitar 55 ribu dollar setahun,’ ujar Devie Rahmawati, Ketua Program Studi Vokasi Humas Universitas Indonesia (UI)
“Studi yang dikeluarkan oleh McCrindle Research and Skilling Australia Foundation menyebutkan bahwa 68% lulusan Akademik mendapatkan pekerjaan sesudah lulus dari universitas. Sedangkan 92% lulusan Vokasi telah mendapatkan pekerjaan, bahkan ketika baru menyelesaikan kelasnya. Hal ini terjadi karena mereka sudah melakukan praktik kerja semenjak di masa studinya,” seru Devie yang juga . penggiat Klinik Digital Vokasi.
“Kondisi yang berbeda di Australia, para lulusan S1 akademik, banyak yang kemudian selepas lulus, kembali menempuh studi di Vokasi untuk mendapatkan sertifikat atau pendidikan D3/D4. Hal ini didorong oleh permintaan industri di Australia, terhadap kualifikasi utama yaitu ketrampilan kerja, “ tambah Devie.

“Berdasarkan hasil diskusi dengan beberapa profesional di Australia, tidak ada dikotomi antara pendidikan Vokasi dan Akademik. Hanya saja, di sini, semua orang didorong fokus dengan minatnya, untuk mengambil studi yang relevan dengan kemampuan dan keinginan mereka untuk berkarir di masa datang. Pendidikan Vokasi ditujukan bagi individu yang memang ingin berkarir sebagai profesional di industri. Sedangkan pendidikan akademik, ditujukan bagi individu yang ingin meniti jalan sebagai pengajar dan peneliti misalnya. Namun, bukan berarti terjadi pemisahan yang kaku antara kedua pendidikan tersebut. Lulusan vokasi juga dapat mengambil pendidikan akademik untuk memperkaya pengetahuan teoritis. Sedangkan lulusan akademik, akan mengambil pendidikan vokasi untuk mendapatkan ketrampilan profesional,” ujar Devie.

Membangun pendidikan Vokasi yang profesional tidaklah mudah. Pemerintah Australia benar-benar memberikan dukungan kebijakan dan keuangan bagi pendidikan Vokasi. “Fasilitas sekolah vokasi sangat lengkap. Jumlah mahasiswa per kelas dibatasi, sekitar 10-20 orang mahasiswa. Dengan demikian setiap anak benar-benar dapat menggunakan alat-alat praktik secara utuh. Berbeda dengan kelas akademik, dimana materi-materi studi berupa teori, sehingga beberapa kelas besar dapat menampung hingga 100 siswa,” tambah Devie.

Desain ruang-ruang kelas, benar-benar menyerupai kondisi aktual di tempat kerja. Hal ini membuat para lulusannya dipastikan siap kerja di industri. Karena tidak ada jurang antara materi yang diberikan di kampus dengan situasi di industri. Tidak hanya itu, para pengajar di pendidikan Vokasi, juga memiliki kewajiban untuk mengikuti perkembangan di industri, dengan bekerja di industri dalam periode tertentu secara regular.
Program Vokasi Humas, salah satu program studi di Universitas Indonesia, yang terus belajar dan mengembangkan program-program dan kurikulum yang mendekatkan parktik industri dengan studi di kampus.

“Selain memiliki ruangan kelas dan lab yang memadai, semenjak tahun 2018, kami sudah menjalankan kurikulum 3-2-1 secara utuh, dimana para mahasiswa kami sudah praktik di industri semenjak semester 4, 5 dan 6. Mereka berada di industri bukan sebagai mahasiswa magang, tetapi melakukan praktik pekerjaan terkini bersama mentor-mentor industri, yang membuat banyak lulusan vokasi humas sudah diminta untuk bekerja, meskipun belum lulus dari pendidikan Vokasi,” seru Devie

“Sebagaimana di Australia, para pengajar di Pendidikan Vokasi ialah para praktisi professional. Sebut saja Dian Sastrowardoyo, Shanty Harmayn, Sheila Timothy, Dimas Beck, Yoris Sebastian (OMG), Holy Theodore (Google); William Utomo (IDN Media), Michael Tampi (MRA Media), Stevanus Christopel (OVO), Michael Koentjoro (Jenius), Edwin Nazir (Fortuna Sinema), Sandru Emil (Ambilhati), Michael Reza (Gojek), Uun Ainurofiq (Grab), Wisnu Nugrahadi (Sampingan), Edward Tirtanata (Kopi Kenangan), Theresian Rustandi, Ongki Saputra (Traveloka), Wahyu Dhyatmika (Tempo), Aswin Utomo (Tokopedia), Hendrika Gaudens (Microsoft), dan Wahyu Wiwoho (Metro TV),” tutup Devie Rahmawati