Klinik Digital Vokasi Komunikasi UI: Sosialisasi “Berkah dan Bencana” Dunia Digital di Pontianak

//Klinik Digital Vokasi Komunikasi UI: Sosialisasi “Berkah dan Bencana” Dunia Digital di Pontianak

Klinik Digital Vokasi Komunikasi UI: Sosialisasi “Berkah dan Bencana” Dunia Digital di Pontianak

2019-01-08T10:17:09+00:001 bulan yang lalu|

PONTIANAK – Pada 17 Desember 2018, Bertempat di Jambore Foto, PT Taspen dan PT Kemysantra,Klinik Digital Vokasi Komunikasi (Vokom) UI melakukan sosialisasi Literasi Media, Narkoba Digital dan Kejahatan Digital. Pembicara terdiri dari Ketua Program Studi Vokom UI, Dr. Devie Rahmawati,M.Hum.,CPR; Kepala Lab Penyiaran Vokom, Amelita Lusia; Pengajar Praktik Vokom UI, Reska Herlambang; Founder Jambore Foto, Lim Suriady. Klinik Digital Vokom di Pontianak dihadirkan di tiga komunitasyang menghadirkan lebih dari 120 peserta yang terdiri dari Pelajar sma, mahasiswa, ibu rumah tangga, pengusaha, petugas kesehatan, karyawan swasta dan masyarakat umum.

“Kehadiran dunia digital dapat menjadi berkah sekaligus bencana bagi masyarakat umum. Klinik digital ini dimaksudkan untuk mensosialisasikan upaya mengendalikan penyebaran berita tidak benar (hoax), narkoba digital yaitu pornografi, judi dan candu game serta kejahatan digital berupa penipuan penyaluran dana, bullyingdan sebagainya,” ujar Devie Rahmawati, yang pernah menempuh studi di Swansea University, Wales, UK.

“Kegiatan ini sendiri merupakan seri ke 2, 3 dan 4 dari seri pertama klinik digital yang dibuka di Vokasi UI, Depok. Kami akan membuka forum konsultasi, riset dan pendampingan masyarakat untuk mengenali, mengatasi dan mencegah terjadinya bencana digital, yang menggandeng elemen-elemen masyarakat di wilayah masing-masing, seperti sekolah, universitas dan tokoh-tokoh masyarakat” tambah Devie, yang pernah menjadi satu-satunya wakil dari Asia di PR Leadership Forum, San Fransisco, USA.

Ketiga kegiatan sosialiasi digital dibuka oleh Lim Suriady, yang menyampaikan bahwa kerugian akibat penyebaran hoax sudah membawa kerugian moral dan materil di berbagai bidang kehidupan bukan hanya politik, namun juga bisnis, kesehatan dan pendidikan. “Banyak bisnis yang tumbang karena persaingan bisnis, yang menggunakan cara – cara hoax,” tambah Lim, penggerak masyarakat Pontianak.

Kordinator Peminatan Humas Vokom, Amelita Lusia menyampaikan fakta-fakta empiris bahwa saluran penyebaran hoax terbesar melalui sosial media yaitu sebesar 92%, dan isu tertinggi ialah sosial dan politik sebesar 88,60%.

Wahyudin, Kepala Cabang Taspen, juga menyampaikan bahwa di tahun politik ini, para karyawan sangat memerlukan edukasi tentang dunia digital agar para karyawan dapat terus bekerja secara produktif, mengingat siapapun yang terpilih menjadi pemimpin, perusahaan harus tetap berkomitmen melayani masyarakat luas.

Sedangkan, Isnaeni, CEO Kemystra, menyampaikan bahwa masyarakat memang perlu dibantu agar dapat memahami etika komunikasi dan melakukan pelayanan terhadap publik. Seringkali komunikasi yang dilakukan di dunia digital yang serba cepat dan tanpa penyaringan berdampak pada pelayanan yang diberikan oleh industri terhadap masyarakat, yang sering berujung pada konflik antar individu.

Menyikapi kebutuhan situasi tersebut, Vokom melalui Reska Herlambang memberikan pelatihan etika komunikasi di dunia online dan offline. “Kita perlu memiliki empati dan merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain, sebelum menyelesaikan persoalan, agar tidak berkembang menjadi masalah yang merugikan banyak pihak,” ujar Reska yang juga berprofesi sebagai presenter.

“Pontianak diharapakan menjadi salah satu model dari masyarakat yang memiliki literasi digital yang kuat. Mengingat di selepas masa orde baru, karakter konflik yang terjadi bukan lagi konflik vertikal dari negara terhadap rakyat tetapi konflik horizontal antar masyarakat dari mulai tawuran pelajar/mahasiswa, perebutan lahan, konflik SARA, dan lain-lain, yang merugikan secara materil dan non materil seperti korban jiwa,” tutup Devie, yang juga menjadi pembicara workshop Digital Nomad di Chiang Mai, Thailand tahun ini.

 

 

X